Menu

Gereja-Keluarga: Gereja tanpa Institusi Formal

  Dibaca : 153 kali
Gereja-Keluarga: Gereja tanpa Institusi Formal
Sovian Lawendatu (Foto: dok SL)

Sebuah Wacana Dekonstruktif Menyambut Era Normal Baru

(Oleh Sovian Lawendatu)

GEREJA umumnya didefinisikan sebagai “persekutuan kristen”. Definisi ini ada benarnya, sehingga tidak perlu saya utak-atik.

Yang perlu diutak-atik adalah penjabaran definisi tersebut yang menghasilkan keberadaan gereja sebagai persekutuan yang massif dan formalistik. Jelas, ini lahir dari paradigma teologi/eklesiologi yang bertabiat sentralistik.

Pada zaman para rasul, tidak ada lembaga sinode seperti di Gereja Calvinis. Benar, ketika itu ada semacam persidangan sinode yang dihadiri oleh rasul-rasul dan penatua-penatua (Kis. 15: 6-22). Namun ‘persidangan sinode’ atau ‘sinode’ kala itu tidaklah permanen, tetapi tentatif, bahkan terkesan sporadis belaka. Jadi, sejauh menyangkut kelembagaan sinode, paradigma eklesiologi sentralistik tadi tidak berlaku dalam kehidupan Gereja Purba.

Pada masa tersebut, paradigma eklesiologi sentralistik agaknya berlaku sejauh menyangkut kelembagaan jemaat (kongregasi). Pasalnya, orang-orang percaya atau keluarga-keluarga kristen kala itu hidup sebagai gereja-gereja lokal (kongregasi) mandiri di bawah kepemimpinan para penatua (dan penilikan para rasul Kristus).

Bila demikian, maka penerapan paradigma eklesiologi sentralistik memuncak ketika gereja menjadi gereja-negara atau agama Kristen menjadi agama-negara Romawi Kuno pada abad ke-4 M. Masalahnya dengan penerapan paradigma ini, jemaat bahkan keluarga kristen menjadi subordinat dan objek ‘pekerjaan’ gereja-negara.

Penerapan eklesiologi sentralistik tadi berlanjut hingga era kepausan, bahkan hingga masa sekarang untuk seluruh denominasi gereja, termasuk Gereja Calvinis. Dalam hal ini, sistem organisasi gereja yang ada, entah berbentuk papal/episkopal, entah presbyterial-sinodal, entah kongregasional, entah pun sinodal, semuanya lahir dari paradigma eklesiologi yang sentralistik itu. Maka, semua sistem organisasi gereja tersebut memosisikan keluarga kristen (baca: keluarga-inti) sebagai hanya subordinat dan objek dari lembaga gereja yang massif dan formalistik.

Khusus bagi Gereja-gereja Reformasi, lebih khusus lagi bagi Gereja Calvinis, keberadaannya yang bercorak sentralistik itu menjanjikan ironi. Pasalnya, dalam kerangka proses Reformasi, Calvinisme hanya mampu mendekonstruksi sistem episkopal, tetapi pada saat yang sama, dengan presbyterial-sinodal yang ditawarkannya, ia membangun sebuah sistem organisasi gereja yang juga sentralistik di dalam dirinya. Ini, sekali lagi, dibuktikan dengan penjadian keluarga-keluarga kristen sebagai subordinat dan objek lembaga gereja yang massif dan formalistik.

Kenyataan ini pada gilirannya mengakibatkan kelambanan dalam pertumbuhan dan kedewasaan iman keluarga-keluarga kristen. Dengan kata lain, subordinasi dan objektivisasi itu menciptakan ketergantungan jemaat / keluarga pada ‘pelayanan pelsus.

Baca juga:  Pramugari Berpakaian Bikini Serbu Industri Penerbangan

Ini membersitkan ironi, karena fungsi pelayanan lembaga gereja, sebagaimana disuratkan oleh Rasul Paulus, adalah “memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef. 4:12-13).

Ironi itu kian menyesakkan dada, ketika Gereja Calvinis cenderung kembali ke watak episkopal, dengan cara menjadikan kongregasinya sebagai subordinat sinodenya. Juga menerapkan standar moralisme dalam pemilihan calon pelsus, sekaligus juga memburu harta benda. Kondisi begini mengakibatkan ketidakberdayaan jemaat, bahkan keluarga-keluarga anggotanya.

Ketidakberdayaan itu niscaya terbukti pada masa pandemi covid-19 ini. Pasalnya, keluarga-keluarga anggota Gereja Calvinis pada umumnya tidak mampu melayani Ibadah Keluarga-nya. Di pihak lain, keluarga-keluarga Kristen yang lemah ekonomi dan karenanya terdampak pandemi, menjadi lebih tidak berdaya, akibat tidak adanya pemberdayaan yang dilakukan sebelumnya oleh pihak lembaga gerejanya, apalagi di kutub sinodal.

Sementara itu, masa pandemi ini telah menjungkirbalikkan berbagai tatanan peradaban dunia. Juga ia mengajarkan umat manusia untuk memperbarui paradigma kehidupannya seiring dengan akan datangnya era baru paskapandemi, yakni Era Normal Baru (New Normal Area).

Alhasil, saya menawarkan gagasan, agar Gereja-gereja umumnya dan Gereja Calvinis tidak usah lagi hidup dalam sistem kelembagaannya yang massif dan formalistik, yang nyata dalam bentuk Sinode, Wilayah/Ressort/Klasis, Jemaat (Kongregasi), termasuk Kolom dan Kompelka atau sejenisnya. Adalah lebih bijaksana jika Gereja Calvinis eksis dalam kelembagaan keluarga-keluarga anggotanya.

Dengan begitu, setiap keluarga kristen (yang tadinya merupakan anggota Gereja Calvinis) menjadi gereja-gereja yang mandiri, yang bisa mengelola kehidupan pelayanannya sendiri, atau melaksanakan secara mandiri panggilan tugasnya dalam bersaksi, bersekutu dan melayani. Di titik inilah kita mengartikan eksistensi “Gereja Keluarga”, sebagaimana yang saya tulis di judul postingan.

Tentu saja ada dasar Injili untuk membentuk keluarga-keluarga kristen sebagai gereja-gereja yang mandiri. Berikut ini paparan argumentatifnya.

Mengenai definisi atau hakikat eksistensi Gereja sebagai “persekutuan kristen”, Yesus Kristus, berkata, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). Ucapan Yesus ini pada hakikatnya merekomendasikan batas minimal jumlah anggota gereja. Dengan demikian, keluarga kristen, dengan dua atau tiga orang anggotanya, misalnya, yang berkumpul dalam nama Kristus, merupakan “gereja-terkecil”.

Baca juga:  Kapolres Minsel Hadiri Ibadah Agung HUT PKB Sinode GMIM ke-56 di Ratahan

Walaupun demikian tidak berarti bahwa keluarga kristen sebagai gereja-terkecil harus selalu menjadi subordinat dan objek gereja-(ter)besar, seperti jemaat (kongregasi) dan sinode. Sebaliknya, setiap keluarga kristen bisa menjadi gereja-gereja yang mandiri, karena setiap keluarga itu memang memenuhi kriterium jumlah keanggotaan sebuah gereja, sebagaimana yang ditetapkan oleh Kristus dalam ucapannya tadi. Lagipula, Rasul Petrus mengajarkan prinsip pelayanan gereja yang berpusat pada imamat am orang-orang percaya.

Yesus Kristus juga memerintahkan para rasul-Nya atau gereja-Nya agar mengabarkan Injil dan menjadikan seluruh bangsa murid-Nya. Namun tidak otomatis berarti bahwa setiap bangsa atau suku bangsa mesti diorganisasikan dalam satu gereja. Bagaimanapun juga, amanat agung pekabaran Injil tetap terbuka untuk menjadikan setiap keluarga dalam setiap bangsa/suku bangsa sebagai gereja-gereja yang mandiri dan, karenanya, eksis di luar belenggu lembaga formal gereja sekelas jemaat (kongregasi), sinode, ataupun unit pelayanan di bawahnya : kolom dan kompelka. Maklumlah, bangsa atau suku bangsa merupakan entitas yang minimal terdiri atas keluarga-keluarga.

Akhirnya, meski mungkin terkesan mengada-ada, gagasan tentang ‘Gereja-Keluarga’ dalam postingan ini berpijak juga pada pengalaman nyata banyak keluarga kristen pada masa pandemi ini. Bahwa keluarga-keluarga tersebut merasakan keindahan persekutuan dengan Tuhan ketika menyelenggarakan Ibadah dan Sakramen Perjamuan di tengah-tengah keluarganya.

Tentu saja, bila nanti eksis, Gereja-Keluarga yang mandiri dan banyak jumlahnya itu bisa menggalang persekutuan yang lebih besar, semacam Kolom. Atau, Gereja-Keluarga itu bisa menggunakan jasa pelayanan para pendeta sesuai dengan pilihannya, sehingga tercipta semacam “pendeta keluarga”, dus ini mirip dengan pilihan yang menghasilkan adanya “dokter keluarga”.

Betapapun juga, jika Gereja-Keluarga eksis, fakultas atau sekolah tinggi theologi tidak akan kehilangan peminatnya. Dalam imajinasi saya, justru kehadiran Gereja-Keluarga itu akan mendorong terjadinya profesionalisasi dan kemandirian pendeta, yang selama ini hidup terkungkung di dalam kerangkeng birokrasi lembaga gereja yang massif, formalistik, dan sentralistik. (Penulis adalah budayawan/sastrawan, kolumnis tetap indoBRITA)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional