Menu

Pendidikan Gaya Bank

  Dibaca : 164 kali
Pendidikan Gaya Bank
Sovian Lawendatu (Foto: dok SL)

Oleh Sovian Lawendatu

PAULO Freire, dalam ‘projek’ Filsafat Pendidikan Humanistik-nya, punya banyak contoh perihal sistem pendidikan yang menindas atau sebagai sebentuk kekerasan. Salah satunya ialah sistem pendidikan tradisional.

Filsuf pendidikan berkebangsaan Brazil ini menyebut sistem pendidikan tradisional sebagai PENDIDIKAN GAYA BANK. Di dalam sistem ini guru dipandang memiliki pengetahuan sebagaimana ia memiliki kekayaan pribadi.

Sementara siswa dianggap tidak berpengetahuan sekaligus berkebutuhan untuk menerima pengetahuan. Maka pengajaran/pembelajaran menjadi semata kegiatan mendepositokan pengetahuan dan keterampilan ke dalam diri siswa yang dianggap kosong dan pasif.

Buat Freire, pendidikan gaya bank dengan sadar dijalankan untuk menjinakkan daya kritis manusia (peserta didik) karena penekanannya pada transfer pengetahuan yang sudah ada dengan metode menghafal, mengulang, membuat daftar dan mengganti bagian-bagian informasi yang disimpan atau didepositokan dalam kesadaran siswa sesuai dengan jadwal. Dengan jalan demikian, pendidik  diposisikan/memosisikan diri sebagai kaum paternalis yang memandang siswa sebagai objek kemurahan hati, penerima ‘ketentuan’ (karena pengetahuan dianggap sebagai obat penyembuh kebodohan).

Baca juga:  Bupati Vonnie Panambunan Terima 136 Mahasiswa Unima KKN di Minut

Pendidikan gaya bank, begitu kata Freire, memitoskan kenyataan sebagai usaha untuk menenggelamkan kesadaran kritis dan kreatif siswa. Sistem ini, bagi Freire, merupakan kesalahan, karena selain mempertentangkan guru dengan siswa, juga mempertentangkan dan memisahkan manusia (siswa) dengan dunia.

Gebrakan “MERDEKA BELAJAR” ala Mas Menteri jelas mesti juga dibaca sebagai upaya untuk membebaskan dunia pendidikan nasional dari sistem pendidikan gaya bank itu. Gebrakan ini tentu saja lebih hendak mengobarkan nyala ‘api filosofis’ Kurikulum 2013 (K-13) yang mengedepankan peran aktif dan kreatif siswa dalam proses pembelajaran yang bercorak konstruktivistik saintifik. Apalagi dengan model-model pembelajaran yang bernama Problem Based Learning, Discovery Learning, Inquiry Learning, dan Project Based Learning. (Penulis adalah staf pengajar di SMA, kolumnis tetap indoBRITA)

Baca juga:  Angka Harapan Hidup Warga Sulut di Atas Rata-rata Nasional

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional