Menu

Kisah Tragis Jesica, Bocah 10 Tahun Asal Sangihe yang Dibakar Ibu Kandungnya

  Dibaca : 69 kali
Kisah Tragis Jesica, Bocah 10 Tahun Asal Sangihe yang Dibakar Ibu Kandungnya
bocah malang saat disampingi aktivis dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jull Takaliuang.(foto : Ist)

indoBRITA, Sangihe – Jesica Aurelia Gicela, bocah 10 tahun yang menjadi salah satu korban kekejaman dari ibu kandungnya. anak perempuan ini akhirnya menghembuskan nafas terakhir setelah menjalani beberapa bulan pengobatan di RS Liun Kendage Tahuna dan RSUP Kandou Malalayang.

Tepatnya 12 September 2018 sekitar pukul 7.30, Warga Kampung Pintareng Kecamatan Tabukan Selatan Tenggara Sangihe, dihebokan dengan peristiwa terbakarnya seorang anak tak berdosa berusia 10 tahun dia adalah Jesica Aurelia Gicela Mananohas alias Kesi seorang siswi kelas IV SD Pintareng.

Kesi, ditemukan dalam keadaan terbakar di dalam dapur rumah, dengan keterangan saksi Magdalena Bawengeng (70) warga setempat, yang menjelaskan awalnya saksi bersama ibu korban, OS alias Olga, pagi itu hendak memasak makanan. Saat itu OS menanyakan keberadaan pisau dapur kepada anak-anaknya, Kesi (korban) dan DM alias Dev (7). Namun, kedua anaknya mengaku tidak tahu. “Saat itu OS langsung memarahi kedua anaknya,” cerita saksi.

Kemudian, pukul 07.30 WITA saksi Magdalena melihat kedua anak ini hendak mengambil piring untuk makan. Namun dilarang ibunya. OS pun mengambil pelepah kelapa yang sudah kering, dan langsung memukul kedua anak tersebut secara ‘bergiliran’. “Setelah itu, OS mengambil sebuah ember yang berisi minyak tanah dan menyiramkan minyak tersebut kepada kedua anaknya. Saya saat melihat langsung ketakutan sehingga langsung pergi dan duduk di teras rumah. Saat itu Kesi dan Dev saya dengar masih menangis,” tuturnya.

Tak berselang lama, saksi mendengar anak-anak SD berteriak dari arah jalan. Bahwa bocah kelas 4 SD tersebut sedang terbakar di dapur rumah, karena samping dapur rumah korban terlihat jelas dari jalan raya. Saksipun masuk ke dapur dan melihat korban sudah duduk di kursi plastik dan hampir seluruh tubuhnya menderita luka bakar. “Ketika saya sampai, saat itu ibu korban sementara menggosokkan buah tomat ke badan Kesi,” ungkap Magdalena.

Lanjut, sekitar pukul 8.00 WITA, Kapitalaung (kepala desa) Pintareng Rine Tumei datang ke rumah dan membawa korban ke Puskesmas Pintareng. “OS sering menganiaya kedua anaknya apabila sedang marah,” sebutnya.

Sementara itu, menurut saksi Rine Tumei menjelaskan, pukul 8.00 WITA dia mendapat informasi bahwa Kesi terbakar. Dirinya pun langsung bergegas pergi ke rumah korban di Keluarga Limpong-Semet. “Saat masuk ke dapur saya melihat korban dalam keadaan luka bakar hampir di sekujur tubuhnya, saya pun langsung membawa korban ke Puskesmas Pintareng. Setelah beberapa saat di Puskesmas, korban langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Liun Kendage Tahuna. Selanjutnya pukul 11.00 saya pergi ke Polsek Tabukan Selatan untuk melaporkan kejadian ini,” jelas Rinde, kapitalaung.

Baca juga:  Bupati Hadiri Kawin Massal di Efrata Tahuna

Ditambahkan saksi lainnya, Lusye Ansar (63), sekitar pukul 7.30, dia tiba di SD GMIST Sion Pintareng, yang letaknya hanya berhadapan dengan rumah korban. Saksi mendapat info anak Kesi (korban) mengalami kebakaran, saksi pun langsung pergi ke rumah korban dan mendapati korban duduk di kursi plastik di dalam dapur dan sudah menderita luka bakar.

“Saat itu ibu korban sedang berusaha mengobati anaknya dengan cara menggosok buah tomat dan beberapa buah daun ke tubuh korban. Saya sempat menanyakan penyebab terjadinya kebakaran yang menimpa korban kepada ibunya. Namun, ibunya tidak menjawab, beberapa saat kemudian datang kapitalaung dan langsung membawa korban ke Puskesmas,” jelas Ansar.

Namun saat itu pihak puskesmas langsung merujuk Kesi ke RSUD Liun Kendage Tahuna. Perawatan demi perawatan telah dilakukan para medis khususnya ahli bedah dan keluarga korban. Hingga ketika ditemui wartawan pada 16 Oktober pekan lalu keluarga korban menjelaskan sudah ada perubahan pada luka bakarnya karena ada salep burnazin 10 mg khusus luka bakar yang digosok pada luka bakarnya. Pemberian salep tersebut juga sebagian diberikan dari berbagai uluran tangan demi kesembuhan Kesi.

“Kesi sudah ada perubahan dari sebelumnya, biasanya kantong cairan infus yang dipakai untuk memandikannya diperlukan sekitar 6 kantong dan kini tinggal 1,5 kantong. Hanya saja masih terasa sakit dibagian bokongnya karena itu merupakan daerah lembab karena dia kan terus berbaring,” ungkap tante Kesi yang saat ditemui wartawan harian ini sedang menjaga Kesi di ruangan chrysan, ruangan khusus luka di RS Liun Kendage Tahuna.

Dan akhirnya, setelah dilakukan proses penyelidikan oleh pihak penyidik dan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, akhirnya OG yang tak lain ibu kandung korban, ditetapkan sebagai tersangka dan kasusnya ditingkatkan ke sidik.

Baca juga:  Antisipasi Teror, Koordinasi Antar Lembaga Harus Diperkuat

Kapolres Sangihe AKBP Sudung Ferdinan Napitu, melalui Kasat Resrim Iptu Denny Tampenawas membenarkan status Olga telah tersangka.

“Jadi setelah dilakukan proses penyelidikan oleh pihak penyidik dan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, akhirnya OG yang tak lain ibu kandung korban, ditetapkan sebagai tersangka dan kasusnya ditingkatkan ke sidik,” tegas Tampenawas, (10/10/18).

Lanjutnya, dengan dinaikan status Olga sebagai tersangka, tidak serta merta langsung dilakukan penahanan. “Yang pasti, prosesnya terhadap kasus ini masih terus dilakukan. Kalau berbicara sudah ditahan atau tidak, itu belum dilakukan oleh penyidik karena harus menunggu hingga selesai pemeriksaan,” sebutnya.

Namun, tambahnya, jika ada pembuktian yang cukup atau lebih banyak lagi, akan dilakukan penahanan terhadap tersangka.

Setelah menjalani proses perawatan medis di RS Liun Kendage Tahuna selama sebulan lebih hingga pada Kamis (18/10/18), Jesica Aurelia Gicela Mananohas harus dirujuk ke Manado untuk menjalani tahapan penanganan medis.

Disampaikan Direktur Utama (Dirut) RS Liun Kendage Tahuna dr Blessing Ariston Rompis, dirujuk ke Manado untuk penanganan medis terhadap perawatan korban.

“Memang korban dirawat selama beberapa pekan. Untuk tindakan darurat bagi korban sudah ditangani oleh tim medis RS Liun Kendage Tahuna. Kini tindaklanjut perawatannya dirujuk ke RS Manado, untuk penanganan medis lanjutan berupa bedah plastik bagi korban. Kondisi ini dicocokan dengan bagian tubuh korban yang terluka akibat terbakar,” kata Rompis Senin (21/10/18).

Dokter spesialis bedah ini berharap, pemulihan selanjutnya secara bertahap korban bisa menggerakan tangannya, saat dirujuk ke Manado. Bila diperhatikan, kondisi luka bakar yang dialami korban diperkirakan 80 persen. Kondisi seperti ini, diperkirakan sulit mengalami kesembuhan total. Kalaupun sembuh, tentunya itu adalah mujizat Tuhan,” kata dia.

Tepatnya Selasa, (23/10/18) Kesi menghembuskan nafas terakhirnya setelah mendapat rujukan ke Rumah Sakit Manado yang kemudian jenazanya dibawah kembali ke Sangihe dengan menggunakan KM. Venencian Rabu, (24/10/18) dan tiba di pelabuhan Nusantara Tahuna sekitar pukul 04 : 19.

Kamis, (25/10/18) yang dijemputboleh ratusan warga Sangihe dan juga orang nomor satu di Sangihe Jabes Ezar Gaghana, jenazah kemudian langsung dibawah ke kampung pintareng Kecamatan Tabukan Selatan Tenggara untuk dimakamkan.(nty)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional