FGD Komunitas Lentera, Jerry Walo Diminta Pulang Mengabdi di Tanah Leluhur

  • Whatsapp
Jerry Walo (foto: ist)

indoBRITA, Jakarta- Geliat pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak tahun 2018 di Sulawesi Utara (Sulut), tidak luput dari warga Sulut di Jakarta. Hal itu terlihat dalam diskusi terbatas yang diprakarsai Komunitas Lentera, Selasa (19/12/2017) di kawasan Menteng Jakarta Pusat.

Secara bergantian para aktivis muda Sulut yang sukses menjadi pimpinan nasional organisasi mahasiswa dan pemuda seperti Rodli Kaelani (mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia),  Emanuel Tular (mantan Ketua Presidium Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), Rachel Tuerah (Wakil Ketua Pengurus Pusat Pemuda Katolik) dan Novita Umboh (Pengurus Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia), secara bergantian menyampaikan pikiran kritis mereka tentang kekurangan dan kelebihan pelaksanaan Pilkada serentak. Pembina Komunitas Lentera, Ricky Mewengkang juga banyak memberi masukan.

Bacaan Lainnya
Rodli Kaelani (foto: ist)

Rodli dan Emanuel  berpandangan harapan ideal sesuai napas undang-undang tentang pilkada serentak masih jauh dari sasaran.

Sistem rekrutmen calon pemimpin, gaya politik instan dan budaya transaksional yang masih mengemuka adalah salah satu penyebab.

“Harus ada komitmen bersama dan sungguh-sungguh dilaksanakan antara partai politik, kandidat dan konstituen,” ujar Rodli.

Baca juga:  KPU Sulut Pantau Proses Pelipatan Surat Suara di Bitung
Emanuel Tular (foto: ist)

Sedangkan Emanuel melihat aturan (undang-undang) sebaik apapun tidak akan berdampak positif bila tidak di ikuti dengan niat baik untuk menjalankan dan mentaatinya.

Sementara Novita dan Rachel lebih menyorot tentang kualitas demokrasi yang banyak di manfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu  dengan memakai isyu SARA. “Pengalaman Pilkada DKI Jakarta jangan sampai merembet ke daerah lain, termasuk Sulawesi Utara, “tandas Novita Umboh yang juga tenaga ahli badan anggaran DPR RI.

Rachel Tuerah (foto: ist)

Rachel Tuerah lebih menekankan soal etika dan bagaimana menjadikan Pilkada serentak sebagai ajang untuk memperkuat keberagaman bangsa.

Menarik dalam diskusi tersebut muncul beberapa nama kader muda Sulawasi Utara yang di nilai penting diperjuangkan maju di eksekutif dan legislatif dan maupun Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Rodli Kaelani dan Emanuel Tular dinilai ke depan perlu didorong lagi maju ke Senayan, DPR RI dan DPD. Lalu Novita Umboh dan Rachel Tuerah di DPRD Provinsi.

“Tidak ada salahnya kader muda yang punya kualitas dan komitmen serta pengalaman organisasi yang mumpuni kita perjuangkan. Kawan-kawan ini ini seperti Bung Rodli, Bung Emanuel dan Novita memang pernah mencoba, tapi jangan lantas patah semangat karena belum berhasil, negara ini butuh orang-orang baik “ujar Nelson Sinta.

Baca juga:  KPU Gelar FGD, Mewoh Sebut PAW di Beberapa Daerah Perlu Diluruskan
Novita Umboh (foto: ist)

Secara khusus juga di sorot adalah Jerry Wallo putra Sitaro yang kini menempati posisi strategis di Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri). Jerry di minta untuk pulang mengabdi bagi tanah leluhurnya.

“Bung Jerry harus siap bila kelak sejarah menghendaki untuk mengabdi di tanah leluhur, “ujar  Irwan Lalegit alummi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Hal yang sama juga di katakan Oktavianus Rasubala dan Widy Sailendra. Menurut mereka bahkan Jerry Wallo saat ini sudah perlu terjun di Pilkada 2018.

“Orang seperti Bung Jerry di butuhkan untuk membangun daerah. Bicara pengalaman birokrasi pasti sudah banyak. Kalau partai jeli nama beliau harusnya sudah masuk radar, “tandas Okta dan Widy pengacara muda di Jakarta.

Donny Lumingas Koordinator Komunitas Lentera yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Study Gotong Royong mengatakan selain melakukan kajian-kajian terhadap problem kebangsaan dan demokrasi, mereka juga konsisten mendorong potensi generasi muda bangsa termasuk dari Sulut untuk tampil sebagai pimpinan, baik eksekutif maupun legislatif.

Diskusi yang berlangsung menarik dan kritis itu akhirnya di sepakati akan di gelar periodik. “Ini diskusi tidak hanya menarik, tapi produktif. Saya kira diskusi seperti ini jauh lebih efektif, ” tandas Johnny Sitorus moderator  sambil menutup diskusi. (drl).

Pos terkait