Menu

Kontribusi Perempuan di DPR Belum Penuhi Harapan

  Dibaca : 249 kali
Kontribusi Perempuan di DPR Belum Penuhi Harapan
Ferry Daud Liando (foto : Ist)

indoBRITA, Bitung- Pemkot Bitung menggelar sosialisasi kebijakan peningkatan peran dan posisi perempuan dibidang politik dan jabatan publik di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kantor Walikota Bitung dan dibuka secara resmi oleh Walikota Max Lomban, Senin (13/11/17).

Dalam sambutannya, walikota menekankan pentingnya sosialisasi ini untuk memberikan pemahaman kepada para perempuan bahwa untuk terjun ke dunia politik butuh skill atau kemampuan.

Pemerhati politik yang juga Dosen FISIP Unsrat Ferry Daud Liando yang memberikan materi, menjelaskan Pemerintah sangat membutuhkan kontribusi perempuan dalam mempengaruhi kebijakan- kebijakan politik.

Oleh karena itu dalam Undang-undang nomor 7 Tahun 2017 tentang pemilu dijelaskan soal ketentuan kepengurusan dan jumlah caleg yang diusung parpol.
Kedua hal itu lanjut Liando, harus memenuhi 30 persen keterwakilan perempuan.

Baca juga:  Sepuluh Pejabat Pemkot Bitung Absen Dalam Rapat Pansus I 

“Namun dengan adanya kebijakan Afirmatif Action kontribusi politik perempuan terutama di DPRD dinilai belum optimal,” terangnya.

Kendati jumlah perempuan di DPRD terus meningkat setiap kali ada pelaksanaan Pemilu, namun, Liando menjelaskan, kontribusi politik perempuan dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan publik belum memenuhi harapan sebagaimana yang menjadi tujuan diterapkan avirmatif action.

“Kepentingan perempuan belum banyak diperjuangkan para politisi perempuan di DPRD. Kebanyakan yang diperjuangkan adalah tema-tema yang sifatnya umum yang juga sama diperjuangkan oleh politisi pria. Perjuangan mengatasnamakan identitas perempuan belum begitu menonjol dalam sebuah produk kebijakan atau program yang diusulkan ke eksekutif,” paparnya.

Baca juga:  Bansos Sembako Terus Disalurkan, Walikota Bitung Isyaratkan Bakal Ada Gelombang Kedua

Fakta ini menurut dia, terbukti dengan belum peka dan terlatihnya para politisi perempuan ini dalam memahami isu-isu publik perempuan sebagaimana yang diperjuangkan oleh para aktivis perempuan selama ini.

“Salah satu penyebab adalah tidak selektifnya para elit partai politik dalam memilih calon anggota legislatif. Banyak perempuan aktivis perempuan yang selama ini berjuang membela kepentingan perempuan namun tidak diberi kesempatan oleh parpol untuk diusung sebagai Caleg. Kebanyakan perempuan yang diusulkan adalah para perempuan keluarga dekat pejabat. Padahal tidak semua dari mereka memiliki kepekaan terhadap isu-isu dan perjuangan perempuan,” tutupnya.(yet)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional