Menu

Bandul Media

  Dibaca : 173 kali
Bandul Media
Emon Kex Mudami

(Sebuah Otokritik)

Celoteh Emon Kex Mudami

 

KETIKA mass media masuk pada era keterbukaan (melting pot), perdebatan tentang keberpihakan –media mainstream- tak pernah usai menjawab secara tuntas perihal kemerdekannya. Secara gamblang memetakan posisi ‘politik’ media, saya menggunakan analog tiga gerak bandul, ke kiri, tengah dan kanan.

Gerak ke kiri lebih mewakili posisi ‘kirian’ atau oposisi terhadap ‘penguasa’, segala sesuatu diberitakan dari perspektif ‘minus’, era pasca reformasi ikut menglihami umumnya posisi media saat itu, kehadiran tabloid oposisi yang sempat popular ikut mencerminkan poros media bandul kiri.

Gerak tengah, merefleksikan posisi ideal sebagaimana syarat hakiki lembaga pers yang diatur UU maupun yang bersemayam di benak public, semaksimal mungkin mengetengahkan elemen-elemen jurnalis yang lazim, misalnya mengutip  prinsip jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001), dalam bukunya The Elements of Journalism, What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (New York: Crown Publishers), merumuskan prinsip-prinsip Elemen Jurnalisme :

1.Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran, 2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga (citizens), 3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi, 4. Jurnalis harus tetap independen dari pihak yang mereka liput, 5. Jurnalis harus melayani sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan, 6. Jurnalisme harus menyediakan forum bagi kritik maupun komentar dari public, 7. Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting itu menarik dan relevan, 8. Jurnalis harus menjaga agar beritanya komprehensif dan proporsional,9. Jurnalis memiliki kewajiban untuk mengikuti suara nurani mereka, 10. Warga juga memiliki hak dan tanggung jawab dalam hal-hal yang terkait dengan berita.

Baca juga:  Restorasi Italia dan Potensi Laten Swedia

Gerak bandul ke kanan, ini gerak atau posisi yang melenceng dari gerak tengah, gerak ke kanan dimaui atau tidak satu dekade terakhir menjadi patron, style pemberitaan bahkan kapirannya lembaga media sekaligus telah bersulih peran menjadi pejubir pemangku kepentingan, alias menjadi humas alternatif. Sebuah transformasi yang tak terelakan ikut dipicu oleh mencairnya segmentasi media, tergerusnya pendapatan dari sisi ekonomi media, memicu turbulensi yang gilirannya menggerus wilayah idealistic media.

Pada konfrontasi ini, fungsi pragmatis media lebih dominan, perlahan bahkan menjadi massif fungsi idealism kehilangan marwahnya. Area yang mestinya dikontrol kini ikut ada bersama dengan yang dikontrol.

Baca juga:  Setelah Gagal Dapatkan Gaji Rp. 1,- Milyaran/Bulan, Kini Minta Dipanggil “Yang Terhormat”

Olehnya saat ini di tengah menjamurnya media online dan juga media offline yang sudah lebih dulu berproduksi, tanpa melihat nama media dengan hanya melihat sekilas judul saja saya bisa menebak 99% benar, posisi bandul media yang bersangkutan berafiliasi ke mana.

Syukur masih ada satu dua yang dengan gigih mempertahankan eksistensinya sehingga tak mudah terlabel sebagai perpanjangan dari sosok atau pemangku kepentingan tertentu. Inilah medan perjuangan dan kanvas pertempuran yang masih akan terus didedahkan oleh stakeholder media.

Saya berharap transisi ini bersifat sementara, ‘mengelastiskan diri’ sebagai bagian strategi dalam kerangka memperkuat tatanan baru, kemudian kembali lagi ke arah bandul tengah. Mungkinkah ?, jaman yang akan menjawabnya.

Di tengah seliweran news saat ini baiknya mari menyelami pernyataan Albert Camus, filsuf asal Perancis, kebebasan pers bisa jadi baik dan buruk, namun tanpa kebebasan, pers akan selalu menjadi buruk”. (Penulis adalah jurnalis senior Sulut/kolumnis tetap indoBRITA)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional