Menu

Ciptakan Delapan Judul Lagu, Empat Personil Via Dolorosa Ini Tampil di Paskah Nasional

  Dibaca : 708 kali
Ciptakan Delapan Judul Lagu, Empat Personil Via Dolorosa Ini Tampil di Paskah Nasional
Personil Via Dolorosa saat tampil di Gereja GMIM Moria Kolongan, Minahasa Utara, beberapa waktu lalu. (Foto: dok)

Suara merdu menggelegar di Gereja Abigail, Rutan Manado, Minggu siang. Empat personil grup Via Dolorosa tampil enerjik, membawakan lagu “Via Dolorosa” (Jalan Sengsara) ciptaan Jayens A. Pasumah. Sebuah ungkapan penghayatan yang lahir dari lubuk para warga binaan tersebut.

PENAMPILAN empat warga binaan Rutan Manado, Jayens A. Posumah, Febri Aomo, Jootje Dengah dan Christoffel Hiwoi tak begitu istimewa di mata sahabat-sahabat narapidana yang lain. Mereka tampak sederhana. Lebih sering berkanjang di gereja Abigail, rumah doa warga binaan dan pegawai.

Tapi di rumah ini Jayens A Posumah, komponis lalu-lagu Via Dolorosa, menangkap inspirasi. Jayens mengisahkan, ihwal vocal group yang sudah mulai popular di sejumlah gereja itu.

“Inspirasi awal itu, ketika tahun 2016 lalu saya diminta membagi pengalaman batin di sebuah momentum ibadah. Mengurai rasa yang muncul dari lubuk, mendorong saya untuk menumpahkan semua dalam bentuk syair lagu. Semula memang baru satu lagu,” tutur Jayens, Kamis (8/3/2018) di rutan.

Lahirlah satu lagu perdana, berjudul Hidup adalah Anugerah. Dari lagu ini, mantan Camat Siau Timur itu merangkul dua personil lain, yakni Febri Aomo dan Nolfi Sangel.

Muncullah vocal group yang semula diberi nama Nustar Voice (Suara Nusa Utara). Belakangan, Nolfi Sangel beralih tahanan ke Rutan Enemawira, Sangihe pada Januari 2017 silam. “Otomatis personil kurang satu,” sambung Jayens. Lagu terakhir yang dilanyikan bersama Nofli, yakni Natal Membawa Damai.

Baca juga:  Banjir Aspirasi Warga, Wakil Ketua Komisi B DPRD Manado Pinkan Nuah Reses di Tanjung Batu

Selepas Nofli, Jayens tak kehilangan motivasi. Sambil mempertahankan Febri, ia  menggaet Christoffel Hiwoi dan Jootje Dengah yang menurutnya memiliki karakter suara yang kuat. Bakat hebat dan serius menggarap sebuah grup vokal. “Mereka berdua, Jootje dan Christo saya kenal baik karakter suara mereka,” sentil Jayens.

Dengan kekuatan baru, empat personil itu sepakat mengubah Nustar Voice menjadi Via Dolorosa dari bahasa Latin yang berarti Jalan Sengsara. Kristo dan Jootje mengambil suara sopran. Jayens alto, dan Febri tenor. Sementara ilustrasi musik didesain sendiri oleh Via Dolorosa (Febri Aomo dan Jayens A.Pasumah).

“Kami memang merekfleksikan perjalanan hidup. Nama Via Dolorosa juga lebih ekslusif untuk dihayati semua warga binaan bahkan jemaat Kristen dimana pun yang sempat mendengar lagu-lagu Via Dolorosa,” jelas Jayens.

Matang dalam penampilan dan karakter suara plus warna musik rohani, Via Dolorosa kemudian bertandang ke gereja-gereja lain atas undangan. Bahkan penampilan yang tidak pernah disangka, empat personil Via Dolorosa itu manggung di Paskah Nasional Kementerian Hukum dan HAM, yang dihelat pada April 2017 silam, di Kantor Wilayah KemenkumHAM, Manado.

Di situ disaksikan langsung Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly dan sejumlah pejabat daerah. “Ini seperti sebuah kesaksian hidup dalam lagu. Lebih dari sekedar menyanyi. Disaksikan ribuan warga seluruh Indonesia,” sambung Christoffel Hiwoi.

Baca juga:  Dishub Kota Manado Gelar Pemilihan Abdi Yasa Teladan

Di antara delapan lagu itu, ada satu lagu yang menjadi ikon grup, yakni Jalan Sengsara. “Pada masa prapaskah ini, Jalan Sengsara menjadi puncak penghayatan orang Kristen. Ini sebuah persembahan hidup. Kita berbagi buah-buah refleksi,” Christoffel Hiwoi atau yang akrab disapa Mang Christo itu bertutur.

Tujuh lagu lain, yakni, Via Dolorosa, Natal Membawa Damai, Sambut Dia, Tulusnya Cintamu di Malam Natal, Yesus Hidup dan Menang, Percayalah FirmanNya dan Jangan Kuatirkan Hidupmu. Lagu-lagu itu kerap tampil di sejumlah gereja.

Febri Aomo menambahkan, selain tampil di gereja Abigail, Via Dolorosa juga sempat tampil atas undangan Pemkot Manado di acara Natal 2017.

Sebuah kemajuan mulai tampak, saat Via Dolorosa sempat merangsek ke studio rekaman TVRI Manado, Maret 2017. “Sudah ada album Via Dolorosa. Tapi masih untuk kalangan sendiri,” kata dia.

Tekad Via Dolorosa, sekali kelak masuk dapur rekaman dan sebaran album Via Dolorosa di kalangan jemaat Kristen menjadi lebih luas dan terjangkau. “Kita juga masih cari sponsor untuk masuk dapur rekaman,” kata Jayens.

Jayens juga menyadari akan ada fase, dimana salah satu personil lebih dulu menghirup udara segar (bebas). “Kita juga sudah saling komunikasi, tentulah ada solusi—solusinya. Misalnya rekrut lagi personil yang memperkuat Via Dolorosa. Pada ininya, Via Dolorosa terbuka,” tandas Jayens. (Hut Arzene Kamrin)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional