Kiprah Brilian sang Pianis Andal

  • Whatsapp
Danny 'Deson' Sondakh memimpin rapat di DPRD Manado(foto: ist)

PERJALANAN Danny ‘Deson’ Sondakh di panggung politik ibarat konser seorang pianis andal dalam durasi lama, namun tidak membosankan. Sebagai pengiring atau pianis, ia yang menekan tuts demi tuts.

Nadanya bisa pelan, namun seketika bisa menjadi tinggi atau melompat ke oktaf di atasnya. Temponya bisa cepat, bisa lambat dan bisa berirama rege atau disko. Tuts-tuts itu ditekan mengikuti alunan lagu yang didendangkan penyanyinya.

Bacaan Lainnya
Danny Sondakh (foto: ist)

Terkadang pelan, namun seketika bisa menjadi tinggi atau melompat ke oktaf di atasnya. Temponya bisa cepat, bisa lambat dan bisa berirama rege atau disko.  Tust-tuts itu ditekan mengikuti alunan lagu yang didendangkan penyanyinya.

Sukses tidaknya suatu konser, meriah tidaknya sambutan penonton terhadap performa seorang penyanyi sangat banyak dipengaruhi oleh nada-nada dari tuts-tuts piano yang dimainkan sang pianis.

Di panggung politik, nada-nada itulah Deson. Pianisnya juga dia. Suami Michita Walakandouw ini sudah berkonser kurang lebih 13 tahun.

Sebagai pianis kawakan, Deson begitu terampil menekan tuts demi tuts. Ia tak pernah salah memilih nada sehingga konser bertajuk mengawal aspirasi rakyat di gedung Tikala itu terlaksana sesuai harapan.  Dia salah satu roh dari konser panjang yang berlangsung di rumah rakyat itu.

Baca juga:  Benny Parasan: Kinerja Dirut PD Pasar Manado sudah sesuai dengan protap

“Ia membangun komunikasi lintas batas, merangkul kawan dan lawan untuk bersama mengawal kebijakan pembangunan. Karena itu Deson bersama partai dan Fraksi Golkar dalam berbagai hal  seperti lebih dominan. Tapi, semua menerima perannya itu karena tahu misi yang diperjuangkan adalah kepentingan warga Manado,” kata Adolf Budiak, kader Partai Golkar Manado.

Danny Sondakh dan Sek Golkar Manado saat mendaftarkan partainya di KPU Manado (foto: ewa/ibc)

Bagi Adolf,  Deson  merupakan politisi tiada duanya di Manado. “Sulit diterka tuts-tuts apa yang dia akan tekan. Setelah konser, baru penonton tahu dan menyadari betapa piawainya seorang Deson menekankan tuts demi tuts,” kata Adolf  lagi.

Ya, Deson memang politisi cerdas. Wakil Ketua DPRD Manado ini mampu mengatur ritme dan langkahnya di panggung politik dengan baik.

Ia tahu kapan menekan tuts dengan keras dan saat apa menyentuhnya dengan lembut. Kemampuan dan kepandiannya tersebut membuat Deson bisa melewati berbagai rintangan yang menghadang.

Kala kepemimpinannya di tubuh DPD Golkar Manado digoyang dengan turunnya SK Plt Ketua untuk Yongkie Limen dari DPD Sulut,  mantan Ketua Senat FISIP Unsrat ini tetap tenang. Terlihat seperti menyerah dan pasrah, tapi kemudian semua menjadi tercengang saat SK Plt itu dimentahkan kembali di tingkat pusat.

Deson melalui orang terdekatnya rupanya sudah mengantisipasi gerakan yang mau menggoyang kepemimpinanya itu. Strategi counter attack Deson dan orang terdekatnya menyudahi perlawanan itu.

Baca juga:  Kekuatan Ide dan Pengabdian tanpa Batas Seorang Lily Walandha

Deson kembali memimpin DPD Golkar Manado. Instingnya memilih nada untuk Picaleg 2019 dan Pilwako berikutnya dinanti banyak kalangan.

Satu catatan penting adalah ia belum pernah alih peran. Puluhan tahun  ia melakoni peran sebagai pianis. Sementara penonton menginginkan Deson sesekali menjadi penyanyi.

Artinya warga, khususnya kader Golkar dan konstituennya di Manado mau penggemar olahraga beladiri ini mencoba peruntungan sebagai top eksekutif. Pilwako 2021 menjadi kesempatan terbaik Deson menjawab harapan ribuan konsituennya tersebut.

“Deson harus menghilangkan perasaan kurang nyaman melangkah bila ada rekannya yang maju di ajang Pilkada atau Pilwako. Ia harus mempertimbangkan suara pendukungnya juga,” kata pengamat politik dan pemerintahan, Adri Muthalib.

Pria asal Tondano ini menilai Deson bisa membuat peta dan persaingan politk berubah di Pilwako Manado nanti. Ia juga beranggapan Deson pantas diusung pada pesta perhelatan demokrasi terbesar di ibu kota Provinsi Sulut tiga tahun depan.

“Deson itu visioner. Ia juga rajin mengupgrade diri melalui berbagai diskusi, membaca dan sharing dengan senior dan semua elemen,” ungkap Adri.

Lantas apa tanggapan Deson? Mantan Ketua AMPI Sulut ini memilih tetap merendah. “Saya bersyukur atas penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Saya percaya pula. Tuhan memampukan saiya menjalankan tugas dengan baik,” kata Deson. (jil/adm)

 

Pos terkait