Sambut Natal dan Tahun Baru tanpa Gangguan Kamtibmas

  • Whatsapp

Oleh : Lexie Kalesaran

PERAYAAN kelahiran Tuhan Yesus Kristus yang seringkali disingkat Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 sudah dekat. Pelbagai aktivitas menyongsong dua iven besar dan penting tersebut sudah berjalan.

Bacaan Lainnya

Di mana-mana kita sering mengikuti, melihat/menyaksikan rupa-rupa kegiatan seperti acara/ibadah Pra Natal mulai dari tingkat Kolom, Jemaat, organisasi baik pemerintah, swasta maupun rukun atau kelompok tertentu.

Pelbagai ornamen Natal termasuk pohon Natal, atribut Senterklas, lampu-lampu Natal sudah terhias di  pusat perbelanjaan, tempat-tempat umum atau sejumlah tempat lainnya. Sejumlah persiapan menjelang pisah tahun dari tahun 2019 menuju tahun 2020 telah pula disiapkan.

Hotel-hotel baik berbintang maupun melatih, tempat-tempat rekreasi sudah berbenah menyambut kedatangan mereka yang akan memanfaatkan momen tersebut. Sejumlah tawaran seperti paket-paket menarik termasuk diskon telah ditawarkan.

Pusat-pusat perbelanjaan pun menawarkan diskon yabg sangat menarik di momen menjelang Natal dan Tahun Baru ini. Sejalan dengan itu pula, acapkali kita dikejutkan dengan adanya bunyi petasan atau kembang api baik yang dilakukan oleh orang-orang dewasa maupun anak-anak kecil.

Bunyi petasan atau kembang api itu terdengar tak memamdang waktu. Kadangkala sore atau malam, tapi tak jarang di luar waktu tersebut.

Sadar atau tidak sadar, bunyi petasan atau kembang api itu, acapkali telah mengganggu kenyaman orang lain. Memang, ada sebagian orang merasa biasa-biasa saja atau merasa sebagai hiburan.

Kendati demikian, tak jarang, dengan tergganggunya kenyamanan orang, bisa menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan. Bahkan, biaa menjurus kepada terganggunya keamanan dan ketertiban dalam masyarakat.

Baca juga:  Minut harus jadi Kabupaten Progresif

Di momen menjelang dan saat Natal dan Tahun Baru, tak jarang pula kita mendengar atau melihat adanya orang yang berkendara secara ugal-ugalan yang dilakukan orang atau kelompok orang termasuk anak-anak muda. Kebanyakan terjadi di waktu malam.

Berkendara secara ugal-ugalan yang terjadi di jalan umum apalagi di jalan kampung, sudah tentu, sangat membahayakan bagi pengendara-pengendara lainnya bahkan masyarakat yang ada di sekitar lokasi yang dilewati orang yang berkendara secara ugal-ugalan tersebut termasuk mereka sendiri.

Bagi orang yang berkendara secara ugal-ugalan, hal itu mungkin sungguh menyenangkan. Tapi bagi pengendara lain dan maayarakat yang ada di sekitar lokasi, sungguh sangat menjengkelkan atau tidak mengenakkan bahkan bisa jadi petaka.

Bukan tidak mungkin akan memunculkan reaksi balik, yang akan menimbulkan percekcokan atau tindakan lain, yang bisa saja berefek panjang atau tindakan berdampak hukum.

Demikian pula, tak dapat dipungkiri bahwa di momen menjelang dan saat Natal dan Tahun Baru acapkali terlihat adanya orang atau kelompok orang yang suka berhura-hura dengan menggunakan minuman keras (miras), bahkan sampai mabuk-mabukan.

Kondisi demikian (mabuk), tak jarang menimbulkan percekvokan  salah pengertian dan lain-lain yang bahkan menimbulkan gangguan kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat). Sering terdengar di malam hari (atau pagi/siang hari) ada orang yang ‘bakuku’ (berteriak-teriak) akibat sudah dipengaruhi miras yang berlebihan (mabuk).

Situasi tersebut, sudah tentu, sangat mengganggu masyarakat setempat. Ada masyarakat yang mendiamkan dengan alasan tertentu. tapi bukan tidak mungkin ada yang berkeberatan dan bereaksi. Kalau sudah demikian, bisa berujung pada tindakan yang berdampak hukum (walau hal ini diharapkan tidak terjadi dan hendaknya diupayakan pencegahannya).

Baca juga:  Ops Lilin Samrat-2020 pengamanan Nataru, Polres Minsel dirikan Satu Pos Yan dan Enam Pos Pam

Tawuran juga acapkali terjadi karena ada pihak atau dua pihak yang sudah dipengaruhi miras berlebihan di samping karena faktor-faktor seperti adanya informasi-informasi yang belum tentu benar, dipanas-panasi, atau provokasi yang tidak ingin nasyarakat atau daerah tertentu aman.

Di momen Natal dan Tahun Baru ini, bukan tidak mungkin hal tersebut terjadi sehingga menimbulkan ‘gesekan-gesekan’ lanjutan atau bisa membesar, walau hal ini diharapkan tidak terjadi.

Untuk menghindari hal-hal yang disebutkan di atas yakni pemasangan/pesta petas-petasan, berkendara secara ugal-ugalan, hura-hura dengan miras, tawuran dan lain-lain yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan orang lain atau mengganggu kamtibmas di momen menjelang dan saat Natal dan Tahun Baru, seyogianya kita mengembalikan pada makna dasar peringatan/perayaan itu sendiri.

Ada banyak rupa/cara menyongsong/memperingati Natal dan Tahun Baru. Bukan dengan cara/rupa seperti sudah disebutkan di atas, yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan orang lain atau gangguan kamtibmas. Namun, mengutip harapan/imbauan Kapolda Sulut Irjen Pol. Dr. Remigius Sigid Tri Hardjanto, SH, Msi adalah dengan meramaikan tempat-tempat ibadah dan berdoa/berdzikir.

Dengan meramaikan (mendatangi) baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok tempat-tempat ibadah dan berdzikir maka hati kita makin dilapangkan, menjadi bersih. menjadi baru sehingga bisa menyambut/merayakan Natal dan Tahun Baru itu dengan penuh sukacita (kendati dengan cara yang sederhana).

Kita bisa saling berkunjung, saling menguatkan, saling mendoakan, san lain-lain dalam suasana kebersamaan dan keteduhan hati. Kita ramai-ramau menyambut/merayakan momen tersebut tanpa adanya gangguan kamtibmas atau membuat orang lain tidak nyaman

Selamat menyongsong dan merayakan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Pakatuan wo pakalawiren. (Penulis adalah pemerhati sosial kemasyarakatan)

Pos terkait