Bertahun-tahun Aman Dipakai, Masyarakat dan Pedagang Inginkan ” Cabo” Dilegalkan Pemerintah

  • Whatsapp

indoBRITA.co, Minahasa- Keinginan Pemerintah RI untuk meng-ilegalkan barang impor yaitu pakaian bekas atau disebut “Cabo” terwujud setelah terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 51/M-Dag/Per/7/2015 Tahun 2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas (“Permendag 51/2015”) disebutkan bahwa pakaian bekas asal impor berpotensi membahayakan kesehatan manusia sehingga tidak aman untuk dimanfaatkan dan digunakan oleh masyarakat.

Kebijakan Pemerintah RI melalui Kementerian perdagangan dengan terbitnya surat edaran tentang pelarangan pakaian bekas membuat kekecewaan sebahagian besar pedagang di tanah air terlebih khusus para pedagang di Minahasa sulawesi utara yang harus menghentikan mata pencaharian sehari hari untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarga, pasalnya sudah puluhan tahun berdagang cabo’ namun tak pernah ada konsumen yang mengeluhkan adanya penyakit pada pakaian tersebut.

Menurut Ibrahim salah satu warga Minahasa pada Sabtu (13/1/2018), sejak tahun 1989 berdagang pakaian bekas belum ada komplain dari konsumen atau pembeli bahwa ada virus pada pakaian yang dijualnya, dan kalaupun ada pasti virus atau bakteri sudah menyebar pada keluarga disebabkan dari tahun 1989 keluarganya sudah menggunakan pakaian ini.

Baca juga:  Ratusan Prajurit TNI/Polri Donor Darah di Makodim 1310/Bitung

Para konsumen yaitu beberapa Masyarakat yang tinggal diberbagai desa yang ada di Minahasa ketika ditemui Wartawan indoBRITA.co mengatakan ” Kami rakyat kecil yang tinggal dipinggiran desa mempunyai kehidupan ekonomi pas-pasan hanya mampu membeli beras, ikan, rempah rempah untuk makan sehari itupun sudah mencapai Rp 50.000 rupiah sementara penghasilan kami sebagai petani selama 3 bulan baru bisa panen dan menjual hasilnya, bagaimana kami bisa membeli baju bagus yang di toko-toko yang begitu mahal, namun dengan adanya pedagang pakaian bekas dipasar sudah sangat membantu dan meringankan ekonomi keluarga saya karna bisa membeli pakaian bekas yang murah dan bagus sehingga keluarga kami sudah tidak memakai baju yang sobek dan bernoda, bagi saya pakaian bekas atau cabo merupakan bantuan sosial dari pedagang” ucap warga yang tak mau disebut namanya.

Baca juga:  Kapolda Sulut Kunjungi Kodam XIII/Merdeka dan Korem 131/Santiago

Sementara para pemerhati lingkungan sosial kemasyarakatan yaitu Bapak Yusuf, Parto, djuma, Salman, Herman serta benny berharap agar Pemerintah meninjau dan mengkaji kembali peraturan yang dikeluarkan kementerian perdagangan sebab selama ini tidak ada warga yang terkena dampak penyakit mematikan dengan memakai pakaian bekas, jangan sampai hanya karena adanya persaingan, berdagang cabo’ di-ilegalkan dan mempersulit pedagang kecil untuk berdagang, para pedagang juga siap jika pakaian bekas ini masuk dalam daftar kepabeanan dan cukai. Besar harapan Pemerintah RI dapat mencari solusi agar barang tersebut bisa dilegalkan dikarenakan pakaian bekas sudah sangat membantu antara pedagang dan konsumen” tegas yusuf dkk.(haris)

Pos terkait