Menu

Pemilu (Tanpa) Akal Bulus

  Dibaca : 78 kali
Pemilu (Tanpa) Akal Bulus
Donny Lumingas (foto: dok)

Oleh : donny lumingas

(Sekjen Front Nasionalis Soekarnois)

TAK ada lagi parade baliho Calon Legislatif (Caleg) dan Capres Cawapres, pertanda pesta demokrasi rakyat mendekati finis. Masa kampanye telah usai menurut aturan KPU, namun tetap berlanjut dalam senyap bagi kontestan dan tim sukses.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberi waktu tiga hari masa tenang sebagai puncak masa tegang bagi kontestan sebelum tiba pada penentuan nasib di hari pencoblosan.

Pemilu 17 April, dengan payung hukum UU 7 tahun 2017, adalah sejarah baru Bangsa Indonesia. Putusan Mahkamah (MK) nomor 14/PUU XI/2013 hasil judicial reveiew UU nomor 42 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, membuat Pileg dan Pilpres harus digelar serentak.

Sejak reformasi 98, Pemilu 2019 adalah yang ke lima. Dalam pesta demokrasi, kualitas demokrasi suatu negara dapat di katakan baik bila mampu melaksanakan Pemilu lima kali berturut-turut dengan baik.

Pemilu tidak sekedar pesta lima tahunan, bukan musim jual janji, atau jadi sinterklas apalagi musim saling fitnah. Pemilu adalah tangga naik menuju Indonesia Adil dan Makmur dalam balutan Merah Putih, di bawah kepakan sayap Garuda Pancasila dan sanubari NKRI. Pemilu juga sebagai salah-satu tolak ukur keberhasilan sistem demokrasi suatu negara.

Merujuk tema KPU, Pemilu Bermartabat, menunjukkan ada kehendak akal sehat menjadikan Pemilu lebih baik, lebih jujur, lebih adil , lebih bebas dan rahasia. Sayang di medan kompetisi, saat dan jauh sebelum kampanye di gelar, akal sehat tidak lagi mendominasi pikiran dan tindakan.

Berbagai kontroversi muncul, diantaranya polemik kotak suara dari kardus dan orang gila dalam kategori khusus diperbolehkan memilih. Tragisnya martabat manusia di rendahkan menjadi cebong dan kampret, seperti revolusi mental Presiden Jokowi masih jauh dari harapan.

Atmosfir Pileg dan Pilpres tidak merata. Di wilayah Jawa, sebagian Sumatera aroma Pilpres mendominasi, di daerah pemilihan dengan jumlah pemilih yang tidak begitu banyak, aroma persaingan Pileg lebih terasa, terutama untuk DPRD Kabupaten dan Kota.

Pemilu serentak adalah sejarah baru, tapi Pemilu Bermartabat belum akan menciptakan sejarah baru. Lihat “serangan fajar” Rp 8 miliar pada 400 ribu amplop yang kena operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Caleg Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso. Badan Pengawas Pemilu kalah gesit di banding KPK. Dalam kesaksiannya Bowo menyebut ada oknum menteri yang terlibat, lalu Nusron Wahid rekan satu Dapilnya di sebut juga menyiapkan 600 ribu amplop, namun ucapan ini masih perlu pembuktian dalam persidangan.

OTT KPK terhadap Bowo Sidik bisa menjadi gambaran nyata dominasi praktek demokrasi transaksional lewat money politic  dan tidak mementingkan pendidikan politik kepada rakyat. Pasti Bowo Sidik bukan satu-satunya, bisa jadi ada ribuan Caleg lain akan, sedang dan sudah melakukan serangan fajar siang atau sore hari dengan jurus yang berbeda. Serangan fajar seolah seperti judul lagu “benci tapi rindu”.

Cara lama juga dalam merebut hati konstituen dalam Pileg masih mendominasi. Para caleg berlomba pameran baliho. Pasang foto dengan tampang paling ganteng dan cantik, yang dewasa mau tampil muda, yang ABG ingin kelihatan dewasa. Lucunya mereka juga berlomba visi misi seolah mau ikut Pilkada. Harusnya yang di tampilkan adalah visi misi partai, serta tiga fungsi wakil rakyat yaitu legislasi, anggaran dan pengawasan.

Tidak selesai di situ, publik juga dikagetkan berita surat suara yang sudah di coblos di Selangor Malaysia. Kekagetan publik masih berlanjut dengan ucapan Ketua KPU yang mengatakan itu adalah hal biasa. Tantangan atas Pemilu Bermartabat masih berlanjut dengan di beberapa tempat pada pelaksanaan Pemilu Luar Negeri  seperti, Sidney, Singapura, Berlin, Arab Saudi, Hongkong dan Jepang.

Tantangan Pemilu Indonesia belum jauh dari politik uang, profesionalitas penyenggara, keadilan hukum, kecurangan dan intimidasi serta netralitas oknum penguasa. Rakyat butuh sikap negarawan dari elit Penguasa, Partai Politik dan tokoh agama serta  tokoh masyarakat. Merebaknya fitnah, hoax dan ujaran kebencian tidak bisa terus menghiasi Pesta Demokrasi Rakyat. Karena itu akan menjadi bibit perpecahan dan pertikaian.

Kini dalam hitungan jam ke depan rakyat akan segera tahu siapa pemimpin Indonesia untuk 5 tahun ke depan, Jokowi-Ma’aruf atau Prabowo-Sandi, dan siapa saja yang menjadi Wakil Rakyat di legislatif. Tidak menutup kemungkinan juga dalam hitungan hari publik akan mendengar Caleg yang stres karena tidak terpilih.

Harapan besar adalah rakyat bisa menentukan apakah 2019 menjadi sejarah kemenangan Pemilu akal sehat, atau dominan sebagai Pemilu yang penuh akal bulus. Memilih dengan akal sehat, tinggalkan akal bulus dan tetap dalam persatuan untuk Indonesia Raya.***

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional