Menu

That’s Good Christiany Eugenia Paruntu

  Dibaca : 606 kali
That’s Good Christiany Eugenia Paruntu
Meikel Stiff Maringka

Oleh Meikel Stif Maringka

NAMA-NAMA Kabinet Indonesia Maju sudah dibacakan dan dilantik Presiden Jokowi. Dari 34 menteri yang dipilih, memang tak ada nama Christiany Eugenia Paruntu atau CEP. Tak ada keterwakilan Sulut.

Beberapa menit sebelum diumumkan, saya masih berdoa dan berharap Jokowi memasukkan nama CEP. Saya percaya Jokowi kali ini tak mengesampingkan lagi putra-putri Sulut.

Wajar jika periode pertama kepemimpinannya tak mengakomodir Sulut. Periode kedua, rasanya tak ada alasan lagi bagi mantan Gubernur DKI itu untuk tidak memilih wakil Sulut. Selain punya kedekatan dengan Gubernur Olly Dondokambey, Sulut menyumbang kemenangan atau prosentase suara yang cukup signifikan pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Sulut lebih memilih Jokowi ketimbang Prabowo Subianto yang nota bene ibunya asli Minahasa.

CEP di istana (ist)

Tapi, harapan itu tak menjadi kenyataan. Nama CEP tak ada. Tak terakomodirnya CEP dan tak dipanggilnya Olly Dondokambey menandakan Jokowi belum juga ‘memercayai’ putra terbaik Sulut.

Memang ada Prabowo dalam jajaran kabinetnya. Namun, mantan rivalnya di dua kali pelaksanaan Pilpres itu lebih banyak menghabiskan waktunya di luar Sulut. Prabowo lebih dikenal sebagai tokoh nasional.

Masuk akal jika mayoritas warga Sulut kecewa. Saya juga. Saya amati terus semua televisi yang menayangkan pengumuman pembantu presiden.

Yang paling membuat saya kecewa adalah news soal CEP. Istana Negara melalui juru bicaranya Bey Machmudin menyebut Bupati Minahasa Selatan (Minsel) itu bukan diundang sebagai menteri. Karena itu CEP tak bisa bertemu Presiden.

Pernyataan itu terkesan memojokkan. Saya meradang. Sebagai warga Sulut dan kader Partai Golkar, saya tidak rela CEP diperlakukan seperti itu.

Penghargaan dari Kementerian Pendidikan (ist)

CEP jelas datang ke Istana karena ada undangan resmi. Ia tak mungkin nyelonong begitu saja ke istana. Tak mungkin pula dijemput Paspampres dan diantar melalui pintu utama kalau tak ada panggilan resmi.

Ia diundang karena dianggap punya kapasitas setara menteri. Wanita cantik ini memang lebih banyak berdiam di Minsel. Tapi, kiprahnya sangat nasional.

Baca juga:  Percasi Minsel Ikut Kejurnas di Aceh, Terima Kasih KONI

Sebelum jadi bupati, puteri mantan Rektor Universitas Sam Ratulangi Joppie Paruntu dan politisi ternama Jenny Tumbuan ini dikenal sebagai pengusaha sukses ibukota. Ia juga memiliki jejaring sampai internasional. CEP adalah wirausahawan yang berintegritas dan terpakai di kalangan nasional, termasuk di lingkup TNI.

Dia pernah menjabat Presiden Direktur PT Puspita Adhiniaga Indonesia, Presiden Direktur PT Chandra Ekakarya Pratam, dan Direktur PT Partim Indomakmur. Ibu dari Anggpota DPR RI Adrian Paruntu ini juga sempat menjadi komisaris PT Chandra Ekakarya Pratama (1999-2006) dan PT Trutama Star (2004-2009). Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di bidang distribusi, alat-alat berat, perangkat telekomunikasi, dan perkapalan.

Selama menjadi pengusaha, ia mendapatkan beberapa penghargaan, seperti Best Dressed Woman Indonesia tahun 1992 dan Lions Clubs International 2007.

Kiprah mentereng CEP di dunia usaha berlanjut dalam bidang politik dan pemerintahan. Seabrek penghargaan dan prestasi mampir di meja kerjanya selang sembilan tahun kepemimpinannya di Minsel.

Penghargaan dari Kementerian Koperasi dan UMKM (ist)

Ia melambungkan Minsel melalui kebijakan yang pro rakyat. Pendidikan dan kesehatan jadi prioritas, pariwisata dipacu, infrastruktur digenjot. Revitalisasi pertanian juga tak luput dari perhatianya. Di tangannya, Brand Cap Tikus mendunia melalui olahan fermentasi. Penjualan sayur dan buah-buahan hasil petani Minsel merambah banyak daerah, bahkan sampai ke sejumlah negara.

CEP melahirkan program pro rakyat setelah berkeliling semua desa di Minsel. Ia turun langsung melihat realita dan kondisi rakyatnya. Dengan formula Minsel Berdikari Cepat, kabupaten paling selatan di Tanah Minahasa itu berkembang pesat. Minsel menggeliat.

Sangat pantas jika Manado Post dan media-media lokal Sulut menyematkan Ibu Pembangunan Desa. Sangat pantas pula jika pemerintah pusat memberikan penghargaan Anugerah Pangripta Nusantara kepadanya. CEP dianggap memiliki perencanaan pembangunan terbaik, pro rakyat dan tepat sasaran.

CEP juga beberapa kali ke Jakarta untuk menerima penghargaan langsung dari Presiden Jokowi dan sejumlah kementerian. Penghargaan Universal Health Coverage (UHC) dan Bintang Jasa Utama antara lain yang diserahkan langsung Presiden Jokowi kepadanya.

Baca juga:  Berkunjung di Manokwari, Bupati CEP di Jemput Dengan Tarian Adat

CEP pun pernah diganjar penghargaan Natamukti 2018 dari Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro, penghargaan di bidang pertanian, pendidikan dan predikat Minsek sebagai Kota Layak Anak. Semua penghargaan itu membuktikan kinerja luar biasa seorang CEP.

Ia tak sekedar cantik, tapi juga cerdas. Jelas kalau ia bukan perempuan biasa. Terang benderang mengapa Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto merekomendasikan namanya untuk masuk jajaran kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin. Airlangga sangat tahu kemampuan CEP. Kemampuannya setara dengan menteri.

Makanya saat CEP tak dipilih, Airlangga tak bisa menyembunyikan kekecewaanya. Usai bertemu Jokowi, muka Airlangga nampak tak bahagia. Padahal Airlangga baru mendapat kepercayaan sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi. Ia tak bahagia karena salah satu kader yang ia percaya bisa memberi sumbangsih terbaik buat bangsa dan negara tak masuk dalam kabinet.

Airlangga jelas tak bisa memaksakan kehendaknya. Ia paham benar kalau menteri itu hak preogatif presiden. Ia menerima keputusan apa pun yang ditetapkan presiden. Airlangga legowo, CEP legowo, kami kader Golkar juga legowo. Masyarakat Minsel dan Sulut yang terluka juga menerima pilihan Jokowi.

Kami legowo, masyarakat pada akhirnya tenang karena pernyataan CEP yang sejuk. Ia menenangkan rakyat dan pendukungnya dengan sikap dan keteladanan. “Apa yang diputuskan Pak Jokowi harus didukung. Kita harus bergandengan tangan, berkarya sesuai kompetensi masing-masing senantiasa berdoa untuk kemajuan bangsa,” kata CEP.

CEP memang tak jadi masuk kabinet. Namun, ia menunjukkan contoh yang baik. Bahwa ketika negara memanggil harus siap. Bahwa saat jabatan atau kepercayaan itu tak jadi diberikan, tetap disyukuri. Kita beruntung memiliki pemimpin bijak, rendah hati dan takut akan Tuhan seperti CEP. Semua ia pandang dengan rasa syukur.  That’s good Ibu CEP. Kami bangga padamu. (Penulis adalah Kader Golkar/Anggota DPRD Manado)***

 

 

 

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional