Kawasan Tampusu akan Dijadikan Agrowisata

  • Whatsapp
Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara Edwin Silangen meninjau keadaan kandang sapi perah di UPTD Peternakan Tampusu, Jumat (09/08/2018).
IndoBRITA, Manado – Lahan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) yang ada di Desa Tampusu Kabupaten Minahasa, akan dijadikan sebagai Kawasan Agrowisata. Saat ini, lokasi itu ditempati IPDN dan UPTD Peternakan dibawah Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut.
Sekretaris Provinsi Sulut Edwin Silangen mengatakan Kawasan Agrowisata di Tampusu akan segera direalisasikan. Sebab, hal tersebut yang diinginkan Gubernur Olly Dondokambey.
“Pak gubernur sempat kecewa melihat kondisi di Tampusu saat meninjau waktu lalu. Makanya, beliau memerintahkan merevilitasi Kawasan Tampusu. Diberdayakan lagi sapi perah rekondisi atau pengadaan sapi baru. Sementara untuk secara general diminta menjadi agrowisata,” tutur Sekprov kepada wartawan di lokasi peternakan sapi di Tampusu, Jumat (10/08/2018).
Kawasan Agrowisata nantinya akan ‘dikeroyok’ beberapa instansi. Seperti, Dinas Pekerjaan Umum ditugaskan untuk infrastruktur jalan masuk ke lokasi.
“Itu sudah dialokasikan anggarannya. Tinggal secara bertahap akan eksekusi,” ungkap Silangen.
Untuk Dinas Pendidikan akan membantu dalam proses distribusi hasil dari sapi perah.
“Dinas Pendidikan akan didistribusikan ke PAUD dan anak sekolah secara rutin,” tambahnya.
Sementara khusus untuk pemberdayaan sapi, diakui Sekprov, tidak bisa berjalan sendiri.
“Kalau cuma pemikiran pejabat pemerintah pasti akan jadi seperti lalu tak terurus, makanya dikombain dengan tim Universitas Samratulangi dari fakultas peternakan,” ujarnya.
Tim tersebut pun telah melakukan kajian untuk Kawasan Agrowisata di Tampusu, dengan lebih spesifik ke sapi perah.
“Grand desain besarnya kedepan susu dari hasil sapi perah akan didistribusikan ke masyarakat Minahasa. Itu sudah disampaikan pak gubernur ke bupati Minahasa, baik penjabat maupun bupati terpilih agar siapkan anggaran untuk membeli susu dari sini. Nah, hasilnya jadi PAD (Pendapatan Asli Daerah),” jelasnya.
Tim dari fakultas peternakan dipimpin Dekan mempresentasikan potensi dari sapi perah.
“Sulut belum bisa hasilkan produksi susu baik untuk konsumsi segar, pasturisasi maupun untuk keperluan industri pengolahan. Padahal, Sulut miliki potensi lahan, topografi dan iklim yang cocok untuk pertumbuhan sapi perah,” tuturnya.
Pada presentase tersebut, selain mengusulkan untuk dianggarkan pada APBD, ada juga estimasi keuntungan bila sudah berjalan sampai lima tahun. Bahkan, satu tahun saja sudah ada untungnya.
“Selain mensejahterakan masyarakat, ada benefit juga yang didapatkan dari sapi perah itu nantinya,” tuturnya.
Mendengar adanya pengusulan anggaran, Sekprov pun menyatakan siap menganggarkan di perubahan dan APBD induk tahun 2019.
Selain bertemu dengan Kepala Bappeda Sulut Ricky Toemandoek, di tempat yang sama juga Sekprov didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut Novly Wowiling bertemu juga dengan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Sulut Asiano G Kawatu. Pertemuan tersebut untuk menindaklanjuti terkait anggaran digunakan pada Kawasan Agrowisata.
“Lewat APBD perubahan akan tambah dana untuk menunjang rekondisi peternakan sapi. Sementara APBD induk tahun depan untuk grand design Kawasan Agrowisata,” tukas Sekprov.(sco)

Pos terkait