Tabiat Basi di Pesta Rakyat

  • Whatsapp
Donny Lumingas (foto: dok)

Catatan dari Pinggiran : Donny Lumingas

PESTA rakyat, pesta demokrasi, pesta yang super mahal. Mahal biayanya jauh lebih mahal Nilainya. Pesta  lima tahunan April 2019 nanti digelar sekaligus, Pilpres dan Pileg.

Bacaan Lainnya

Seperti sebelumnya, Pilpres, kali ini hanya diikuti dua pasang. Satu pasang masih memegang tampuk kekuasan, satunya lagi ada di luar atau sering disebut oposisi.

Lamaran sebagai juru taktik dan juru gedor, sampai jadi bamper yang super cuek dan super baper mengalir mendatangi panggung kedua pasang kandidat Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Tentu juga ada yang datang secara senyap dengan tawaran bantuan logistik.

Konstestan yang sedang berkuasa tampil bersuara lantang tentang keberhasilannya membangun.  Sementara oposisi berteriak lantang menyerang kekurangan penguasa. Ilmu putih sampai yang hitam putih keluar dari segala penjuru, menjadi taktik dan strategi lapangan, menyebar secara masif.

Di sisi lain para pendukung super sibuk jadi pahlawan tanpa jasa sampe dan pahlawan yang sibuk cari jasa, bergerak dengan pembelaan sampai over dosis. Saking over dosis, sehingga derajat mereka sebagai manusia  diturunkan jadi Ce…dan Ka, kalau digabung sebut aja CePret.

Di basis perebutan suara berkembang tabiat basi, cara buruk, rasional terhimpit emosional, persahabatan jadi permusuhan, persatuan terancam perpecahan.

Makin lama makin aneh, banyak kasus sifat dan perilaku aneh. Kasus lima tahunan menjamur mengalahkan jumlah jamur itu sendiri. Masalah tidak jadi masalah, yang tidak masalah muncul jadi masalah. Ngeri-ngeri sedap namanya, kalau pinjam istilah salah seorang politisi yang sudah di dunia lain.

Baca juga:  Pangellu Ingatkan Panwascam Minut Soal Penindakan Pelanggaran Pemilu

Profesi dadakan bermunculan, konsultan politik dadakan dengan hasil survei membingungkan. Ada juga tukang gorengan dadakan yang spesial menggoreng isu, menjadi laris manis, namun pahit jika makan tanpa dicerna.

Selain itu ada lagi golongan lain yang kurang terdeteksi, karena kurang agresif. Mereka tidak mau di sebut CePret. Golongan ini disebut golput (golput) pada jaman Orde Baru. Si Golput tidak mau berpihak tidak ingin memilih. Golput kombinasi dari yang tidak suka, pernah suka namun kecewa, dan pernah jadi korban politik.

Selain itu ada yang golput karena memang tidak mengerti dan cuek dengan politik,  mereka itu yang sebut milenial, jumlah sangat besar. Kini milenial jadi rebutan di mana-mana, sampai-sampai yang sudah tidak milenial berusaha tampil seperti milenial.

Selain kelompok di atas sebenarnya ada yang jadi pendukung capres-cawapres maupun caleg yang masih rasional, tidak sumbu pendek dan tidak main hoax, namun jumlahnya minoritas.

Tabiat jelang pesta rakyat selalu berwarna. Termasuk tabiat manusia berhati malaekat. Sebar bantuan sana sini, pasang baliho dan iklan di mana-mana, tebar pesona setiap saat. Obral janji yang super manis,  tak lupa juga di sertai senyum yang bikin tersenyum manis.

Topeng warna-warni terus jadi lakon pesta rakyat, lakon panggung sandiwara. Wasit bawaslu tapi, tiupannya kurang terdengar nyaring dan ditaati peserta pesta.

Baca juga:  Panambunan Tegaskan KBPP Polri Harus Ikut Sukseskan Pilcaleg dan Pilpres 2019

Ka-pe-u, situasinya juga tak jauh beda dengan mitranya. Kedua mitra pemilu ini di ganggu setumpuk kepentingan oleh pihak dulunya yang mengangkat mereka.

Belakangan ka-pe-u dan bawaslu  bersama kemendagri diperhadapkan dengan masalah temuan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) yang puluhan juta.

Apa boleh buat, buat apa yang boleh. Fakta menuju pesta rakyat masih berbumbu kebencian, ditambah adu domba, dicampur kecurangan, disatukan fitnah yang (mungkin) akan dibungkus money politik.

Pesta basi, ya, sudah basa eh basi lagi, jadi basa basi. Jadinya pesta demokrasi dengan “demo and crasy” karena rakyat tetap menjadi alat.

Tapi rakyat sang pemilik suara demokrasi makin pintar melawan. Mereka sadar ini pesta lima tahunan, dan mereka hanya dipedulikan sekali dalam lima tahun.

Tidak peduli tabiatnya baik atau tidak, suarapun rela dijual. Ada uang ada suara. Astagaa…kalau sudah begini Caleg (untuk Pileg) yang modal nekat tinggal berharap nasib saja, mereka hampir dipastikan akan kalah dari caleg yang modalnya bergunung-gunung.

Capres-cawapres juga, diperhadapkan pada kondisi yang mirip, politik berbiaya mahal. Demokrasi transaksional masih jadi tabiat buruk pasca reformasi. Tapi masih berharap, semoga di pesta nanti yang menang tetap terhormat karena dan yang kalah tetap bermartabat.

Niat baik, niat suci pesta rakyat lima tahunan, jangan jadi pesta yang basi, menghasilkan wakil rakyat dan presiden dan wapres dengan tabiat buruk, tabiat basi di pesta demokrasi.

 

(Penulis adalah Anggota Dewan Redaksi indoBRITA Media Group)

Pos terkait