Kasus Meninggal DBD di Sulut Meningkat, Ini Penyebabnya

indoBRITA, Manado – Beberapa tahun belakangan ini, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengalami peningkatan terkait kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Paling tinggi terjadi di tahun 2018 lalu, yang mencapai 1.713 kasus. Dari jumlah itu ada sebanyak 24 orang yang meninggal. Bahkan, tahun 2019 ini kematian karena DBD sudah ada tiga orang.
Tren kasus DBD yang meningkat di Bumi Nyiur Melambai ini diakibatkan oleh pasien belum mengetahui gejala-gejala DBD.
Masyarakat terlambat bawa pasien ke fasilitas kesehatan atau ke rumah sakit. Kemungkinan mereka belum mengetahui gejala DBD. Ketidaktahuan mereka disebabkan karena informasi tak sampai ke mereka,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sulut dr Debbie Kalalo dalam konfrensi pers di Aula Dinas Kesehatan Daerah, Selasa (8/1/2019).
Kalalo menuturkan pihaknya tidak tinggal diam mengingat tiga tahun terakhir ini kasus DBD di Provinsi Sulut meningkat.
Adapun, upaya pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan antara lain telah mengirim surat kewaspadaan dini DBD kepada Dinas Kesehatan kabupate/kota tertanggal 25 September 2018, memberi peringatan kepada Tim Gerak Cepat kabupaten/kota twrkait peningkatan suspec Dunge yang terdeteksi melalui laporan Sistem Kewaspadaan Dini dana respon mulai minggu ke-43 tahun 2018 atau akhir bulan Oktober.
“Kami juga rutin melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektro untuk pencegahan dan penanggulangan DBD. Kami juga melaksanakan penyuluh kepada masyarakat, sosialisasi melalui media cetak dan elektronik,” bebernya.
Ia menambahkan dalam pencegahan DBD yang terpenting adalah bantuan dan peran dari masyarakat.
Diperlukan gerakan masyarakat untuk pemberantasan nyamuk. Jangan cuma sekarang dan tiga bulan atau satu tahun kedepan, atau nanti terdengar kasus DBD baru bergerak. Itu harus menjadi budaya dan rutin dilakukan,” tukasnya.(sco)
Baca juga:  Bankom Garda Sakti Kembali Bagi-bagi Masker

Pos terkait