AGC Dorong Tambang Emas di Sulut Pakai Teknologi Tanpa Merkuri

  • Whatsapp
AGC bersama dengan Delegasi Department Of Environment, Provinsi Cotabato Selatan, Filipina, Lembaga Swadaya Masyarakat/Nirlaba Ban Toxic dan Federasi Asosiasi Penambang Emas Skala Kecil Filipina turun ke salah satu tambang emas di Tatelu, Minahasa Utara.
indoBRITA, Manado – Pertambangan emas dengan skala kecil yang ada di Indonesia sudah tidak boleh lagi menggunakan merkuri. Sebab, bahan merkuri bisa merusak lingkungan.
Untuk Sulawesi Utara (Sulut) sementara ditawarkan oleh Artisanal Gold Council (AGC). Lembaga non profit itu telah memperkenalkan alatnya, yang mengelola emas tanpa menggunakan merkuri dan sianida.
“Kami telah memperkenalkan alat itu di Tatelu dan Tobongon,” kata Communication Manager Artisanal Gold Council Indonesia, Bagus Dharmawan kepada wartawan di Manado, Selasa (6/11/2018).
Dharmawan menyebutkan Sulut memiliki banyak daerah pertambangan emas skala kecil. Namun, pihaknya baru memperkenalkan di dua daerah.
AGC memang hadir di daerah yang punya kepastian hukum jelas. Kalau daerah yang belum aman takutnya saat teknologi ini dioperasikan kemudian ada masalah hukum. Jadinya tak produktif,” tutur pria berkacamata ini.
Seperti diketahui, Program AGC ink didanai oleh Global Affairs Canada (GAC) kemudian bekerjasama dengan pemerintah Indonesia.
Alat telah teruji di Peru dan Mongolia. Saat ini di Indonesia sebagai pilot project coba kita terapkan di Sulut,” pungkasnya.
Sebelumnya, AGC bersama dengan Delegasi Department Of Environment, Provinsi Cotabato Selatan, Filipina, Lembaga Swadaya Masyarakat/Nirlaba Ban Toxic dan Federasi Asosiasi Penambang Emas Skala Kecil Filipina berkunjung ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut, Senin (5/11/2018).
Kunjungan tersebut diterima Asisten II Setdaprov Sulut Rudi Mokoginta di Ruang WOC Kantor Gubernur Sulut.
Mereka bertemu dengan pihak Pemprov Sulut untuk memperkenalkan teknologi mengolah tambang emas tanpa merkuri.
Tanggapan pemprov cukup baik. Setelah melihat presentase, mereka pun berharap kedepan Provinsi Sulut belajar langsung ke sana,” kata Dharmawan.
Adapun dipilihnya Sulut sebagai pilot project karena daerah ini memiliki kesamaan dengan negara tetangga Filipina.
“Karena kita ini banyak kesamaan Sulut dan Filipina, seperti kondisi geografik, iklim cuaca. Yang beda kayaknya hanya bahasanya,” ungkapnya.(sco)
Baca juga:  Ops Keselamatan, Satlantas Polres Minsel Gelar Bakti Sosial di Masjid Al-Munawarah

Pos terkait