Menu

Corona, Maut dan Kita

  Dibaca : 111 kali
Corona, Maut dan Kita
Sovian Lawendatu (Foto: dok SL)

Oleh Sovian Lawendatu

TAK ada realitas yang paling menakutkan manusia, kecuali maut. Ketakutan akan virus corona, yang kerap irasional itu, merefleksikan ketakutan kita terhadap maut.

Sebetulnya, maut atau kematian sudah hadir dalam kehidupan manusia sejak manusia itu dilahirkan. Maka, maut buat kita adalah realitas yang wajar, bukan sesuatu yang luar biasa.

Kendati demikian, maut tetap saja menjadi momok yang paling menakutkan manusia. Pasalnya, maut menandakan akhir hidup manusia di dunia. Sementara itu, manusia sejujurnya lebih suka hidup lama di dunia. Bahkan, jika mungkin, hidup kekal dalam keadaan sehat wal’afiat.

Faktanya, manusia tidak pernah hidup kekal di dunia. Jangankan kekal, hidup 1.000 tahun saja tak pernah. Penyair Chairil Anwar pun cuma bisa menuliskan keinginannya untuk “hidup seribu tahun lagi”, sebelum kemudian ternyata bahwa maut kelewat pagi menjemput ajalnya. Metusalah, manusia yang hidup terlama di dunia seperti catat Musa dalam kitab Genesis, hanya bisa bertahan hingga usia 969 tahun.

Baca juga:  Eman Pantau Kesiapan Rumah Singgah di Tomohon

Maut atau kematian memang lebih kekal dari manusia. Malah, boleh jadi, ia salah satu yang kekal di antara segala yang kekal.

Soalnya memang jelas, maut lebih kuasa dari manusia. Perjuangan manusia mempertahankan hidupnya menjadi sia-sia belaka jika maut sudah datang mencengkeramkan taring kekuasaannya. Maka, memang wajar, jika maut menjadi momok yang paling menakutkan manusia.

Berkaca pada pengalaman eksistensial manusia sejagat, maut dapat beracara melalui berbagai cara. Salah satunya, yang mungkin paling dominan, adalah melalui sakit penyakit.

Saat ini, dunia dipanikkan dengan keganasan virus corona. Kita pun tak luput dari kepanikan universal itu. Maklumlah, kita masih ingin hidup sehat dan lama di dunia, meskipun tak seperti Chairil Anwar bilang, “ingin hidup seribu tahun lagi”😃

Baca juga:  Sikapi Corona, Gubernur Olly Ajak Masyarakat Doa Bersama

Tapi kepanikan bukan sikap bijak dalam menghadapi rongrongan maut yang taringnya mencengkeram kita lewat kerja si virus corona. Yang dibutuhkan adalah semacam kewaspadaan dan ketenangan.

Kewaspadaan menandakan bahwa kita tak usah mati konyol hanya karena kealpaan dalam menghadapi serangan si virus. Sementara ketenangan menandakan kematangan kita dalam mengarungi hidup yang berjalan di bawah bayang-bayang maut. Ketenangan  niscaya melekat pada kesadaran kita yang punya semacam iman, karena dengan iman, kita diberi pengharapan akan hidup abadi di seberang kematian, yakni ketika misalnya sebentar malam atau besok pagi, tiba-tiba saja raga kita terbujur kaku di dalam peti mati gara-gara serangan maut virus corona.😊😂 (Sovian Lawendatu adalah budayawan, kritikus sastra dan kolumnis tetap indoBRITA)

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional