Menu

Revisi UU Terorisme Disahkan DPR, Ini Poin-poin yang Berubah

  Dibaca : 302 kali
Revisi UU Terorisme Disahkan DPR, Ini Poin-poin yang Berubah
Anggota DPR RI akhirnya merampungkan dan mengesahkan RUU Terorisme menjadi UU (foto: yoga fb)

indoBRITA, Jakarta – Revisi Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Terorisme akhirnya disetujui dan disahkan menjadi UU dalam Rapat Paripurna, Jumat (25/5/2018). UU yang baru ini diharapkan jadi payung hukum dalam penanganan dan tindak pidana terorisme di Indonesia.

“UU Terorisme ini adalah benteng Pancasila.  Ini juga sebagai upaya untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,” kata Wenny Warouw, anggota Komisi III DPR RI kepada indoBRITA, usai pengesahan RUU Terorisme di Gedung Nusantara DPR RI.

Personil Fraksi Gerindra dari daerah pemilihan Sulut ini mengajak segenap elemen bergandengan tangan membarantas terorisme. “Kita harus bersatu,” kata mantan Wakapolda Bali ini.

Ketua Pansus RUU Terorisme, Muhammad Syafii menyebut ada penambahan substansi atau norma baru untuk menguatkan peraturan dalam UU sebelumnya. “Kita bersyukur akhirnya bisa mengesahkan UU Terorisme ini,” ujarnya.

Sebelumnya, DPR dikritik banyak kalangan karena lambat merampungkan UU Terorisme. Perdebatan soal definisi terorisme ikut mewarnai pembahasan. Butuh waktu yang lama untuk menyepakati definisi terorisme.

Akhirnya definisi yang disepakati itu adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan motif politik, ideologi, atau gangguan keamanan.

Publik memang sangat menantikan UU ini menyusul maraknya aksi teror di antaranya kerusuhan napi teroris di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, pengeboman tiga gereja di Surabaya, penyerangan Mapolresta Surabaya dan Mapolda Riau.  (drl/adm)

Delapan poin penambahan substansi atau norma baru dari revisi UU Terorisme ini (sumber okezone.com):
A. Kriminalisasi baru terhadap berbagai rumus baru tindak pidana terorisme seperti jenis bahan peledak, mengikuti pelatihan militer atau paramiliter atau latihan lain baik di dalam negeri maupun luar negeri dengan maksud melakukan tindak pidana terorisme.

B. Pemberatan sanksi terhadap pelaku tindak pidana terorisme baik permufakatan jahat, persiapan, percobaan dan pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme.

C. Perluasan sanksi pidana terhadap korporasi yang dikenakan kepada pendiri, pemimpin, pengurus, atau orang-orang yang mengarahkan kegiatan korporasi.

D. Penjatuhan pidana tambahan berupa pencabutan hak untuk memiliki paspor dalam jangka waktu tertentu.

E. Keputusan terhadap hukum acara pidana seperti penambahan waktu penangkapan, penahanan, dan perpanjangan penangkapan dan penahanan untuk kepentingan penyidik dan penuntut umum serta penelitian berkas perkara tindak pidana terorisme oleh penuntut umum.

F. Perlindungan korban tindak pidana sebagai bentuk tanggung jawab negara.

G. Pencegahan tindak pidana terorisme dilaksanakan oleh instansi terkait seusai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing yang dikoordinasikan BNPT.

H. Kelembagaan BNPT dan pengawasannya serta peran TNI.

Selain itu, terdapat rumusan fundamental yang strategis dari hasil masukan berbagai anggota Pansus bersama Panja pemerintah.
A. Adanya definisi terorisme agar lingkup kejahatan terorisme dapat diidentifikasi secara jelas sehingga tindak pidana terorisme tidak diidentikkan dengan hal-hal sensitif berupa sentimen terhadap kelompok atau golongan tertentu tapi pada aspek perbuatan kejahatannya.

B. Menghapus sanksi pidana pencabutan status kewarganegaraan. Hal ini dikarenakan sesuai universal declaration of human right 1948 adalah hak bagi setiap orang atas kewarganegaraan dan tidak seorang pun dapat dicabut kewarganegaraannya secara sewenang-wenang atau ditolak haknya untuk mengubah kewarganegaraannya.

C. Menghapus pasal yang dikenal oleh masyarakat sebagai pasal Guantanamo yang menempatkan seseorang sebagai terduga terorisme di tempat atau lokasi tertentu yang tidak dapat di public

D. Menambahkan ketentuan mengenai perlindungan korban tindak pidana terorisme secara komprehensif mulai dari definisi korban, ruang lingkup korban, pemberian hak hak korban yang semula di UU 15/2003 hanya mengatur kompensasi dan restitusi saja. Kini dalam UU Tindak Pidana Terorisme yang baru telah mengatur pemberian hak berupa bantuan medis rehabilitasi psikologis, rehabilitasi psikososial, santunan bagi korban yang meninggal dunia, pemberian restitusi dan pemberian kompensasi.

E. Mengatur pemberian hak bagi korban yang mengalami penderitaan sebelum RUU Tindak Pidana Terorisme ini disahkan. Artinya bagi para korban sejak bom Bali pertama sampai Bom Thamrin.
F. Menambahkan ketentuan pencegahan. Dalam konteks ini, pencegahan terdiri dari kesiapsiagaan nasional kontraradikalisasi dan deradikalisasi.

G. Memasukkan ketentuan bahwa korban terorisme adalah tanggung jawab negara.

H. Melakukan penguatan kelembagaan terhadap BNPT dengan memasukkan tugas, fungsi, dan kewenagan BNPT.

I. Menambah ketentuan mengenai pengawasan yang dibentuk dan terdiri dari anggota DPR.

J. Menambah ketentuan pelibatan TNI yang dalam hal pelaksanaannya akan diatur dalam Peraturan Presiden dalam jangka waktu pembentukannya maksimal 1 tahun setelah UU ini disahkan.

K. Mengubah ketentuan kejahatan politik dalam Pasal 5, di mana mengatur bahwa tindak pidana terorisme dikecualikan dari kejahatan politik yang tidak dapat diekstradisi. Hal ini sesuai ketenuan UU 5/2006 tentang Pengesahan Konvensi Internasional Pemberantasan Pengeboman Oleh Teroris.

L. Menambah pasal yang memberikan sanksi terhadap aparat negara yang melakukan abuse of power.

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional