Menu

Ironi Pendidikan Sulut

  Dibaca : 127 kali
Ironi Pendidikan Sulut
Joppie Worek (ist)

Oleh Joppie Worek

DAHULU, Sulawesi Utara adalah kiblat pendidikan di paruh Timur Nusantara. Sampai permulaan tahun 1980an, pelajar dan mahasiswa dari Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, Sulawesi Tenggara, bahkan Sulawsi Selatan setiap tahun berbondong-bondong datang ke Manado dan Tomohon. Mereka memburu ilmu di sekolah-sekolah kejuruan dan perguruan tinggi. IKIP Negeri Manado (sekarang UNIMA), Unsrat, Seminari Pineleng, UKIT Tomohon, Unklab dll, serta sekolah menengah kejuruan adalah alamat perburuan ilmu mereka.

Saya masih ingat, sekitar 1975 kawasan Sario dan Bahu, serta Kleak ada beberapa asrama mahasiswa perantauan dari Donggala, Tolitoli, Luwuk Banggai, Gorontalo, Ternate, dan Papua. Mereka tinggal seasrama dengan fasilitas seadanya.

Itu dulu, sekarang sudah jauh berbeda. Anak-anak muda Gorontalo, Maluku Utara, Sulawesi Tengah yang ingin sekolah di luar daerah, tidak lagi berkiblat ke Manado dan Tomohon. Sekarang mereka lebih memilih Makassar, Surabaya, Yogjakarta, atau Jakarta. Bahkan, banyak pelajar asal Sulawesi Utara yang lebih memilih study lanjut di Jakarta, Surabaya, dan Yogjakarta.

Artinya, Sulut bukan lagi pusat pendidikan di Timur Indonesia. Artinya juga, fasilitas dan kualitas pendidikan dan perguruan di Sulut tidak lebih baik dari kota-kota lain.

Ada apa dengan pendidikan dan perguruan di Sulawesi Utara ? Saya tidak akan mengkaji secara mendalam, apa sesungguhnya yang terjadi? Saya hanya mau memberi catatan-catatan faktual sebagai berikut.

  1. Dunia pendidikan di Sulut pada masa lalu didominasi oleh lembaga gereja. Tetapi sekarang banyak konflik kelembagaan. GMIM misalnya mempunyai sekolah dasar di hampir semua desa di Manado, Minahasa (Raya), dan Bitung. Tetapi sekolah-sekolah itu kini “lenyap” karena pengelolaannya diserahkan pada pemerintah atau swasta. Sekolah-sekolah kejuruan milik GMIM seperti STM, Sekolah Pertanian, Sekokah Perawat, dan SPG dan PGA, kini ‘hidup segan mati tak rela’. Demikian pula perguruan tingginya, UKIT sudah sekitar 15 tahun dilanda konflik.
  2. Perguruan tinggi negeri sekelas Unsrat dan UNIMA juga tidak menjadi semakin disukai generasi baru di Kawasan Timur Indonesia. UNIMA dulu menonjol dalam bidang pendidikan keguruan. Sedangkan Unsrat dulu paling terkenal adalah Fakultas Kedokteran, FISIP, Fakuktas Tehnik dan Fakultas Pertanian. Ada banyak fakta lain yang menunjuk bahwa kelembagaan pendidikan tinggi di Unsart dan Unima tidak semakin baik. Konflik dan perebutan “kekuasan” menjadi seperti arena politik. Konflik antar mahasiswa yang pernah berujung pembakaran gedung Fakultas Tehnik Unsrat juga menjadi catatan kelam pendidikan tinggi di Sulut.
  3. Kasus ijasah palsu yang mengguncang sejumlah lembaga pendidikan juga menjadi coretan hitam yang merendahkan citra pendidikan tinggi di daerah ini.
  4. Hal serupa juga terjadi di pendidikan dasar dan menengah. Kelembagaan sekolah terkooptasi oleh kepentingan kekuasaan politik. Sekolah-sekolah terlihat loyalitasnya dari warna pagar dan gedung sekolah. Tergantung warna kepemimpinan politik. Kalau pemimpinnya merah, warna gedung dan pagar bernuansa merah. Kalau biru atau kuning tentu akan ikut selera pimpinan pembuat SK jabatan kepala sekolah. Pendidikan dasar dan menengah tidak lagi murni setia mengabdi pada panggilan belajar dan mengajar.
  5. Fakta yang paling menyakitkan, sudah ada jurang yang dalam antara para guru pengelola pendidikan dengan anak didik. Hubungan etik moral guru dan murid telah rusak, guru dipandang “biasa” oleh murid. Mungkin juga murid dipandang “biasa” oleh guru. Padahal sepatutnya guru dan murid memiliki hubungan moral, pendidik/pengajar dengan yang dididik.
Baca juga:  PT Waskita Beton Precast Manado Diduga Gunakan Cap Toko Palsu Untuk Dokumen Proyek Jalan Tol

Salah satu bukti dari asumsi itu adalah sering terjadi kasus kriminal antara guru dan murid. Yang paling tragis, peristiwa murid membunuh guru dengan beberapa tikaman, setelah sebelumnya korban dikeroyok oleh murid-muridnya.

Semua fakta di atas hendaklah menjadi catatan koreksi untuk semua pihak yang terlibat langsung pada pendidikan, baik pemerintah selaku fasilitator dan motivator, para guru sebagai pengelola pendidikan formal, orang tua murid, dan seluruh masyarakat. Kita tentu sangat yakin, pendidikan adalah tiang utama membangun peradaban yang bermartabat.

Izinkan saya menitipkan pesan sederhana untuk semua sbb :

  1. Pemerintah hendaknya memberi perhatian serius pada persoalan-persoalan pendidikan. Jangan hanya memberi fasilitasi, tetapi motivasi atau pendampingan dan keteladanan diperlukan untuk memperkokoh pilar-pilar pendidikan. Jangan lagi menyusupkan kepentingan politik kekuasaan pada semua lembaga pendidikan.
  2. Para pengelola pendidikan agar menjaga integritas profesi mulia sebagai guru, jangan main api politik dibalik panggilan profesi. Bangun kembali interaksi harmoni antara guru, murid, dan orang tua.
  3. Orang tua murid dan masyarakat, mari bersama mengawal dan ikut membekali anak-anak didik kita dengan ilmu dan pengetahuan seimbang dengan pendidikan etik moral.
  4. Lembaga-lembaga keagamaan juga terpanggil ikut serta menyebarkan ajaran etik moral dari lembaga pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Lembaga keagamaan juga bertanggung jawab pada jalan sejarah peradaban yang bermartabat dan maju.
Baca juga:  Depan Ribuan Mahasiswa Unima, Brani Jadi Pembicara di Seminar Motivasi Spirit of Indonesia

Semoga catatan kecil ini berguna untuk anak anak kita.  Salam, JHEW. (Penulis adalah Dewan Penasehat indoBRITA)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional