Menu

Pendidikan tanpa Sekolah

  Dibaca : 229 kali
Pendidikan tanpa Sekolah
Sovian Lawendatu (ist)

Catatan Budaya tentang DESCHOOLING SOCIETY Ivan Illich

(Oleh Sovian Lawendatu)

FILSUF Ivan Illich memang ‘sexy’ dengan pemikirannya tentang Deschooling Society, yang intinya hendak membebaskan masyarakat (Amerika Latin) dari belenggu sekolah. Maklum, pemikirannya itu amat mengguncang dunia, teristimewa dunia pendidikan yang melembaga melalui sekolah (school).

Dengan pemikirannya yang hendak membebaskan masyarakat dari belenggu sekolah, Illich sesungguhnya memimpikan penyelenggaraan pendidikan tanpa sekolah. Dengan kata lain, ia mengempiskan makna pendidikan formal, yakni pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui jasa profesi guru di sekolah.

Illich tidak asbun. Ia melihat, betapa sekolah telah menjadi agen penindasan manusia, menjadi bagian dari sistem kapitalisme. Alih-alih menjadi agen humanisasi dan pencetak insan cendekia, sekolah, buat Illich, lebih berfungsi sebagai pabrik pencetak tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha (industri kapitalis), sehingga sekolah turut berandil dalam menciptakan pengangguran.

 

Illich sadar bahwa pendidikan tidak identik dengan sekolah. Maka ia ingin membebaskan pendidikan dari formalisme sekolah. Dengan jalan demikian, Illich hendak membebaskan manusia/masyarakat dari proses dehumanisasi ala sistem kapitalisme.

Kritik pedas Illich niscaya menghujam jantung peradaban dan kebudayaan Barat. Mengapa? Sebab sekolah dan sistem kapitalisme merupakan produk kebudayaan Barat (yang materialis dan individualis). Pada gilirannya, Illich dengan ‘projek’ Deschooling Society-nya hendak membebaskan kebudayaan masyarakat Nonbarat dari dominasi kebudayaan Barat.

Baca juga:  Calon Tunggal di Pilkada, Cerminan Parpol Miskin Kader

Pemikiran kritis Illich tadi mengimplikasikan pemahaman bahwa pendidikan seyogianya menjadi tanggung jawab penuh setiap keluarga dalam masyarakat nonkapitalis, di samping mengandalkan peran “jaringan pembelajaran”. Selebihnya, profesi guru berpeluang mengalami swastanisasi (eksis di luar birokrasi pemerintah).

Pertanyaan sekarang: Mampukah keluarga menjalankan tanggung jawab secara penuh di bidang pendidikan (pedagogi)?

Bila pendidikan adalah ‘hanya’ proses internalisasi nilai-nilai etis sosial dan keagamaan, maka penerapan pemikiran Deschooling Society ala Illich agaknya dapat dilakoni secara penuh oleh seluruh atau mayoritas keluarga. Maklumlah, orangtua adalah pendidik (pedagog) pertama bagi anak (pedagogan).

 

Namun, pendidikan bukan sekadar internalisasi nilai-nilai, apalagi jika nilai-nilai itu dibatasi hanya pada norma etika sosial dan agama. Pendidikan adalah juga transfer of knowledge dan pembentukan seperangkat keterampilan atau kecakapan hidup (life-skill’s).

Pendidikan dalam artian ini, pada penyelenggaraannya, membutuhkan kemampuan finansial dan pedagogia yang tinggi. Padahal, kenyataannya, tidak semua keluarga memiliki kemampuan tersebut. Dalam keadaan demikian, pemikiran Deschooling Society dari Illich terasa membersitkan utopianisme.

Baca juga:  Surya Paloh dan Gerakan Politik Tanpa Mahar

Saya tak tahu pasti bagaimana efektivitas penerapan pemikiran Illich itu pada zamannya di Amerika Latin. Saya hanya tahu bahwa dewasa ini, negara-negara Amerika LatinĀ  secara keseluruhan masih menghidupi dan, karenanya, menghidupkan budaya sekolah.

Buat saya, pemikiran Illich akan membumi, apabila penerapannya melibatkan peran pemerintah dan swasta, sebagai pihak-pihak yang berkompeten di bidang finansial dan pedagogia. Andaian ini tentu saja tidak harus berlaku di negara-negara yang menjadi hulu dan akar budaya sekolah dan sistem kapitalisme (negara-negara Barat). Andaian ini taruhlah berlaku di negara kita, Indonesia, yang sistem pendidikannya diboyaki kapitalisme.

 

Itu berarti, bahwa budaya sekolah di Indonesia perlu dilestarikan, tetapi pada saat yang sama sistem pendidikan nasional ditransformasikan sehingga sungguh-sungguh berwatak Pancasilawi. Sebab bukankah Pancasila, yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, sarat nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, sebagaimana yang diperjuangkan oleh Illich?

(Penulis adalah budayawan/kritikus sastra, juga seorang tenaga pengajar)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional