Menu

INSIDEN PAPUA, SIAPA DIRUGIKAN?

  Dibaca : 28 kali
INSIDEN PAPUA, SIAPA DIRUGIKAN?
Adhyaksa Dault (Foto: Kumparan/ist)

Oleh: Adhyaksa Dault

PERANG tagar kembali terjadi di media sosial. Hari Minggu (25/8/2019), tagar #BubarkanBanser menjadi trending topik Indonesia di twitter. Tagar itu juga sempat menjadi trending topik dunia, yaitu di posisi kelima.

Muncul tagar tandingannya, #BanserUntukNegeri. Di hari yang sama, tagar ini juga menjadi trending topik Indonesia di twitter. “Coba saja bubarkan kami, kami adalah pemilik negeri,” tulis salah satu netizen dengan tagar ini.

Ada asap ada api. Topik itu muncul disebut-sebut tidak lepas dari tuntutan massa aksi di lapangan apel kantor Walikota Sorong, Rabu (21/8/2019) lalu. Salah satu tuntutan mereka adalah “Pemerintah harus segera bubarkan ormas Banser dari negara Republik Indonesia”.

Siapa pemenangnya?, tidak penting siapa yang menang dari perang tagar tersebut. Apalagi, keributan itu tidak ada untungnya bagi warga Papua dan NKRI. Juga tidak membawa penyelesaian terhadap insiden yang menimpa masyarakat Papua.

Demi NKRI, bisakah mereka melupakan sejenak keributan itu?. Keributan itu membuat polarisasi di tanah air kembali terjadi. Polarisasi seolah tidak pernah mati. Selesai satu, tumbuh polarisasi yang lain.

Jumat (16/8/2019) lalu, diketahui terjadi penggrebekan asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Kemudian ada oknum teriak ‘monyet’ yang ditujukan kepada mahasiswa Papua dalam insiden di Surabaya belakangan ini.

Ketika seseorang disebut monyet dan lainnya, bukan berarti orang itu disamakan dengan binatang yang dibenci seperti tikus, ular, dan lainnya. Sebutan ini berarti dia dianggap lebih rendah derajatnya. Di samping bentuk dehumanisasi, sebutan ini adalah bentuk provokasi kebencian.

Wajar, masyarakat Papua tidak terima dan meluapkan kekesalannya. “Sebagai seorang perempuan, sebagai seorang ibu yang melahirkan anak-anak Papua, kami merasa sangat dilecehkan. Saya Papua, bukan monyet!,” teriak seorang ibu di tengah kerumunan massa di Sorong, Papua Barat, Senin (19/8/2019) lalu.

Bagi Greenwalt (1995), akibat dari provokasi kebencian dapat berujung pada reaksi kekerasan. Terlebih, provokasi kebencian itu disampaikan lewat bahasa atau simbol tertentu. Dalam hal ini, lewat bahasa atau sebutan ‘monyet’ yang digunakan untuk memprovokasi. Insiden kekerasan yang terjadi belakangan ini cukup menjadi bukti tesis Greenwalt.

Baca juga:  Siapa Yang Patut Baca Teks Proklamasi?

Belakangan beredar video seorang warga Papua mengibarkan bendera merah putih. “Saya tidak takut mati demi merah putih. Catat itu. Catat itu,” teriak lelaki itu dalam sebuah video. Kalau melihat semangat itu, masih kah kita mempertanyakan cinta NKRI yang dimiliki masyarakat Papua?.

“Ada apa dengan Indonesia ku ini. Dulu pahlawan mati-matian berjuang untuk mendapatkan kedamaian, mengapa kedamaian itu kini malah kita sendiri yang menghancurkan. Ada apa dengan indonesiaku kini. Dulu setiap nyawa dan darah yang mengalir begitu berarti,” komentar salah satu netizen dalam postingan video itu di akun instagram saya.

Lalu, siapa yang dirugikan atas insiden Papua tersebut?. Selain masyarakat Papua, tentu saja NKRI dirugikan. Papua adalah bagian tidak terpisahkan dari NKRI.

Solusi masalah ini bisa dimulai dengan permintaan maaf kepada masyarakat Papua. Permintaan maaf bisa jadi panecea atas insiden yang menimpa saudara kita masyarakat Papua. Setelah meminta maaf, apakah perkara selesai?, tentu saja belum. Namanya saja panecea, sifatnya sementara.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kota Surabaya telah melakukan komunikasi dengan warga Papua yang ada di wilayahnya. Mereka juga telah meminta maaf atas insiden yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu. Langkah ini perlu diapresiasi. Langkah ini bisa juga dilakukan oleh pihak-pihak terkait.

Insiden yang menimpa warga Papua itu bisa menjadi trigger untuk mengevaluasi perkembangan Papua sebagai bagian tidak terpisahkan dari NKRI. Apalagi, Papua secara geologis memiliki sumber daya alam yang menguntungkan bagi negara.

Badan Pusat Statisik (BPS) Provinsi Papua merilis presentase penduduk miskin pada Maret 2019. Secara keseluruhan menurut daerah, penduduk miskin yang tinggal di kota maupun tinggal di desa di wilayah Papua tercatat sebanyak 926,36 ribu jiwa.

Baca juga:  Pemuda sebagai Harapan dan Generasi Penerus Bangsa

“Papua menjadi peringkat pertama persentase penduduk miskin terbesar di Indonesia timur, termasuk peringkat kedua adalah Papua Barat dan peringkat ketiga  NTT,” kata Kepala BPS Papua, Simon Sapary, Senin (15/7/2019).

Bukankah Papua mempunyai SDA yang melimpah, mengapa tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat Papua?. Artinya, kekayaan alam tanah Papua tidak banyak memberi keuntungan bagi seluruh warga lokal.

Catatan dari Tim Kajian Papua Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan bahwa diskriminasi dan marjinalisasi kepada penduduk Papua serta serangkaian pelanggaran HAM merupakan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya berbagai permasalahan di wilayah tersebut, di samping belum optimalnya pembangunan.

Belum lagi masalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua. Mengacu Papua Road Map yang dibuat Tim Kajian Papua LIPI pada 2009, sumber konflik di Papua bersumber dari pelanggaran HAM masa lalu yang penyelesaiannya menggantung.

Jika dibiarkan berlarut-larut, ketimpangan sosial bukan tidak mungkin akan semakin melebar. Kelompok dominan akan semakin dominan. Kelompok yang dibenci akan terus tersingkirkan. Karena itu, penanganan masalah Papua tidak bisa disederhanakan, tanpa mempertimbangkan konteks yang lebih luas.

Insiden Papua menyadarkan kita sebagai masyarakat Indonesia tidak boleh terkotak-kotak berdasarkan daerah dan lain-lain. Kita mempunyai rumah besar, ada 34 kamar provinsi, dan kamar-kamar lainnya.

Sejak reformasi, banyak yang memikirkan kamarnya sendiri-sendiri, dan bahkan eksklusif. Padahal, kebhinnekaan dalam keberagaman itu haruslah inklusif. Kita juga tidak boleh lupa bahwa kita satu rumah besar NKRI, yang harus dijaga dan dirawat.

Ya Allah, lindungi negeri kami, NKRI ini, dari orang-orang yang ingin mengadu domba dan memecah-belah persatuan kami. Para pendiri RI telah berjuang ikhlas mengorbankan segalanya untuk membangun persatuan NKRI. (Penulis adalah Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional