Reinkarnasi Eks Perserikatan

E,mon Kex Mudami (foto: dok RM)

Catatan Bola : Emon Kex Mudami

PIALA kemerdekaan 2018, seolah menjadi oase bagi penikmat sepakbola tanah air di tengah pentas kolosal sepakbola dunia. Ivent tahunan ini memberi hiburan tersendiri menyisip di sela kekaguman terhadap orkestra La Liga, Liga Premiere, atau Serie A dan Bundesliga.
Menarik, walau tak mengikuti secara detil namun babak semifinal yang menempatkan dua tim PSMS Medan dan Persija Jakarta, memori mereka yang kenal bola sejak 80-an pasti kenal betul siapa dua dedengkot ini. Tim ini langganan juara ketika Indonesia memiliki dua model kompetisi Perserikatan dan Galatama, yang kemudian keduanya berfusi menjadi satu kompetisi sampai saat ini.
Jelas ketika bicara tim Perserikatan ada semacam energi lain yang merangsek dalam sanubari, karena memang salah satu kekuatan sentral tim Perserikatan itu ada pada sisi fanatisme pendukung. Bisa dimaklumi karena memang Perserikatan adalah representasi dari daerah tim itu sendiri. Olehnya PSMS identik dengan Medan, Persib itu Bandung, Persija itu Jakarta, Persipura itu Irian (Jayapura), PSM Itu Ujung Pandang (Makasar), Persiraja itu Banda Aceh, PSIS itu Semarang, Perseman itu Manokwari,dan tentu Persma itu Manado dan seterusnya.
Reasoning kekuatan fanatisme pendukung itu yang kemudian manahbiskan dibentuknya LIGINA yang hendak menggabungkan dua kekuatan sentral sekaligus, yakni kualitas tim ada pada tim Galatama dan fanatisme penonton ada pada
tim perserikatan.
Olehnya ketika PSMS dan Persjia merangsek ke babak semifinal Piala kemerdekaan saat ini, pasti mereka yang pernah kenal denan kejayaan Perserikatan dulu akan melalangbuana ke masa ketika Perserikatan bergulir dari tahun ke tahun.
Harus diakui jika kekuatan sentral -eks- perserikatan.itu selalu didominasi oleh PSMS, PERSIB, DAN PERSIJA, di bawahnya menguntit PSM, PERSIPURA, PERSIRAJA dan beberapa bond lainnya. Daya ledak tiga tim papan atas ini masih cukuup eksplosif saat ini, bukan tak mungkin kedua tim ini menembus babak final bahan menjadi juara.
Warna kebesaran hijau-hijau milik PSMS beradu dengan warna favorit merah milik Persija. Kedua im ini berhasil mentransformasi tuntutan sepakbola modern Indonesia saat ini. Banyak selamat buat PSMS dan Persija, lalu di mana gerangan Persma, Persmin, Persbit, Persibom saat ini. (Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Aspirasi Manado)

Baca juga:  Tiga Juara Bertahan UFC Tumbang: Pelajaran dari Sebuah Kejumawaan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *