Setia dalam Perkara Kecil

  • Whatsapp
Edison Humiang (foto: edison fb)

indoBRITA, Manado-Menduduki jabatan strategis kemudian non job, lalu diberi kepercayaan lagi menempati salah satu posisi vital merupakan lika-liku perjalanan karier birokrat hebat nan merakyat ini. Ya, pasca diganti sebagai Sekretaris Daerah Kota (Sekdakot) Bitung, Edison Humiang sempat non job.

Ketika itu kariernya di birokrasi dianggap sudah tamat. Pria berpenampilan tenang ini disebut bagian dari masa lalu pemerintahan Hanny Sondakh. Karena bagian dari masa lalu, Humiang dinilai bukan figur tepat untuk tetap duduk di kursi Sekdakot. Ia ‘korban politik’ pasca Pilwako di Kota Cakalang.

Bacaan Lainnya

Ia terpaksa lengser. Kala itu tak sedikit ASN yang mempertanyakan pergantian Humiang. Pun sejumlah kalangan yang mengaku terkejut dengan pergantian tersebut.

Maklum, ia menghadirkan sederet prestasi untuk Bitung selama menjabat Sekdakot di daerah yang menjadi pusat dermaga Sulut tersebut. Namun, keputusan sudah terlanjur dibuat. Posisi Humiang sudah beralih ke pejabat lainnya.

Lengser dari jabatannya, Humiang  tetap semangat. Ia sama sekali tak mengeluh dan tetap berkantor seperti biasanya. Seperti air yang mengalir, birokrat low profile berusaha untuk mengikuti alur saja.

Baca juga:  FNR Siap Bawa Aspirasi Warga Untuk Masa Depan Lebih Baik
Edison Humiang dan keluarga (foto: edison fb)

Semangat dan loyalitasnya itu menjadi pertimbangan Gubernur Sulut, Olly Dondokambey untuk menariknya ke provinsi. Ia pun diserahi tugas memimpin Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut.

Di bawah kepemimpinannya, Satpol PP lebih humanis, namun tetap disegani. Gambaran Satpol PP sebagai tukang gebuk, seram dan menakutkan ia kikis melalui dialog dan pendekatan dari hati-hati.

“Pak Kasatpol PP (Edison Humiang, red) bijak dan tegas. Ia seperti orang tua bagi kami,” ujar salah satu anggota Satpol PP kepada wartawan di Manado, Senin (16/10/2017) saat ditanya tentang sosok Edison Humiang.

Humiang memang bijak. Ia mengarahkan bawahannya selalu berpegang pada aturan saat melakukan penertiban di lapangan.

“Utamakan dialog dan tunjukkan aturan kepada warga. Kalau pun akan ada penertiban, sebelumnya ada peringatan terlebih dahulu. Jika memang tetap tak mau tunduk pada aturan, baru diambil tindakan. Aturan itu adalah payungnya,” ucapnya.

Dalam konteks pelaksanaan tugas di lapangan, birokrat senior ini juga melakukan pertemuan dengan seluruh Satpol PP kabupaten dam kota se-Provinsi Sulut. Menurut dia, tugas Satpol PP harus dipahami dengan baik serta harus diikuti dengan action di lapangan dengan pola terpatrih dan disiplin sebagai kunci meraih sukses.

Baca juga:  Pertahankan Budaya Tonsea, SS dan RML Bertemu Dalam Satu Tujuan

“Satpol PP itu harus siap setiap waktu untuk tugas penegakan Perda di lapangan. Penegakkan nantinya akan dilakukan semisal kawasan yang tak sesuai peruntukkan lingkungan dan penertipan pedagang karena kalau tidak ditertibkan akan berimplikasi dengan bidang tugas lainnya sehingga menganggu pemerintahan, perekonomian dan kenyamanan masyarakat,” ujarnya.

Humiang mengakui kerap ada riak-riak di lapangan. Namun, ia bersyukur selama ini instansi yang dipimpinnya bisa menjalankan tugas dengan baik.

Keberhasilannya memimpin Satpol PP itu berbuah penghargaan dari Forum Pemantau Kinerja Pemerintahan (FPKP) Sulut. Organanisasi ini mendapuk Satpol PP Provinsi sebagai SKPD terbaik dan Edison Humiang sebagai salah satu kepala SKPD terbaik untuk enam bulan terakhir.

“Ia sukses mengubah citra Satpol PP menjadi lebih humanis, namun tetap disegani. Semua penertiban yang dilakukan berjalan baik,” ungkap Stenly Pascoal, Wakil Ketua FPKP Sulut.

Humiang sendiri mengaku tak mengetahuinya adanya penghargaan. Ia hanya ingin fokus terhadap tugas dan amanat yang diberikan kepadanya. “Saya percaya bila kita setia dalam perkara kecil maka Tuhan akan mempercayakan perkara yang lebih besar kepada kita,” ujar Humiang. (*/hng/adm)

 

 

 

Pos terkait