Sudhana dan Refleksi Tentang Pluralitas

  • Whatsapp
Ivan Jeremy (foto: dok jef jeremy)

(Sebuah Refleksi dan Pengembangan Ide)

Oleh Ivan ‘Sibonsai’ Jeremy

MUNGKIN tak banyak orang yang tahu, kisah tentang Sudhana. Apalagi hingga mendalaminya. Tetapi bagi para penganut Budhisme Mahayana, kisah ini sudah tak asing lagi karena terdapat dalam Gandawyuha, yang merupakan bagian terakhir atau bab 34 dari Sutra Besar, Sutra Avatamska. Kisah itu diperkirakan muncul pada awal abad 1 SM di India Selatan dan kemudian menyebar ke seluruh Asia.

Meski tergolong kisah religius, dan oleh karena itu (biasanya/lazimnya), sulit diketahui, namun kisah tentang Sudhana ini tidaklah sulit ditemukan. Sebab faktanya, kisah tersebut terpahat dalam relief Gandawyuha pada lorong dua, tiga dan empat, Candi Borobudur, dengan jumlah sekitar 460 panel relief.

Kisah tentang Sudhana begitu menarik. Sebab, warisan-warisan serta nasehat bijaksananya bagai oase di padang gersang. Dengan usia yang masih tergolong muda, Sudhana menunjukkan niatnya yang sungguh untuk mencari kebijaksanaan dalam hidup serta memberi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Yang menarik dalam kisah tentang Sudhana adalah kebijaksanaannya dalam menanggapi serta memberi pencerahan mengenai masalah perbedaan. Baik perbedaan keyakinan (agama), budaya, hingga perbedaan gaya berpikir manusia. Singkatnya pluralitas.

Menurutnya,  ada saat di mana kita harus melihat dan menemukan kembali sejumlah hal positif mengenai kehidupan manusia di masa lampau. Pada masa tersebut, harmoni sangat terasa, bahkan terjaga dengan sangat baik. Orang bisa dengan mudah bekerja sama, berdiskusi bersama, dan hidup bersama dengan sangat rukun, tanpa ada gesekkan yang signifikan. Orang tidak berada dalam skema pengkotak-kotakan yang artifisial, di mana status, prestise, prestasi, kedudukan, jabatan, serta perbedaan agama dan kepercayaan menjadi ancaman serius untuk mengkerdilkan makna harmonisasi dan bahkan ‘membunuhnya’ sama sekali.

Harmonisasi tercipta dengan mudah dalam relasi sosial, kerja dan bahkan dalam beragama. Masing-masing orang menggunakan kemampuan, keyakinan dan kepercayaannya demi mencapai tujuan bersama. Kepentingannya hanya satu. Yakni kebersamaan, hidup dengan rukun.

Sudhana jelas tidak mengharuskan agar kembali ke masa lampau. Sebab yang telah terjadi bagaimana pun caranya tidak bisa diulang lagi. Dia menawarkan, bahwa sekiranya, jejak-jejak warisan kebijaksanaan, hasil pendalaman budaya, tradisi dan nilai-nilai agama oleh para pendahulu, di masa lampau, dihidupi, diamalkan dan dipelihara, sebagai bagian dan nilai penting, dari hidup manusia-manusia Indonesia.

Baca juga:  Sekali Lagi Tentang Derek Manangka

Perbedaan bukanlah hal yang harus disesalkan. Perbedaan bukan sebuah nista dan dosa yang harus diberantas. Perbedaan adalah esensi manusia yang menjadikan manusia menjadi manusia, dan yang menjadikan manusia, memanusiawikan dirinya dan manusia yang lain.

Dari hasil permenungannya, Sudhana dengan santun merombak cara berpikir manusia-manusia moderen. Seiring perkembangan dan modernisasi yang begitu cepat, manusia moderen sangat mudah terjerumus dalam dua sisi yang mengaburkan eksistensinya. ‘Dibelenggu/Terbelenggu, dan Membelenggu’. Mengapa demikian? Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sejumlah hal lain yang bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia, menjadi titik awal, lahirnya gaya hidup baru hingga ideologi baru yang mempengaruhi cara berada manusia. Kelahiran itu serentak membawa di dalamnya, efek negatif, di mana perlombaan untuk bertransendensi, membuat manusia menjadi bebas ‘sewenang-wenang’ menciptakan perubahan. Individualis lalu menjadi roh yang kemudian menjelma bersama teori-teori ilmu pengetahuan dan ditransfer dengan lugas dan lantang di bangku-bangku pendidikan. Manusia-manusia baru akhirnya terbentuk, dan seiring waktu, gaya hidup, serta ideologi yang baru pun mendapatkan wujudnya pula.

Atas cara yang demikian, manusia lalu dibelenggu/terbelenggu dahaga akan perubahan. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah pasti harus selalu baru menjadi syarat manusia baru ber-ada dan yang seiring-sejalan dengan ideologi, gaya hidup serta pola pikir yang baru. Konflik pun muncul. Manusia mulai terbagi-bagi, membentuk kelompok, dan ber-ada secara berbeda dengan yang lain. Keber-ada-an ini, dari waktu ke waktu, mengakibatkan terciptanya jarak, dan akhirnya mencapai titik kulminati di mana nilai dan makna perbedaan bergeser ke arah yang lebih sempit; dengan alasan yang paling lazim dan logis bahwa “karena tak sama maka tak sejalan”.

Akibat dari slogan “karena tak sama maka tak sejalan” ini, kenyataan pahit yang tak bisa dipungkiri juga mulai terbentuk sistimatis. Manusia lalu dibelenggu, visi dan misi, serta ideologi yang ada dalam kelompok ‘yang sama’ itu dengan tujuan yang satu dan sama pula; yakni ‘merekrut’ lalu ‘membelenggu’ manusia-manusia yang lain agar menjadi ‘sama dengan’ atau ‘sama seperti’.

Baca juga:  Kekuasaan Dalam Penuturan Sebuah Drama

Di satu sisi, tentu saja ada sisi positif. Asalkan cita-cita dan tujuannya menghargai perbedaan dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Namun akan menjadi sebuah ancaman serius, apabila ideologi, cita-cita dan tujuan yang harus dicapai tak lagi berada dalam bingkai menghargai perbedaan. Hal ini justru akan menciptakan arogansi berlebihan dan akhirnya membentuk kelompok-kelompok dengan kepribadian yang destruktif yang siap ‘meledak’ meninggalkan kenyataan tragis, mencederai nilai perbedaan dan menghancurkan nilai kemanusiaan. Perdamaian menjadi syarat mutlak bahwa perang harus terjadi, layaknya hukum sebab-akibat.

Sudhana dengan jelas, tidak menyalahkan perubahan. Sebab perubahan adalah wujud dari keberadaan manusia. Hanya saja, ada kecenderungan, manusia tak cukup mampu mempertahankan energi positif dalam dirinya untuk mengupayakan perubahan dan mengontrolnya agar tetap berada pada jalur yang benar dan tidak membawa makna eksistensi manusia ke titik nadir atau bahkan menghancurkannya.

Sudhana menawarkan sebuah jalan kebijaksanaan, bahwa nilai-nilai positif yang menghargai kemanusiaan manusia sungguh harus dipertahankan, yakni dengan menciptakan harmoni dengan cara menerima, menghormati, menghargai dan menghidupi nilai perbedaan. Sebab, eksistensi manusia tidak bisa dilepaskan atau dipisahkan dari perbedaan. Toleransi, dan kerendahan hati menjadi kata kunci. Dengan cara demikian, wawasan atau cakrawala berpikir manusia dihantar menuju pemahaman yang benar dan universal bahwa nilai yang paling penting menjadi manusia, yakni hidup bersama manusia yang lain.

Memang, mewujudkan toleransi bukan hal yang mudah. Manusia benar-benar melebur, hadir dan berpartisipasi, mengarahkan seluruh energi positif, membentuk pribadi yang matang, dan mampu ke luar dari hasrat  egosentris dan arogansi. Manusia harus sampai pada titik di mana, keberadaannya menjadi berarti karena keberadaan manusia yang lain.

Kerendahan hati untuk menghormati, menerima, mendengarkan dan menghargai, sikap keterbukaan yang tinggi, dan peranan pengetahuan serta jejak-jejak kebijaksanaan tentang kebaikan dalam agama, hukum, moral, tradisi dan budaya menjadi jalan terbaik, manusia membentuk pribadi yang menghargai perbedaan.

Dengan memperjuangkan keharmonisan dalam menghidupi, menerima dan menghargai perbedaan, manusia memberi arti dan makna tak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi manusia yang lain. Selamat bermenung. (Penulis adalah Redaktur/Biro indoBRITA Media Group Yogyakarta)

 

 

Pos terkait