Menu

Kembangkan Pariwisata Sulut, Usulan Gubernur Olly Disetujui Presiden Jokowi

  Dibaca : 62 kali
Kembangkan Pariwisata Sulut, Usulan Gubernur Olly Disetujui Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo datang ke Sulawesi Utara (Sulut) untuk melihat pariwisata yang gencar didorong Gubernur Olly Dondokambey.

indoBRITA, Manado – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) semenjak dipimpin Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw, tercatat sudah lima kali didatangi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Teranyar, orang nomor satu di Tanah Air ini mengunjungi Bumi Nyiur Melambai, Kamis-Jumat (4-5/7/2019).

Kali ini, kedatangan Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana beserta sejumlah Menteri Kabinet Kerja untuk melihat secara langsung apa saja yang dibutuhkan dalam mendukung pariwisata Sulut. Sebab, Provinsi Sulut kini dilabeli sebagai The Rising Star dalam sektor pariwisata Indonesia.

“Empat tahun terakhir Provinsi Sulawesi Utara ini mampu mendorong pertumbuhan kinerja pariwisata hingga 600 persen. Saya ke sana hendak meninjau infrastruktur pendukung pariwisata itu,” tulis Presiden Jokowi lewat postingannya di Facebook.

Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw ikut menyambut kedatangan Presiden Jokowi.

Diketahui, wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Sulut, pada 2015 sebanyak 20 ribu, tahun 2016 meningkat menjadi 40.000 atau dua kali lipat. Selanjutnya pada 2017 sebanyak 80.000, dan tahun 2018 meningkat menjadi 120.000. Begitu juga pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) dari sekitar 2 juta menjadi 4 juta atau dua kali lipat, 200 persen, padahal di daerah lain hanya sekitar 5 persen sampai 10 persen.

BERIKUT KUNJUNGAN KERJA PRESIDEN JOKOWI DI SULUT:

Setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi Manado, Kamis (4/7/2019) siang Presdien Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana, disambut oleh Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dan Ketua TP-PKK Sulut Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan, Wakil Gubernur Steven Kandouw dan Wakil Ketua TP-PKK Sulut Kartika Devi Kandouw-Tanos beserta Forkopimda Sulut.

Presiden Jokowi yang telah enam kali datang ke Sulut ikut memboyong sejumlah Menteri Kabinet Kerja, yakni Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly serta Johan Budi selaku juru bicara presiden.

Presiden Jokowi melihat langsung aktivitas Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi Manado, Kamis (4/7/2019) siang.

Setibanya di Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi Manado, Presiden Jokowi langsung meninjau bandara tersebut. Kepala Negara mendapatkan penjelasan dan pemaparan data mengenai proyek perluasan bandara oleh Direktur Operasi Angkasa Pura I, Wendo Asrul Rose.

“Pertama, terminal di sini kita lihat memang sudah tidak mencukupi lagi apabila yang ingin datang (turis) kita terima semua. Kedua, runway-nya juga masih kurang panjang apabila pesawat berbadan lebar ingin turun di Manado,” ujar Presiden menjelaskan kondisi bandara Sam Ratulangi selepas peninjauan pada Kamis, 4 Juli 2019.

Masuknya wisatawan asing ke Kota Manado selama beberapa tahun belakangan memang meningkat dan mendongkrak tingkat penerbangan internasional. Permintaan akan perluasan bandara oleh para agen perjalanan wisata dan konsumen sendiri juga sering terdengar.

“Oleh sebab itu sudah kita perintahkan agar segera dibangun terminal yang baru. Akan dimulai nanti bulan September ini dan akan diselesaikan Agustus 2020,” kata Presiden.

Program perluasan Bandara Sam Ratulangi sebagai pendukung industri pariwisata Sulut direncanakan akan menjadikan terminal bandara yang semula seluas 26.000 meter persegi menjadi 56.000 meter persegi. Perluasan tersebut diperkirakan akan dapat melayani hingga 6 juta penumpang per tahun dari yang sebelumnya berada pada kisaran 2,5 juta orang per tahun.

Bersamaan dengan perluasan bandara tersebut, pemerintah juga akan membangun sekaligus membenahi kawasan-kawasan wisata yang ada di sekitarnya. Hal inilah yang menjadi tujuan utama Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Sulut.

“Kita juga akan masuk ke produknya. Pembangunan-pembangunan yang berada pada kawasan-kawasan wisata yang ada di sini ini juga paralel harus segera selesai. Oleh sebab itu saya ke sini untuk mengecek satu-satu biar terintegrasi,” ujar Presiden.

Presiden Jokowi didampingi Menteri Kabinet Kerja dan Gubernur Olly Dondokambey berada di Lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Pulisan, di Likupang, Kabupaten Minahasa Utara.

Setelah meninjau Bandara Sam Ratulangi Manado, Presiden Jokowi dan istri bersama para menteri serta Gubernur Olly Dondokambey menuju ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Pulisan, di Likupang, Kabupaten Minahasa Utara.

Presiden Jokowi pun menyatakan kesiapan pemerintah pusat mem-back up pembangunan KEK Pariwisata tersebut.

“Ini pemerintah pusat ingin me-back up hal-hal yang belum siap, misalnya segera ini kawasan ekonomi khusus pariwisata diselesaikan, jalan-jalan yang belum lebar lebarin, tol yang belum selesai segera diselesaikan, mungkin tolnya Oktober rampunglah, tata ruang yang semua kecegatnya di situ ya, nanti malam kita rapat terbatas kita selesaikan di sini, nanti semuanya biar clear,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan saat meninjau KEK Pariwisata Pulisan, di Likupang, Minahasa Utara, Kamis (4/7/2019) siang.

Untuk mempercepat terwujudnya pembangunan KEK Pariwisata, kata Jokowi, perlu adanya kerja yang terintegrasi antara pemerintah pusat dan daerah, baik kota, provinsi, kabupaten, provinsi dan pusat.

Adapun dari KEK Pariwisata Likupang, Presiden Jokowi dan rombongan menuju ke Graha Gubernuran Bumi Beringin Manado. Di sana, ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Sulut telah berkumpul menanti pemberian sertifikat hak atas tanah yang akan diberikan oleh Presiden Jokowi.

Masyarakat penerima sertifikat hak atas tanah oleh Presiden Jokowi nampak begitu senang dan gembira.

Di hadapan masyarakat, Presiden Jokowi memuji kebijakan Gubernur Olly yang membebaskan seluruh biaya administrasi pengurusan sertifikat tanah bagi masyarakat Sulut.

“Bapak dan ibu di Sulawesi Utara beruntung punya Pak Olly. Karena biaya administrasi sertifikat sudah ditanggung pemerintah daerah,” kata Jokowi.

Lanjutnya, program sertifikat tanah itu penting dan memiliki manfaat besar sebagai tanda bukti sah hak atas tanah.

“Simpan bak-baik sertifikat tanahnya. Difotokopi, diberi plastik, disimpan di tempat yang aman jarena sertifikat tanah ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki,” beber Jokowi.

Jokowi memberikan gambaran zaman dulu hanya 500 ribu bidang tanah yang bisa disertifikat dalam setahun. Artinya, seorang masyarakat perlu waktu kira-kira 160 tahun agar tanahnya bisa disertifikat.

“Siapa yang mau menunggu 160 tahun? Ayo maju sini, saya kasih sepeda gratis,” kata Jokowi.

Presiden Jokowi meminta kepada penerima sertifikat hak atas tanah itu untuk dimanfaatkan dengan baik.

Jokowi juga meminta kepada seluruh masyarakat agar bijak dalam menggunakan sertifikat.

“Tidak masalah sertifikatnya disekolahkan tapi harus bijak, harus dipakai untuk modalnya untuk usaha, kerja atau investasi. Jangan untuk konsumtif,” kunci Jokowi.

Selesai memberikan sertifikat tanah kepada warga, Presiden Jokowi dan rombongan menuju ke Mercure Hotel yang ada di Kabupaten Minahasa untuk beristirahat.

Baca juga:  Bitung Kembali Raih Penghargaan Kota Potensial Pariwisata

Namun seakan belum puas, Presiden Jokowi kembali menuju Manado melihat aktifitas pembelian souvenir oleh wisatawan mancanegara. Presiden pun memilih Jendela Indonesia yang berlokasi di Jalan Piere Tendean, Sario Tumpaan, Sario, Kota Manado.

Sesampainya di lokasi, Presiden langsung mengunjungi gerai yang menjual produk kuliner setempat. Kepala Negara juga ingin mengetahui sejumlah fasilitas publik yang ada untuk mengetahui kesiapan pengelola dan masyarakat dalam hal kenyamanan dan kebersihan area wisata.

“Sekarang kerja enggak bisa makro. Mikro (detail) harus diikuti sehingga betul-betul tampak mana yang harus di- backup oleh pemerintah pusat, mana yang bisa dikerjakan pemerintah provinsi, mana yang swasta,” kata Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi berada di Jendela Indonesia.

Jendela Indonesia adalah sebuah tempat wisata di Kota Manado yang dalam 2,5 tahun belakangan sukses berkembang menjadi sebuah pusat aktivitas wisata. Pusat kuliner yang mengedepankan hidangan khas Indonesia serta UKM-UKM lokal yang menjajakan produk yang menjadi pelengkap daya tarik objek wisata di dekat pantai yang oleh warga setempat disebut Boulevard Manado.

“Di sini menurut saya ada sebuah peluang besar untuk menarik wisatawan, turis, yang itu akan memberikan dampak pertumbuhan ekonomi yang baik bagi Provinsi Sulawesi Utara,” ujar Presiden.

Melalui kunjungannya malam ini, Presiden melihat adanya potensi yang sangat besar bagi objek wisata tersebut untuk menarik lebih banyak lagi wisatawan. Pemerintah pusat bersama dengan pemerintah daerah dan swasta, juga akan memberikan dorongan dan dukungan dalam membenahi atau menyempurnakan fasilitas-fasilitas publik di sekitar kawasan itu.

Presiden Jokowi didampingi Gubernur Olly Dondokambey diwawancarai sejumlah media di Jendela Indonesia.

“Ternyata peminatnya (wisatawan) sangat banyak. Seiring dengan itu, fasilitasnya jangan terlambat diperbaiki,” tuturnya. Setelah dari tempat ini, Presiden kembali ke hotel untuk beristirahat.

Keesekon harinya, Jumat (5/7/2019) pagi, Presiden Jokowi bersama rombongan dan Gubernur Olly Dondokambey menyambangi Taman Laut Nasional Bunaken, yang dikenal memiliki keindahan bawah laut dan kaya akan keanekaragaman hayati.

“Kita ingin melihat lapangan di mana ada potensi-potensi yang bagus, yang dipakai untuk pariwisata. Tapi memang ini adalah area konservasi yang juga harus hati-hati,” ujar Presiden di Dermaga Bunaken.

Berada di atas kapal menuju ke Bunaken.

Presiden dan rombongan bertolak menuju lokasi dari dermaga yang berada di area hotel tempat menginap dengan menaiki kapal Bunaken Crystal 7. Setelah kurang lebih 45 menit perjalanan, rombongan tiba di Dermaga Bunaken dan berganti kapal khusus yang dilengkapi ruang bawah kapal untuk menuju laut lepas dan menikmati kecantikan ikan-ikan tropis serta terumbu karang yang eksotis di salah satu perairan di tempat dengan biodiversitas tertinggi di dunia.

Terkesima dengan keindahan bawah laut Taman Nasional Bunaken, Presiden Joko Widodo berharap potensi pariwisata yang ada di lokasi itu terus dirawat dan dipelihara dengan baik. Menurutnya, lokasi tersebut dapat menjadi salah satu kekuatan pariwisata terbesar di Sulawesi Utara di masa mendatang.

Presiden Jokowi menyapa masyarakat yang ada di Bunaken.

“Saya kira ini potensi yang sangat baik, tapi memang harus dirawat dan dijaga jangan sampai sampah plastik masuk ke sini. Dulu banyak, sekarang tadi saya lihat sudah (bersih) karena rutin dari pemerintah daerah selalu membersihkan sampah-sampah lautnya,” ujarnya.

Sadar akan potensi besar tersebut, pemerintah pusat langsung bergerak untuk menjadikan salah satu kawasan wisata tersebut lebih tertata dan terintegrasi. Ke depannya, destinasi wisata bawah laut tersebut diperkirakan akan jauh lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan, khususnya wisatawan asing, seiring dengan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata Sulawesi Utara oleh pemerintah sehingga memerlukan perencanaan yang matang.

“Ini mau dibuat perencanaan dulu untuk membuat klaster-klaster sehingga penduduknya di sebelah mana jelas, tempat wisata di mana jelas, area konservasinya di mana juga jelas,” kata Kepala Negara.

Kawasan wisata tersebut memang menjadi salah satu magnet pariwisata Sulut. Setiap tahunnya, pemerintah setempat menggelar Festival Pesona Bunaken yang selalu diminati wisatawan asing.

Melihat keindahan Taman Laut Bunaken.

Terkait hal itu, Presiden menegaskan bahwa pihaknya berkejaran dengan waktu dan permintaan yang semakin meningkat dari para wisatawan. Maka itu, pemerintah pusat berkomitmen memberikan dukungan penuh bagi pengembangan pariwisata di Sulut.

Baca juga:  Bertemu Langsung, Ketua PGI dan Gubernur Olly Undang Presiden Hadiri Konferensi Gereja di Manado

“Kita ke lapangan ingin mengejar itu. Kalau biasa-biasa saja kita mungkin enggak (upaya), tapi ini ada keadaan luar biasa yang turis ingin masuk dan kita harus menyiapkan,” tuturnya.

Selanjutnya, Presiden Jokowi pergi ke Kota Bitung. Di sana, Kepala Negara ingin melihat usulan dari Gubernur Olly Dondokambey yang ingin membangun konektifitas melalui jembatan yang akan menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh.

Setelah melihat dari dekat, Jokowi berjanji mendukung penuh pembangunan Jembatan Lembeh. Hal itu disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo saat melakukan kunjungan kerja ke Pelabuhan Bitung, Jumat (5/7/2019).

Presiden Jokowi dan Gubernur Olly Dondokambey ketika berada di Pelabuhan Bitung.

“Tahun depan jembatannya dimulai dari sini ke Lembeh, nanti pariwisatanya hidup, industrinya hidup di kawasan yang berbeda,” ucap Jokowi sambil didampingi Gubernur Olly.

Meski jembatan berdiri, menurut Presiden, industri pelayaran juga tidak serta merta gulung tikar.

“Nanti otomatis datang kalau turisnya banyak, tidak hanya di sekitar Manado ataupun di Bunaken tapi ini juga salah satu alternatif yang bisa dilihat bagus loh, bawah airnya juga cantik jadi industri ya dialihkan, kan ada yang lain, di sini bukan hanya urusan ke Lembeh saja, ke Ternate, Tobelo,” tutur Presiden.

Disamping itu, Jokowi juga mengungkapkan perbaikan Pelabuhan Bitung untuk mendorong volume ekspor-impor melalui pelabuhan tersebut.

“Banyak yang ingin masuk ke sini, ini ujung yang dekat dengan Filipina, dekat dengan Asia bagian Timur. Ini ada kekuatan yang bisa dipakai di sini, baik untuk mengekspor maupun mengimpor barang-barang tertentu,” kata Presiden Jokowi.

Pelabuhan Bitung sendiri adalah pelabuhan internasional yang ditargetkan dapat mendukung pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung yang dinyatakan sebagai salah satu prioritas pembangunan pemerintah.

Di samping itu, keberadaan Pelabuhan Bitung juga akan mendukung kegiatan industri kawasan timur Indonesia meliputi Ambon dan Ternate (pertanian, industri, dan pertambangan) serta Samarinda, Balikpapan, Tarakan, dan Nunukan (batubara, minyak bumi, dan kayu lapis).

“Ini sekali lagi kita tetap melihat fasilitas-fasilitas yang mendukung KEK, begitu fasilitas-fasilitas pendukungnya siap, maka KEK-nya berjalan,” kata Presiden.

Saat ini Pelabuhan Bitung sedang dalam masa perbaikan dan ditargetkan dapat selesai pada Oktober 2019.

“Kami ingin melihat semuanya, misalnya pelabuhan ini akan dimulai perbaikan pada bulan Oktober sehingga bisa untuk pelabuhan rakyat dan pelabuhan yang ada sekarang. Sudah tadi saya sampaikan, Pak Walikota, Pak Gubernur juga, lahan disiapkan dari pemda, kemudian ada yang bangun dari Kementerian Perhubungan. Setahun lah rampung,” kata Presiden Jokowi.

Saat di Lokasi Kawasan Ekonomi Khusus Bitung.

Sebelum tiba di Kota Bitung, Presiden Jokowi sempat meninjau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung dan perkembangan Jalan Tol Manado-Bitung. Kepala Negara memastikan bahwa pembangunan jalan tol yang sempat terkendala persoalan pembebasan lahan itu akan terus berjalan dan segera diselesaikan.

“Jadi tol Manado-Bitung lapangannya masih kurang 13 kilometer yang belum pembebasan (lahan), tapi proses berjalan,” ujarnya di lokasi peninjauan.

Presiden mengatakan bahwa jalan tol tersebut ditargetkan untuk diselesaikan pada awal tahun depan. Kendala yang ada di lapangan juga disebutnya dapat segera teratasi.

“Tadi saya sudah perintah Jasa Marga untuk secepatnya bisa diselesaikan. Mungkin maksimal Maret-April. Insyaallah,” ucapnya.

Tinjau pembangunan Tol Manado-Bitung.

Jalan tol sepanjang 39,9 kilometer tersebut merupakan salah satu proyek strategis nasional. Proyek yang menghubungkan dua kota terbesar di Sulawesi Utara, yakni Manado dan Bitung, diharapkan mendukung peningkatan mobilitas dari dua kota tersebut, mendukung sektor wisata, serta pertumbuhan ekonomi di kota-kota sekitarnya. Jalan tol ini juga akan menjadi jalan akses utama ke KEK Bitung dan Pulau Lembeh yang sedang dikembangkan untuk menjadi destinasi wisata baru Sulawesi Utara.

“Bisa nanti larinya ke pariwisata, bisa larinya ke industri. Karena nanti di Pulau Lembeh itu menjadi titik pariwisata baru di Bitung meskipun (perlu) dukungan industri terutama perikanan dan KEK yang nanti juga berhubungan dengan pelabuhan,” kata Presiden.

Usai meninjau sejumlah infrastruktur pendukung dan destinasi pariwisata yang ada di Sulut, Presiden langsung memimpin rapat terbatas yang dihadiri langsung Gubernur Olly Dondokambey. Pertemuan yang membahas tentang pengembangan pariwisata di Sulut tersebut digelar di ruang tunggu utama Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi, Kota Manado, Jumat, 5 Juli 2019.

Rapat tersebut juga diikuti oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Djalil dan Staf Khusus Presiden Johan Budi.

Selain itu, tampak turut hadir Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Bupati Minahasa, Bupati Minahasa Tenggara, Bupati Minahasa Selatan, Wali Kota Tomohon, Bupati Bolaang Mongondow, Walikota Manado, Bupati Minahasa Utara, Wakil Bupati Bolaang Mongondow Utara, serta Walikota Bitung.

Sebelum meninggalkan Sulut, Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas yang dihadiri sejumlah menteri dan kepala daerah di Sulut.

Setelah rapat terbatas, Presiden yang didampingi Ibu Negara Iriana, menyampaikan kepada para jurnalis bahwa melalui rapat tersebut dirinya ingin mengetahui persoalan-persoalan yang ditemui di lapangan. Tujuannya agar para gubernur, bupati, dan walikota memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang tepat dan cepat.

“Saya berikan contoh urusan tata ruang agar ini bisa dipercepat sehingga investasi yang datang langsung bisa memulai konstruksinya,” ucap Presiden.

Selain itu, Presiden juga menyampaikan tentang penataan beberapa kawasan, termasuk pembagian kerja antara pemerintah pusat dan daerah.

“Kalau kita ketemu dengan cara bekerja terintegrasi pusat, provinsi, kabupaten, dan kota itu akan jelas dan lebih enak. Hasilnya akan lebih gampang dilihat,” ucap Presiden.

Setelah memimpin rapat terbatas, Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta rombongan langsung kembali ke Jakarta dengan menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey memberikan apresiasi yang tinggi kepada Presiden Jokowi yang tak sekedar datang ke Sulut untuk melihat keindahan alam, namun ikut mensupport penuh kepariwisataan Sulut.(advetorial/humaspemprovsulut)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional