Vonis Pidana Oknum Dosen Unsrat Ditunda 10 Januari

  • Whatsapp
PN Manado foto (ist)

IndoBRITA, Manado—Vonis In Absentia terhadap perkara pidana oknum Dosen Unsrat, DS alias Devy kian menguat. Kamis (04/01/2018),  Majelis Hakim yang diketuai Vincentius Banar telah mengeluarkan penetapan.

“Penetapan untuk pembacaan putusan sudah dibuat, agendanya hari Rabu (tanggal 10-red),” terang Banar.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut, dirinya menegaskan kalau pada sidang nanti, terdakwa atau jaksa tidak hadir, Majelis Hakim akan tetap menuntaskan perkara dengan memutuskan apakah terdakwa Devy bersalah atau tidak.

Seperti diketahui, untuk ketiga kalinya, sidang agenda vonis berkas perkara Devy harus mengalami penundaan. Dan kemarin, sidang tertunda karena terdakwa dan jaksa tidak hadir. Namun, fenomena itu ke depan tak akan menghambat laju Majelis Hakim menuntaskan perkara ini. Mengingat, penetapan agenda putusan telah dibuat. Dan tinggal dibacakan putusannya pekan depan.

Baca juga:  Saksi Sebut Bupati Minut dan Mantan Kapolresta Manado Hadir dalam Pembahasan Pengajuan Proposal Pemecah Ombak

Sementara itu, melalui pemberitaan sebelumnya, terdakwa Devy diketahui harus menjalani proses peradilan di PN Manado, karena telah didakwa bersalah oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dimana, terdakwa dituding telah melalukan tindak pidana dengan mengunggah foto ke facebook, yang memperlihatkan hasil berburu satwa liar yang dilindungi. Menurut dakwaan JPU, foto tersebut diunggah terdakwa pada tanggal 19 Desember 2014.

Unggahan foto tersebut, akhirnya memicu protes dari berbagai kalangan. Dan ikut disikapi pihak Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut pada tanggal 24 Desember 2014, dengan melaporkan terdakwa ke Polda Sulut.

Baca juga:  Ketua PT Manado Lantik 22 Advokat Peradi

Menariknya lagi, dalam proses pemeriksaan dan fakta persidangan terkuak kalau dalam foto yang diunggah terdakwa, selain dua ekor Yaki yang dipegang, tampak juga dua ekor Kus-Kus Sulawesi tergeletak di lantai tepat di bawah tiga senapan angin.

Atas pelanggaran tersebut, JPU pada sidang lalu, telah mengajukan tuntutan pidana 4 tahun penjara. Sementara, pihak Penasehat Hukum terdakwa yang tidak terima dengan tuntutan JPU, telah mengajukan pledoi alias nota pembelaan. Dan kini tinggal Majelis Hakim yang memutuskan, apakah terdakwa bersalah atau tidak.(hng)

Pos terkait