Menu

‘Pers yang Dilupakan’

  Dibaca : 834 kali
‘Pers yang Dilupakan’
Greinny Sambur (dok: ibc)

Oleh Greinny Sambur

KEGELISAHAN teman-teman wartawan ini sebenarnya sudah lama ingin ditumpahkan. Saya tahu benar karena juga bagian dari mereka.

Hanya saja tak ada yang mau secara vulgar menumpahkan itu dalam tulisan. Ada perasaaan sungkan, tak ingin dianggap cari perhatian atau menuntut untuk sesuatu yang memang sudah menjadi profesi dan pekerjaan.

Biar saja. Meski sudah megap-megap karena iklan dan income lainnya tak lagi mengucur seperti biasa, kami tetap harus berkelebat lincah mencari informasi yang akurat untuk disajikan ke masyarakat. Keinginan menyuguhkan data valid soal kondisi terkini daerah dan bangsa ini, terlebih soal penanganan dan pencegahan covid-19 itu menjadi semangat kami.

Setiap hari teman-teman reporter melakukan liputan. Menenteng kamera dan perlengkapan lainnya, mereka mengupdate setiap kejadian. Jumlah pasien, kebijakan terbaru pemerintah dan kegiatan sejumlah politisi serta berbagai ormas dalam memutus mata rantai virus korona semua tercover.

Kondisi ini membuat pers juga rentan terkena covid-19. Walau turun menggunakan masker dan hand sanitasires, peluang terjangkit tetap ada. Satu rekan di Tangerang sudah menjadi korban virus yang tengah mengguncang dunia ini.

Namun demikian, semangat kawan-kawan tetap tinggi. Saya yang sudah jarang turun melakukan liputan karena lebih banyak mengedit berita di rumah terharu melihat semangat yang luar biasa tersebut.

Teman-teman sadar benar kalau pers merupakan garda terdepan dalam menyuguhkan semua informasi, termasuk mengedukasi masyarakat. Makanya semangat tak boleh kendor. Semangat itu justru ingin kami tularkan supaya tak mudah menyerah.

Semua harus bersatu, bergandengan tangan dan lebih penting memelihara semangat untuk bangkit.  Mata rantai virus tak berwujud ini harus diputus. Semua punya tanggung-jawab. Pemerintah mengeluarkan kebijakan imbauan dan kebijakan, tokoh agama dan tokoh masyarakat menyampaikan ajakan menaati imbauan pemerintah, tenaga medis merawat ribuan pasien, pakar kesehatan atau ahli berkompeten memberikan edukasi tentang pola hidup yang benar dalam menghindarkan diri dari covid-19.

Baca juga:  Terkait Dugaan Balita Terpapar Corona, Dinkes Sulut: Jangan Cepat Percaya Hoaks

Nah, tugas pers menginput dan mengolah semua itu dalam bentuk berita yang menggugah semangat melawan covid-19. Sementara masyarakat dituntut menaatinya.

Namun, tak banyak yang tahu kalau di balik semangat itu tersimpan kegelisahan. Kegelisahan akibat dampak sosial ekonomi yang membuat pekerja harian atau buruh tak bisa lagi menghidupi keluarganya. Pers itu tergolong buruh.

Apakah cukup hanya keluar melakukan tugas peliputan sementara kondisi income tak lagi mengalir? Tentu tidak. Ia perlu income untuk menghidupi keluarganya. Pers seperti buruh atau pekerja lainnya hanya mengandalkan sumber yang boleh dikatakan tidak menentu.

Jika buruh mendapatkan upah dari keringatnya, pekerja pers memperoleh gaji melalui iklan dan kerja sama dengan pihak swasta atau instansi pemerintah. Semakin banyak iklan dan pihak yang menawarkan kerja sama, kemakmuran pasti lebih terjamin.

Di sini letak permasalahannya. Akibat covid-19, banyak pengiklan dan pihak yang mau bekerja sama mengurungkan niatnya. Pemasukan nol. Otomatis pekerja pers tak mendapat upah. Sebagai tumpuan keluarga, ini menjadi pukulan berat.

Saat tengah menulis topik ini, redaktur salah satu media online di Manado mengaku terpaksa menggadaikan motornya untuk membeli keperluan pokok. Yang lain berusaha mencari pinjamin. Bahkan ada yang sampai membawa sertifikat rumahnya untuk digadaikan sementara.

Duh sampai segininya. Harapan kerja sama dengan instansi pemerintah juga belum berjalan. Jika covid-19 berlangsung berbulan-bulan apa yang harus dilakukan? Pasrah berserah diri tentu bukan langkah yang tepat.

Lantas apa? “Terpaksa jual apa yang bisa dijual. Anak dan istri tak boleh kelaparan,” celetuk salah satu wartawan.

Kondisi ini menjadi perenungan mendalam saya. Perasaan yang terpendam akhirnya terluapkan. Kebetulan juga beberapa teman mengirim pesan yang intinya mewakili mereka menyampaikan kegelisahan bersama pekerja pers.

Ya, harus ada yang bersuara. Kebetulan pula anggota DPD RI dari Sumatera Barat (Sumbar), Emma Yohana sudah menyuarakan apa yang menjadi kegelisahan kami pekerja pers.

Baca juga:  Presiden Jokowi Beli Hasil Karya Anak Bangsa Indonesia, Begini Ceritanya..

Seperti dilansir dari JawaPos.Com, Kamis (2/4/2020), senator tajir itu menyesalkan kebijakan pemerintah yang mengabaikan atau melupakan pers. Dari Rp405,1 triliun, tidak satu poin pun yang mencantumkan bantuan untuk pers.

Padahal pers menurut Emma berperan mengedukasi masyarakat tentang bahaya virus korona. Pers juga selalau melakukan sosialisasi persiapan dan tindakan pemerintah mengatasi pandemi virus korona.

Emma melihat pers sangat terguncang akibat virus ini. Ia tahu banyak pengiklan yang menarik diri karena pandemi virus korona.

Apa yang disuarakannya itu benar. Tanpa iklan dan kerja sama, pers tak akan bisa survive. Tanpa iklan dan kerja sama dengan sejumlah pihak, pekerja pers tak mendapat upah. Tanpa iklan dan kerja sama, kami sulit menghidupi keluarga kami.

Maka itu dia mengkritik kebijakan Presiden Jokowi yang ‘melupakan’ pers. Dalam kondisi ekonomi yang terpuruk seperti ini diperlukan kebijakan pemerintah yang melindungi dan menghidupi semua kalangan, termasuk pekerja pers.

Saya berharap kritikannya itu didengar orang nomor satu Indonesia, Jokowi. Atau paling tidak setelah itu, Jokowi melakukan pertemuan dengan beberapa tokoh pers nasional untuk membahas kegelisahan para pekerja pers Tanah Air. Atau Jokowi bisa menitipkan suara kegelisahan pekerja pers ini kepada gubernur, bupati dan wali kota se-Indonesia.

Pers jangan dilupakan. Kami jangan diabaikan. Meski demikian, kami tak akan memelas. Kecintaan kami terhadap profesi ini, kecintaan kami terhadap negara ini niscaya menghapus kegelisahan ini. Kami akan terus berjuang bersama semua elemen menghentikan peredaran covid-19.

Kelangsungan media dan kehidupan pers ke depan penuh tanda tanya. Tapi satu yang pasti, kami akan memberikan yang terbaik untuk Indonesia. (Penulis adalah Pemred Megamanado.Com)

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Visitor Counter

Pengunjung IndoBrita.co

Today : 1289 Orang

Total Minggu ini : 56873 Orang

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional