Calon Tunggal di Pilkada, Cerminan Parpol Miskin Kader

  • Whatsapp
Johnny Alexander Suak (foto: johny Alexander fb/ist)

Catatan Johny Alexander Suak

TERDAFTARNYA calon tungal di Pilkada Mitra Sulut JS Oke pada hari kemarin 8 Januari 2018 di KPU Mutra yang merupakan petahana dan Bupati Minahasa Tenggara dinilai sebagai kemunduran berpolitik dan berdemokrasi. Ini cerminan Partai Politik (Parpol) di Minahasa Tenggara miskin kader.

Fenomena ini menunjukkan bahwa partai politik belum mampu menyiapkan kadernya dalam mengikuti kontestasi politik di Kabupaten Mitra. Demokrasi seperti ini tidak sehat. Elite politik kita belum siap berkompetisi dan belum siap untuk kalah.

Kondisi seperti ini justru tidak memberikan pendidikan politik yang baik untuk warga Minahasa Tenggara. Elite partai politik dinilai menunjukkan sifat pragmatis yang tidak siap kalah dalam kontestasi politik pilkada.

Dari sisi masyarakat, selama ini mungkin warga Minahasa Tenggara belum siap berpolitik dan masih melihat petahana sebagai yang terbaik. Ini menunjukkan bahwa ada keterbatasan akses warga untuk mendapatkan informasi yang berimbang.

Baca juga:  TUHAN DALAM 'AGAMA' DEMOKRASI

Untuk itu kedepan partai politik harus membuka akses-akses seperti sosialisasi dan promosi politik kepada masyarakat. Elemen yang didorong untuk sosialisasi partisipasi masyarakat selain parpol yaitu media lokal dan organisasi masyarakat dan tokoh masyarakat harus bahu membahu.

Namun fenomena calon tunggal di Pilkada Mitra adalah yang pertama kali dalam sejarah perhelatan pilkada di Provinsi Sulut. Ini membuktikan bahwa JS sang PETAHANA sebagai aktor tunggal di Pilkada Mitra telah dapat mempengaruhi sebagian besar ELIT PARPOL untuk mengusung dan mendukungnya,  tercermin 25 Anggota Dewan di Kabupaten Mitra menyampaikan sokongannya.

Baca juga:  Perjuangan Kartini, Simbol Kekuatan Perempuan Indonesia

Hanya satu anggota dewan yaitu dari partai nasdem yang tdk mendukung. Sehingga menurut saya , calon petahana tersebut memang memiliki prestasi dan kinerja baik, dan petahana sebagai calon Bupati Mitra sangat mengakar pengaruhnya

Namun fenomena Parpol di Mitra yang miskin kader ini, menurut saya selain tidak sehat bagi demokrasi dan pendidikan politik warga Kabupaten Minahasa Tenggara. Partai Politik, telah gagal menciptakan dan mendidik calon pemimpin. Akhirnya JAS mengatakan bahwa:

Kontestasi Politik, bukan tentang persoalan menang atau kalah dalam suatu pertarungan, tapi bagaimana memberikan edukasi politik yang benar bagi masyarakat. (Penulis adalah mantan komisioner Bawaslu Sulut dan Direktur E-MC Sulut)

 

Pos terkait