Nestapa Olahraga dan Persbit yang ‘Kesepian’

  • Whatsapp
Emon Kex Mudami (foto: ist)

Catatan by Emon ‘Kex’ Mudami,

KASAK-KUSUK itu sudah saya ikuti sepotong-potong melalui status beberapa orang di medsos, yang menginformasikan gelagapannya tim sepakbola Persbit Bitung -wakil Sulawesi Utara- mengurus keberangkatan mereka ke Jateng. Pada tahapan ini, dengan mudah terlihat dalam konteks umum, olahraga -prestasi- di negeri ini belum menjadi prioritas utama.
(Tadi pagi saya mengontak salah seorang pengurus sepakbola Sulut, sebut saja begitu, dia tengah ada di Jawa dalam perjalanan pulang ke Manado, dia memberi beberapa informasi berkait gumul Persbit, menurutnya kondisi ini sempat terbahas di pusat, salah satu dampak jika tak ikut maka akan turun sanksi).
Kembali pada bahasan, sementara pasti juga pihak eksekutif atau tuan-tuan legislatif tahu benar bahwa mereka (baca : tim), tak membawa nama pribadi, -meski tak lepas tetap contoh umum selama ini ada-ada saja yang bermanuver mencari panggung, namun itu dalam skala kecil, – bahwa mereka sebagaimana status yang mewadahinya jelas membawa nama daerah, mengharumkan Bitung bahkan Sulut, kira-kira begitu Pak Gubernur Olly Dondokambey, SE.
Lalu di mana missing-linknya ?. Tulisan ini berusaha semaksimal mungkin tak menjadi ‘pengkotbah’ atau penghakim bagi yang berkompeten, secara lebih spesifik bagi case Persbit Btung, logika sederhana pasti top eksekutif Pemkot Bitung lebih mahfum dan sadar dari saya untuk dua hal prinsipal, Pertama: betapa pentingnya memperjuangkan marwah sebuah tim yang sudah mengantongi status juara se-Sulawesi Utara, dan mewakili provinsi ini ke zona selanjutnya di Pulau Jawa, Kedua : betapa riskannya dampak jika kemudian tim ini gagal difasilitasi ke depan, sebagian ekses respon bias itu tertulis di sejumlah pesan dan status yang digelar mereka Jumat pagi di ruas jalan kota Bitung, ungkapan RIP Persbit yang diunggah di medsos jam-jam ini bagian dari ekspetasi yang kontraproduktif dengan semangat memajukan Bitung saat ini.
Hal yang lebih detil dan teknis saya tak masuk terlampau jauh, saya tetap meletakan ‘kesepian’ Persbit Bitung di tengah euforia kegiatan memanggungkan kota ini beberapa bulan terakhir ini melalui sejumlah kegiatan yang wah, sebagai fenomena puncak gunung bawah laut dan corak problematikanya tetap sama : romantisme minimnya perhatian di bidang olahraga yang bertalian linier dengan minimnya perhatian, program, dana, afirmasi aksi dan lain-lain.Perlu ditambahkan hasil komunikasi dengan Wakil Walikota Bitung Maurits Mantiri, bahwa pengurus Cabor juga harus lebih kreatif memberdayakan cabang, terlepas dari tanggung-jawab normatif Pemda.
Saya berharap Persbit Bitung tetap tertolong dan dapat tampil membawa nama Sulut di Pulau Jawa. Tim ini punya kemampuan yang baik dan bisa bersaing.
Ke depan untuk jangka pendek, saatnya semua Pemda plus Pemprov memberi ruang penggarapan yang lebih sistemik lagi untuk sektor/bidang olahraga, terutama meminjam bahasa mantan Ketua KONI Bapak Jimmy Imba Rogi, memberi prioritas cabang yang jadi primadona dan pendulang prestasi bagi Sulut. (Penulis adalah Pemred Harian Aspirasi/Pemerhati Olahraga Sulut)

Baca juga:  Kaloh Didapuk Pimpin ID42NER Sulut

Pos terkait