Restorasi Italia dan Potensi Laten Swedia

  • Whatsapp
Emon Kex Mudami

Catatan Emon ‘Kex’ Mudami

KEGAGALAN terakhir Italia ke Pentas Piala Dunia tercatat hampir 60 tahun silam, ketika edisi Piala Dunia 1958 digelar justru di negara yang saat ini menghentikan laju Italia : Swedia.

Bacaan Lainnya

Negara ini seperti menjadi catatan kusam bagi Italia, 58 tahun silam Italia gagal ke Piala Dunia, saat ivent empat tahunan itu digelar di mana Swedia menjadi tuan rumah pelaksana.

Jelas ketika subuh tadi Swedia mengubur langkah Italia, segala sesuatu bukanlah kebetulan. Di situ ada alur sejarah yang berkeriap, hendak menandaskan walau tak sekuat skuad 1958, namun Swedia memilik potensi laten yang bisa meledak setiap saat. Korban pertama mereka : Italia.

Pentas PD 1958, seperti menapaktilasi sebuah catatan fenomenal yang pernah dimiliki Swedia, capaian kala menjadi tuan rumah boleh dikata salah satu prestasi terbaik Swedia. Di edisi itu, Swedia mencapai final dan berhadapan dengan salah satu calon negara adidaya Brasil. Tercatat di ivent ini Brasil menancapkan kukuknya sebagai negara yang superior.

Embrio keemasan Brasil sudah diawali pada 1950, Brasil sudah berhasil menembus final Piala Dunia sebelum dikalahkan secara tragis oleh Uruguay di kandangnya sendiri di Stadion Maracana. Berikutnya, saat Piala Dunia 1954 digelar di Swiss, Brasil kandas lebih dini di perempatfinal oleh The Greatest Hongaria dengan skor telak 2-4.

Baca juga:  Pilpres Digelar 2018, Jokowi Pasti Menang. 2019..?

Di Piala Dunia yang digelar di Swedia kali inilah Brasil akhirnya mulai menancapkan kuku dominasinya. Mereka datang dengan skuad yang kekuatannya amat lengkap. Mereka bukan hanya diperkuat oleh pemain muda yang baru berusia 17 tahun kelak akan mengguncang dunia, Pele, tapi juga diperkuat si flamboyan nan hedonis Garrincha, Mario Zagallo, sampai pengatur serangan brilian pada sosok Didi.

Skuad yang membuat banyak orang, termasuk maestro Brazil lain yang sedihnya gagal meraih gelar Piala Dunia, Zico, sampai menyebutnya sebagai kesebelasan terbaik sepanjang masa.

Lalu di mana Swedia dalam putaran hegemonik Latin itu, 1958 adalah tonggak monumental mereka. Di ivent yang juga mencatat kegagalan Italia masuk sebagai partisipan itu, Swedia tak hanya bermodalkan tuah tuan rumah.

Beberapa referensi jelas merujuk fakta : tuan rumah Swedia memiliki skuad yang kualitasnya mungkin hanya(sekali lagi “hanya”]) bisa didekati oleh skuad mereka di Piala Dunia 1994. Mereka sayangnya tidak diperkuat oleh Gunnar Nordahl, satu dari trio Gre-No-Li yang berkibar di Italia bersama AC Milan. Gre-No-Li adalah akronim untuk Gunnar Gren, Gunnar Nordahl dan Nils Liedholm.

Boleh jadi kematangan Swedia 58 tak lepas dari energi timnas saat meraih medali emas sepakbola di Olimpiade 1948. Itulah ajang akbar sepakbola level dunia yang pertama kali digelar lagi setelah dua Piala Dunia (1942 dan 1946) harus dibatalkan karena Perang Dunia II.

Hanya karena generasi emas Brasil jauh lebih mengkilap, dengan dua penyerang bertalenta tinggi Pelé dan Garrincha, Brazil mengalahkan Swedia 5-2 di Final di Stadion Rasunda untuk menjadi tim pertama yang mengangkat trofi di benua yang berbeda.

Baca juga:  Meresapi Dialog Film Rules of Engagement

Kini lepas dari sejumlah pengandaian, PD 2018 tak manis tanpa Italia, kesan ini tak sepenuhnya menjadi linier saat memperhadapkan pada tuntutan prinsipal sepakbola modern kekinian : kualitas. Putaran final PD yang diisi oleh kontestasi 32 tim, adalah muara terakhir yang diputar dari sebuah hulu kompetisi di 5 benua, kemudian masih melewati lagi saringan terakhir kualifikasi sebagaimana fase yang merontokkan Italia.

Putaran Final PD, bukan lagi kontes masa lalu dan sekadar bargaining kekuatan selaku tim yang pernah juara. Puraran final ini adalah koagulasi kekuatan ultra komprehensif : teknis dan non teknis bersenyawa. Dua anasir yang di beberapa edisi Piala Dunia dan Piala Eropa tak dipunyai Italia.

Yah, Italia harus berbenah secepatnya, melakukan restorasi fundamental pada sisi-sisi mekanistik dan sistem. Putaran Liga Calcio yang kehilangan determinasi banding Liga Spanyol, Inggris atau Jerman, harus disegarkan lagi, paling utama bebas dari cengkeraman mafia pertandingan dan berbagai intrik yang kian memerosok Italia pada kubangan kelam cepaian selepas era Maldini-Totti-Del Piero dan lainnya.

Tanpa perubahan mendasar, Italia hanya dapat mendekati elit sepakbola faktual dengan lembaran-lembaran masa lalu. Dan para fans Italia terpasung pada memori-memori indah, mengenang kedigjayaan Italia di masa lampau belaka.

(so cukup catatan ringkas yang ditulis mengandalkan memori menyukai Italia sejak edisi Piala Dunia 86 Mexico, Bergomi, Ancelotti,Altobelli dkk. (Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Aspirasi Rakyat, Tinggal di Bitung)

Pos terkait