Menu

Penutupan Indomaret Terus Disuarakan, Wakil Rakyat Siap Tindaklanjuti Laporan Masyarakat

  Dibaca : 370 kali
Penutupan Indomaret Terus Disuarakan, Wakil Rakyat Siap Tindaklanjuti Laporan Masyarakat
Benny Parasan (foto: Benny fb)

indoBRITA, Manado– Penutupan Indomaret terus disuarakan kalangan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat  (LSM) dan pemerhati sosial Sulut. Desakan penutupan itu sebagai bentuk  keberpihakan  para aktivis kepada pedagang kecil, khususnya pemilik warung yang tergerus akibat ekspansi besar-besaran salah satu perusahaan ritel ternama dan terbesar di Indonesia ini.

“Berapa banyak pedagang atau pengusaha kecil yang gulung tikar katena keberadaan Indomaret, termasuk kemunculan Alfamart dan Alfamidi. Saatnya pemerintah berpihak kepada pengusaha kecil,” ujar Jack Sumerar, pemerhati sosial dan ekonomi kepada wartawan di Manado, Rabu (30/5/2018).

Alumnsus Fakultas Ekonomi Unsrat ini menilai kebijakan Bupati Minahasa Tenggara (Mitra), James Sumendap layak ditiru kepala daerah lainnya di Sulut. “James tahu tak mungkin pedagang kecil bisa bersaing dengan perusahaan besar seperti Indomaret. Makanya dia tak mengizinkan pembangunan gerai Indomaret pada semua kecamatan yang ada di Mitra,” kata Jack.

Ia memaklumi jika kemudian muncul suara atau aspirasi yang menginginkan anak perusahaan Salim Group tersebut ditutup. “Kalau itu dilakukan untuk meningkatkan ekonomi  masyarakat, ya saya setuju. Ini harus dicermati dan dikaji benar oleh pemerintah,” ucapnya.

Memang para aktivis kian getol menyuarakan  penutupan Indomaret. “Tutup jo karena kurang bermanfaat dalam mendongkrak perekonomian masyarakat, khususnya warga tak mampu,” Loula Kawengian Assa, aktivis LSM asal Minsel menegaskan.

Srikandi yang kerap turun di jalan memimpin demo ini menyebut pernah menjadi ‘korban’ produk kadaluarsa  dari Indomaret. “Saya pernah menyampaikan permasalahan ini dan berbagai keluhan dari masyarakat, tapi pimpinan Indomaret wilayah SulutGo cuek,”  katanya.

Aktivis lainnya menginginkan penutupan Indomaret karena berpendapat perusahaan yang memiliki ratusan toko di daerah Nyiur Melambai dan Gorontalo ini kerap ‘kurang manusiawi’ terhadap para pekerja atau karyawannya. “Sopir yang mendistribusikan produk atu bahan Indomaret ke semua toko kerap  bekerja melebihi batas waktu yang ditentukan. Beban kerja berat, tapi gaji tak diperhitungkan,” ujar Wahyuni.

Baca juga:  Dua Perda Disetujui, DPRD Manado Gelar Rapat Paripurna Bersama Pemkot Manado

Suara paling lantang datang dari Benteng Nusantara (Bentara) Manado. Ketua Bentara Manado, Steven Pande-iroot berharap pemerintah mengambil sikap tegas menutup operasional  salah satu perusahaan ritel ternama di Indonesia itu.

“Berbagai keluhan warga juga membuat kami mengambil kesimpulan jika kehadiran perusahan ini kurang bermanfaat bagi warga Sulut. Jadi sebaiknya Indomaret ditutup saja,” kata Steven.

Ia lantas menyebut beberapa  poin dari seputar permasalahan sebagaimana  yang dikeluhkan warga, termasuk para karyawan Indomaret sendiri. “ Poin pertama adalah harga  lebih mahal.  Salah satu cantoh misalnya  harga  Aqua 600ml di Indomaret poin yang hampir dua kali lipat dari harga yang ditawarkan  minimarket lainnya seperti Golden. Jangan karena kontrak yang mahal, lalu biaya dibebankan kepada konsumen atau masyarakat,”  ujar Span, sapaan akrab Steve Pande-iroot.

Poin kedua adalah biaya pertanggungjawaban donasi dari uang Rp200 atau Rp100 dari konsumen.”Sering kali uang Rp200 itu tak dikembalikan,  tapi ditanyakan untuk didonasikan. Nah, bagaimana bentuk donasi itu yang kita tidak ketahui. Ini perlu dijelaskan manajemen Indomaret,” ungkapnya.

Poin paling krusial menurut Steven adalah pelarangan memutar lagu rohani di gerai Indomaret. “Ada karyawan yang hendak memutar lagu rohani tapi tak dibolehkan.  Padahal di Manado, pemutaran lagu bernuansa rohani, entah Kristen atauu Muslim adalah hal biasa dan paling disenangi masyarakat,” ucapnya.

Tak lupa Steven  menyorot adanya kesan diskrimasi dalam pemberian beasiswa. “Daerah lain kami dengar ada beasiswa, tapi di Sulut tak ada,”  katanya.

Baca juga:  Gelar Reses di Kepulauan Bunaken, Anggota DPRD Manado Markho Tampi Akan Kawal Aspirasi Warga

Permasalahan-permasalahan tersebut sudah pernah disampaikan BN Manado dalam diskusi yang  digagas Sulut Press Club (SPC). SPCI pun sudah menyampaikan poin-poin tersebut kepada pimpinan Indomaret wilayah SulutGo beberapa waktu lalu.

“Tak ada diskrinasi dalam pemberian beasiswa. Kami juga pernah merehab sekolah yang rusak di Manado,” ujar Muhammad Lukman, mantan Ketua Kacab Indomaret Manado.

Lukman menuturkan pihaknya hadir di Sulut demi turut mendongkrak perekonomian daerah dan mensejahterahkan masyarakat. “Donasi itu kami pertanggungjawabkan dan sampaikan lewat media,” ujarnya.

Ia juga membantah adanya kerja paksa atau romusha seperti yang dituduhkan. “Kalau lembur ada uang lembur. Kami rekrut tenaga kerja dan memberikan pelatihan menggunakan  biaya perusahaan,” ungkap Lukman yang saat itu didampingi  dua wakilnya, Satria dan Reinaldo Tuwongkoseng.

Menyangkut  harga yang lebih mahal, Untung T Kacab baru Indomaret mengatakan  hal tersebut sangat tergantung lokasi. “Kalau  Indomaret poin ya memang harganya lebih mahal,”  ucapnya.

Sementara soal pemutaran lagu rohani, mantan Kacab Makasar ini mengatakan Indomaret  punya standar tersendiri.  “Lagu yang diputar dari pusat semua,” katanya.

Semua keluhan warga atau konsumen itu akan disampaikan para aktivis LSM ke  DPRD Manado. “Dalam waktu dekat kami bawa laporan secara resmi ke  DPRD Manado,” Terry Umboh berkomentar.

DPRD Manado sendiri siap menindaklanjuti laporan tersebut. “Semua aduan dari masyarakat  kita proses. Kami pasti akan memanggil pimpinan Indomaret. Keluhan masyarakat itu menandakan ada yang keliru dalam penerapan kebijakan Indomaret di Sulut,” ujar personil DPRD Manado, Benny Parasan. (hng/adm)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional