Badan Penelitian dan Pengembangan LHK Gelar Pelatihan Konservasi Anoa

  • Whatsapp
IndoBRITA, Manado – Memperingati World Wildlife Day, Hari Hutan International dan Hari Bakti Rimbawan tahun 2018, Badan Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Manado yang didukung oleh EPASS Tangkoko, PT MSM/TTN, PT J Resources menyelenggarakan Pelatihan Konservasi Anoa.
Pelatihan yang dilaksanakan di Anoa Breeding Center (ABC) ini diadakan selama tiga hari, dari tanggal 13 sampai dengan 15 Maret 2018. Tujuan pelatihan adalah untuk memberikan bekal kepada Anoa Keeper pada Lembaga Konservasi ataupun UPT dan juga Pengelola Kebun Binatang yang memiliki Anoa di tempatnya. Selama tiga hari seluruh pesertaBdiberikan pemahaman baik secara teori maupun langsung praktek penanganan Anoa di ABC Manado tersebut.
Peserta pelatihan berasal dari BBKSDA Sulawesi Selatan, PT MSM, Taman Wisata Gunung Kekewang, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, BKSDA Sulawesi Utara, EPASS Tangkoko, EPASS TN Bogani Nani Wartabone, J. Resources, serta para sta: peneliti di BP2LHK Manado.
Dalam melaksanakan kegiatan pelatihan tersebut BP2LHK mendatangkan Marcel Alaze dari Leipzig Zoo, Jerman.
Pelatih ini dua tahun yang lalu pernah mengunjungi BP2LHK Manado, dan sekarang akan memberikan sharing pengalamannya selama melakukan penanganan Anoa di Kebun Binatang Leipzig di Jerman tersebut.
Dijelaskan oleh Kepala BP2LHK Manado, Dodi Garnadi bahwa Anoa Breeding Center yang dikelola oleh BP2LHK Manado memiliki 9 ekor Anoa yang terdiri dari 6 ekor betina dan 3 ekor jantan. Jumlah Anoa yang berada di Exsitu ABC adalah yang paling banyak di Indonesia, sebagai contoh di Taman Safari Indonesia di Cisarua Bogor hanya memiliki Anoa berjumlah 7 ekor.
Selaku panitia penyelenggara, Rinto Hidayat menjelaskan bahwa pelatihan ini akan bermanfaat bagi pengelolaan dan penanganan Anoa exsitu. Harapannya adalah adanya transfer knowledge dari Marcel kepada seluruh peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan tersebut.
“Salah satu indikator keberhasilan proyek EPASS adalah untuk mengurangi ancaman terhadap keberadaan satwa liar dari adanya gangguan, sehingga akan dapat meningkatkan populasi satwa liar yang berada di kawasan konservasi. Salah satu cara untuk meningkatkan populasi satwa liar adalah adanya ABC di BP2LHK Manado ini,” jelas Lilik Yuliarso, Field Coordinator EPASS Tangkoko. Lebih lanjut ditambahkan bahwa Anoa di ABC ini telah menghasilkan anakan sebanyak 2 ekor, satu berkelamin jantan dan diberi nama Maesa oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada tahun 2016 yang lalu, yang lainnya adalah betina Bernama Anara yang namanya diberikan oleh Wantimpres Jan Darmadi pada tahun 2017.
Menurut Marcel, untuk kepentingan di masa depan Anoa yang berada di ABC sebaiknya dipasang transponder di tubuhnya. Guna transponder ini adalah untuk mendeteksi Anoa tersebut apabila nantinya akan dilakukan release atau pelepas liaran. Disampaikan bahwa Leipzig Zoo akan senantiasa memberikan dukungan kepada ABC dalam rangka peningkatan kapasitas SDM untuk pengelolaan Anoa.
Berdasarkan data yang ada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada saat ini jumlah Anoa di Indonesia secara Exsitu yang berada di kebun binatang dan Lembaga Konservasi lainnya berjumlah 40 ekor. Data
yang dimiliki marcel menunjukkan bahwa jumlah Anoa yang berada di kebun binatang di seluruh Eropa ada sekitar 100 ekor. Jumlah Anoa yang berada di alam liar(Insitu) mengalami penurunan dan IUCN Red List telah menyatakan bahwa Anoa (Bubalus depressicornis; Bubalus quarlesi) dikategorikan sebagai Endangered Species. Berdasarkan RNSTRA pada Dirjen KSDAE, Kementerian LHK, Anoa termasuk salah satu target satwa yang harus ditingkatkan populasinya sebesar 10 persen pada tahun akhir tahun 2019.(sco)
Baca juga:  OD-SK Promosi Peluang Investasi Sulut ke Negara Singapura

Pos terkait