Menu

APEKSU Pertanyakan Bantuan Mesin Kelapa, Buatan Polimdo tak Bisa Digunakan?

  Dibaca : 288 kali
APEKSU Pertanyakan Bantuan Mesin Kelapa, Buatan Polimdo tak Bisa Digunakan?
Ketua APEKSU George J Umpel

indoBRITA, Amurang – Anjloknya harga kopra, itu betul-betul menyakitkan petani. Dan kami salut, Gubernur Sulut Olly Dondokambey, SE telah mengambil langkah membantu petani melalui peralatan. Itu adalah solusi memberikan proteksi bagi petani. Yaitu, mau membangun industry kecil kelapa.

Demikian kata GJ Umpel, Ketua APEKSU saat berbincang-bincang di rumah kopi Kios Topas, Amurang, Rabu (5/12/2018). Katanya, bahwa peralatan mesin untuk membuat minyak kelapa. ‘’Dengan memberikan bantuan mesin untuk petani. Yang saya kawatirkan, program itu bagus. Tapi jangan jadi program itu seperti masa Gubernur SHS,’’tegasnya.

George mengatakan lagi, Gubernur Sarundajang saat kopra anjlok juga telah mengambil solusi untuk membantu petani kelapa. Dengan membagi mesin-mesin ‘cukuran kelapa’ diatas. Tapi ternyata, mesin tersebut tidak bisa digunakan atau dipakai dengan baik.

‘’ Karena, begitu dipakai langsung rusak. Pasalnya, mesin yang dibuat oleh bengkel-bengkel di Sulut tak bisa digunakan dengan baik. Itu alasannya, karena memang duduga hanya asal-asalan. Yang saya kawatir sekarang, bantuan peralatan oleh gubernur OD, jangan-jangan mesin yang dibuat juga asal-asalan,’’ungkapnya.

Baca juga:  Lobi OD-SK di KKP, Sulut Dapat Puluhan Miliar Kredit untuk Pelaku Kelautan dan Perikanan

Selaku Ketua APEKSU menyebut, adalah uji coba yang dilakukannya, atau mesin yang dibuat di Sulut atau Indonesia belum bisa digunakan dengan baik. Yaitu, bengkel-bengkel di Sulut tidak layak dipakai.

‘’Satu contoh, APEKSU pada waktu mengusulkan pabrik mini kelapa (kopra). Pemerintah membantu Rp 4,5 miliard. Dan mesin itu dibuat di Bandung. Tapi, APEKSU waktu itu tidak terima uang. Pada waktu mesin tersebut dibawah di Sulut (Manado, red). Mesin itu waktu diuji coba, langsung hancur. Atau langsung rusak,’’paparnya lagi.

Apakah alat itu seharga Rp 4,5 miliard. ‘’Alatnya langsung rusak. Terakhir juga, Dinas Perindag Sulut memberikan bantuan kepada koperasi petani kelapa di Minsel dengan harga Rp 300 juta. Ya, tahun 2018. Dan mesin itu, dibuat di Politeknik (Polimdo, red). Apa jadinya, mesin itu dipakai, juga mengalami rusak berat,’’sebut Umpel dengan nada bertanya-tanya.

Baca juga:  Memalukan...! DB 1 F Penunggak Pajak Terbesar di Sulut, Ini Daftarnya

Pasalnya, mesin tersebut saat dipakai keluar bersamaan ampas dan santan. Jadi tidak bisa diperas. ‘’Sekali lagi, menurutnya yang mendapat bantuan mesin harus hati-hati. Untuk memberikan bantuan mesin kepada petani, jangan itu hanya menyusahkan petani. Solusi gubernur OD bagus. Tapi yang saya ragu adalah kualitas mesin. Kalau mesin dibuat dibengkel-bengkel Sulut, saya yakin mesin itu tidak bisa digunakan,’’sikapnya.

Umpel juga menambahkan, mesin yang bisa dipakai adalah mesin import. Mesin import sekarang murah. Mesin import tersebut bisa kita beli di China. ‘’Di Jakarta, daerah Glodok, mesin-mesin import itu banyak. Itu lebih terjamin, dari pada mesin yang dibuat bengkel kita,’’kuncinya. (ape)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional