Menu

Raja Ampat, Tempat nan Indah dan ‘Surga Kecil’ yang Jatuh ke Tanah

  Dibaca : 1770 kali
Raja Ampat, Tempat nan Indah dan ‘Surga Kecil’ yang Jatuh ke Tanah
Danau LOve besar atau Love Lagoon yang ada di Geosite Karawapop Misool Raja Ampat.(foto : Jeff Wattimena)

“Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi,” sepenggal bait lagu frangky Sahilatua yang menggambarkan kaya dan indahnya Papua memang benar adanya, setidaknya bagi orang-orang yang pernah berkunjung ke bumi Cendrawasih tersebut.

Membuktikan cerita beberapa pelancong yang sudah pernah ke sana, saya dan senior-senior di Mahasiswa Pecinta Alam Aesthetica Fakultas Bahasa dan Seni Unima akhirnya mendapat kesempatan setelah salah satu rekan yang juga anggota kehormatan di organisasi pecinta alam kami, mengundang untuk menikmati indahnya Papua khususnya Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat yang diklaim sebagai jantung dari Segitiga Terumbu Karang Dunia.

Menggunakan kapal Pelni KM Sinabung, tim berjumlah enam belas orang ini berangkat dari Pelabuhan Bitung pada Senin (1/7/2019) dan tiba di Pelabuhan Sorong pada Rabu (3/7/2019).

Karena ketinggalan kapal cepat menuju destinasi pertama kami, tim baru berangkat pada pukul 22.00 Waktu Indonesia Timur (WIT) menggunakan KM Sabuk Nusantara 61 yang melayani rute Tol Laut di sekitar pulau-pulau Raja Ampat dan Fak-Fak.

Tim kami tiba di salah satu dari empat pulau besar di Raja Ampat yakni pulau Misool pada Kamis pagi (4/7/2019), setelah sempat dihantam ombak kencang dalam perjalanan.

Setelah menaruh barang di Home Stay Harfat Jaya yang terletak di Kampung Harapan Jaya Kecamatan (Distrik) Misool Selatan, tim menggunakan 2 Speed boat masing-masing berkekuatan 2 mesin tempel 40 PK meluncur ke spot pertama yakni Geosite Karawapop dimana Love Lagoon atau danau love besar berada.

Oh ya, sebelumnya, Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat telah ditetapkan sebagai kawasan Taman Bumi Nasional (Geopark Nasional)  sejak tahun 2017 oleh Kementerian Kemaritiman RI dan tengah berjuang agar masuk menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark (UGG).

Menaiki anak tangga menuju spot foto Love Lagoon di puncak Geosite Karawapop memang menguras tenaga namun semuanya lunas terbayar ketika tiba di bagian atas dan melihat pemandangan indah danau love besar yang berbatasan langsung dengan laut lepas ini.

Cukup lama mengabadikan keindahan danau love ini, tim kemudian turun dan oleh pemandu kemudian diarahkan untuk makan siang di pantai Kolobi.

Gradasi birunya air laut hingga ke hijau tosca ditambah lagi banyak pulau-pulau kecil mengelilingi kawasan pantai membuat pantai Kolobi ini seperti pantai pribadi. Apalagi saat itu tidak ada siapapun di pantai tersebut selain tim kami.

Saya sendiri, menilai pantai ini adalah pantai paling cantik di Misool Raja Ampat karena view-nya yang sangat indah apalagi pasir putihnya halus seperti tepung terigu.

cukup beristirahat dan snorkling, kami menyudahi petualangan hari pertama kami dan balik ke home stay.

Hari ke-2 kami di Misool Raja Ampat atau Jumat (5/7/2019) kami menyusuri sejumlah spot diantaranya Gua Keramat dimana di depan gua terdapat dua makam yang menurut cerita dari pemandu kami, dua makam yang berdiri di atas batu karang itu merupakan makam dari leluhur warga Misool.

Gua ini sendiri tembus ke belakang dan uniknya, di bagian atas pintu masuk gua Keramat terdapat tulisan yang mirip dengan tulisan arab Lafadz Allah. Konon jika orang memang berniat sungguh-sungguh, cita-cita akan terwujud jika kita meminta langsung di gua ini.

Baca juga:  Firman Jaya Daeli : Pemuda adalah Gugus Utama Bangsa Indonesia

Antara percaya dan tidak percaya, aura mistis di gua ini sangat kental, bahkan saya sampai kebingungan mendengar suara gendang yang ditabuh dari dalam gua dekat pintu masuk gua bagian belakang. Padahal, senior saya di Mapala, Ferdy Pangalila yang juga jurnalis di salah satu media cetak di Manado, berjalan tepat di depan saya namun tidak mendengar suara gendang tersebut.

Perjalanan dengan dua speed boat kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Gua Tengkorak dimana sejumlah tengkorak para prajurit-prajurit kepulauan Misool zaman dahulu diletakan di salah satu gua di tebing batu.

Usai mengunjungi dua gua, kami melanjutkan melihat salah satu batu yang dari sisi sebelahnya mirip dengan siluet wajah manusia dan berdiri tegak tersendiri di dalam teluk yang dikelilingi pulau-pulau kecil.

Spot selanjutnya, adalah melihat dari dekat pra sejarah atau lukisan purba di dua tempat masing-masing di Gua telapak tangan yang sebetulnya hanya dinding karang kemudian di Sumalelen yang lebih banyak jenis lukisan mulai dari gambar ikan hingga telapak tangan yang sepintas mirip disemprot dengan cat semprot.

Usai melihat dari melihat lukisan prasejarah, kami kemudian diantar menuju salah satu pulau kecil yang ternyata sudah disiapkan dermaga kecil untuk speed boat untuk makan siang.

Tim tak hentinya berdecak kagum dengan pemandangan di sekeliling dermaga yang rata-rata dikelilingi oleh pulau-pulau karang kecil dan hebatnya lagi, oleh pemandu kami diajak naik di salah satu puncak bukit yang tidak lain adalah atraksi utama kunjungan ke Misool Raja Ampat ini.

Di puncak yang diberi nama puncak Harfat dan diambil dari singkatan nama Harun Sapua dan Fatma ayah dan ibu dari guide kami Muslim Sapua penemu puncak terindah ini, kami disuguhkan dengan pemandangan surga yang luar biasa indahnya.

 

Bukan cuma itu, dari puncak Harfat, wisatawan bisa melihat nyaris 360 derajat kolam-kolam di bawah sekeliling puncak batu karang tersebut dan hebatnya lagi, salah satu view dari puncak ini ternyata ada di cetakan lembaran uang kertas Seratus Ribu Rupiah yang terbaru.

Alhasil, tim yang memang seluruhnya hobby berswafoto menghabiskan sisa hari di lokasi ini.

Di perjalanan pulang, tim kami sempat diantar menyambangi danau ubur-ubur yang menurut pemandu, ubur-ubur disini tidak menyengat namun karena pengaruh cuaca, maka ubur-ubur yang dicari hanya mengendap di bagian dasar sehingga tim memutuskan untuk langsung pulang tanpa berenang di danau tersebut namun singgah sebentar menikmati sunset di Batu susun yang jaraknya tak jauh dari kampung Harapan Jaya tempat kami menginap.

Trip di hari terakhir kami di Misool mengunjungi sejumlah spot diantaranya adalah gua putri termenung, batu mirip bebek, batu odong-odong, batu kemaluan dan mendaki puncak Geosite Dafalen untuk menikmati indahnya pemandangan danau love kecil yang ada di Geosite ini.

Banyak sekali cerita yang terus diulang terkait spot-spot yang sudah kami kunjungi bahkan saya sempat berbincang dengan rekan-rekan dan senior-senior saya dalam tim kami, masing-masing Yappi Runtuwene bersama istri wiraswasta sukses dari Kawangkoan, Alwan Hatma guru di salah satu SMP di Sonder bersama istri, Bob Sumoked yang juga Guide Rafting di Manado, Fanny Palilingan Guru di salah satu SMP di Manado, Jeff Wattimena guru di SMPN 1 Bitung yang juga seniman lukis, dan Ferdy Pangalila jurnalis, Agustina Tangkabiringan Guru di salah satu SMP di Bitung, Eva Makese guru di Gorontalo, Zakiah Hanafi guru di SMA Ternate, Herce Kekung Guru di salah satu SMA di Tomohon dan yang menjadi topik adalah tidak cukupnya waktu untuk mengunjungi Misool ini.

Baca juga:  Tsunami Selat Sunda, 62 Orang Meninggal dan Ratusan Rumah Rusak Parah

Walaupun di tim ini ada dua orang jurnalis dan satu orang seniman, namun tim merasa belum cukup karena seharusnya, yang ikut dalam rombongan ada satu orang minimal penyair yang bisa menggambarkan detail indahnya surga Misool Raja Ampat ini.

Karena urusan pekerjaan dan lain-lain, sejumlah anggota Tim harus balik ke Manado dan Bitung, olehnya, kami menyudahi petualangan di Misool dengan menumpang kapal cepat kembali ke kota Sorong.

Sisa 9 orang anggota tim melanjutkan perjalanan menggunakan kapal cepat ke Waisai Ibu kota Kabupaten Raja Ampat dan bertemu langsung dengan rekan kami Rina Sanoy dan suaminya Melky Pandjaitan serta Sitti Habiba anggota Mapala kami yang telah menjadi Kepsek di Waisai yang ternyata masih memberikan kejutan tambahan berupa trip lanjutan mengunjungi Kali Biru di kampung Warsambin di hari pertama di Waisai serta mengunjungi spot paling terkenal di Raja Ampat yakni Geosite Piaynemo namun sebelumnya singgah berswafoto di Pasir Timbul pulau Mansuar dan berenang bersama ikan-ikan yang sangat banyak di kampung Arborek.

 

Kampung Arborek merupakan sebuah kampung wisata yang terletak di Meos Mansar, Raja Ampat, Papua Barat. Keindahannya sudah terkenal ke seantero dunia. Pemandangan bawah lautnya memikat banyak penyelam dari berbagai belahan dunia.

Lokasi menyelamnya juga tidak jauh dari dermaga utama di pulau yang hanya dihuni sekira 40 Kepala Keluarga dan memiliki luas sekira 7 Hektar ini.

Tim kami sangat juga sangat berterima kasih atas undangan dan jamuan dari Keluarga Sanoy-Pandjaitan dan Sitti Habiba yang luar biasa mengatur perjalanan kami mulai dari Misool hingga ke Waisai.

Setelah mengucapkan salam terima kasih pada keluarga yang ramah ini, tim kemudian balik ke Sorong menggunakan kapal cepat dan diantar Irhamy Sulaeman rekan lainnya, kami langsung menuju Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong untuk balik ke Manado.

Sebagai catatan akhir, mengunjungi Kabupaten Raja Ampat, wisatawan membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk bisa minimal mengunjungi semua lokasi wisata di kabupaten tersebut, masih banyak lagi lokasi yang tak kalah menarik yang belum kami kunjungi seperti pulau Wayag, melihat dari dekat migrasi Paus Orca yang langka, berenang dengan Pari Manta yang menjadi ikon dan lambang kabupaten Raja Ampat dan lokasi pantai lainnya.

Terima kasih untuk keramahan Raja Ampat, Kabupaten paling cantik di Indonesia, suatu saat mungkin kami akan balik lagi berkunjung ke sana.(*)

 

 

 

 

 

 

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional