Menu

Cinta dan Perubahan

  Dibaca : 54 kali
Cinta dan Perubahan
Ilustrasi (ist)

Nodus Tollens – berefleksi bersama Ri

(Oleh : Jeane Anastaya Lumi)

NOTHING endures but change”. Tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri, begitu pesan Heraclitus dari Efesus.

Ri, perubahan yang tiada habisnya sudah dan sementara berlangsung. Hidup memang selalu berubah dari waktu ke waktu. Ada siang dan malam, dingin dan panas, tawa dan tangis, muda dan tua, suka dan duka silih berganti. Tidak ada yang tetap. Air sungai yang mengalir takkan pernah sama.

Saat ini kita sedang menjadi saksi sejarah bagaimana sebuah pandemi virus corona (covid-19) praktis merubah kehidupan bangsa manusia di seluruh dunia. Pandemi ini telah merenggut ratusan ribu nyawa serta nyaris melumpuhkan sektor sektor penting dalam hidup.

Sejak pertengahan Maret 2020 kita memasuki fase baru stay at home, work from home, study from home bahkan pray from home. Sebuah revolusi pun dimulai ketika para pemimpin negara mengumumkan kasus kasus orang terpapar virus corona.

Lalu puluhan, ratusan, bahkan ribuan kematian terjadi di seluruh dunia. Wajah dunia terus berubah. Kita semua terpaksa mematuhi berbagai kebijakan terkait pandemi yang akhirnya menuntut kita untuk beradaptasi dengan opsi opsi baru yang ditawarkan sebagai solusi.

Enggan berubah berarti mati! Aku melihat begitu banyak orang tidak siap dengan situasi ini, Ri. Orang orang stress dan frustasi karena banyak ketidakpastian mengiringi perubahan yang sementara terjadi.

Semuanya memang dapat dimaklumi. Tetapi kita harus berani menempuh resiko terutama untuk memahami bagaimana akhirnya kita harus hidup “berdampingan” dengan sebuah virus mematikan. Perubahan pola hidup pastinya menuntut kesiapan dan ketegaran hati kita.

Ada banyak hal yang akan kita lakukan dengan cara berbeda, dengan cara yang baru. Kau dan aku akan menjaga jarak bila bercakap cakap, kita akan selalu menggunakan masker kemana saja, sebuah protokol kesehatan wajib dipatuhi bila ingin selamat. Kita akan tunduk pada sistematika yang mengatur keberlangsungan semesta.

Baca juga:  DPRD Minsel Tunda Penetapan Perubahan APBD 2019

Ri, generasi sesudah kita akan disebut generasi pasca critical moment, sebuah generasi yang terbentuk setelah melalui sebuah masa krisis yang besar. Sebenarnya bangsa manusia telah teruji melalui berbagai kemelut.

Pandemi Covid-19 bukan satu-satunya peristiwa fenomenal yang pernah ada karena sejarah mencatat berbagai peristiwa besar yang pernah terjadi di abad-abad silam. Tetapi abad 21 masa kita hidup saat ini adalah suatu masa transisi besar menuju dunia yang baru.

Berbagai teori juga rumor tentang sebuah dunia baru tetap saja tidak memuaskan selain kita sendiri yang mesti berpartisipasi dalam perubahan ini. Kita mungkin akan merindukan dunia yang kita kenal sejak kecil, dimana saat kita bebas melihat orang orang tersenyum, bercanda tawa dan berangkulan tanpa ada rasa takut.

Tetapi mau tidak mau kita mesti merelakan dunia lama itu. Semua tak akan pernah sama lagi, bukan? Kita takkan pernah melalui sungai yang sama lagi, kita mesti melepaskannya. Kita harus terus bergerak dan berubah karena jika tidak maka perubahan ini akan “membunuh” kita entah secara fisik, psikis, bahkan spiritual.

Mungkin satu satunya kesempatan bagi kita adalah memutuskan apakah dunia baru nanti akan lebih baik serta lebih menakjubkan dari dunia sebelumnya atau malah lebih buruk? Kita mungkin punya sedikit kekuasaan untuk turut menentukan seperti apa wajah dunia kita nanti.

Lalu Ri, apa senjata kita untuk menghadapi situasi ini? Tidakkah ada sesuatu yang dapat kita agungkan dan banggakan – setidaknya kita miliki yang tidak berubah meski dihujam aneka perubahan? Hanya Cinta. Ya, Cinta yang besar terhadap kehidupan yang akan terus menguatkan dan menjadi cahaya penerang. Aku selalu percaya adagium ini “Amor Vincit Omnia”. Cinta mengalahkan segala sesuatu.

Baca juga:  Tahun Politik, Jadilah Politisi dan Penyelenggara Pemilu yang Negarawan

Dapatkah Cinta mengalahkan perubahan? Aku optimis. Dengan cinta, maka segala perubahan apapun akan mendapat porsi sepantasnya pada diri kita, dan sekali kali tidak akan merenggut apapun dari hakikat dan esensi kita sebagai manusia, bahkan bila kita harus mati sekalipun cinta tidak akan mati.

Perubahan oleh Cinta akan meliputi aspek fisik, emosional, intelektual bahkan spiritual. Cintalah yang akan membantu para pemimpin negara mengambil keputusan serta berbagai kebijakan yang menyelamatkan rakyat dan semua elemen kehidupan.

Cintalah yang akan menguatkan para pejuang garda depan maupun garda belakang mengatasi pandemi ini. Cintalah yang akan meneguhkan setiap perjuangan dan pergumulan yang ditempuh. Cintalah yang akan menyembuhkan setiap orang sakit dan terluka. Cintalah yang akan menghibur orang orang yang mesti kehilangan. Cintalah yang akan mengambil alih ketakutan dan kegelisahan.

Cinta akan berwujud dalam setiap pergerakan dan geliat manusia kini juga nanti. Hanya Cinta yang menghidupkan dan membuat kita bertahan. Bahkan kematian tidak dapat mengalahkan Cinta. Cinta adalah kekuatan yang menyatukan.

Karena dunia diciptakan dengan Cinta, maka hanya Cintalah yang akan bertahan hingga selesai.

Jika demikian kita dapat juga percaya bahwa Amor Mundum Vecit – Cintalah yang menciptakan Dunia. Bila suatu hari nanti tercipta dunia baru pasca pandemi, maka itu haruslah dunia yang tercipta dari Cinta yang begitu besar, yang didalamnya ada pengorbanan yang besar pula.

Ri, Ingatlah kita hanya tinggal punya Cinta  yang tak dapat direnggut oleh pandemi ataupun maut.  (Penulis : Adalah Seniman dan Penyair)

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional