Menu

Politik ‘Tipu-tipu’ dan Kiprah Partai Golkar dalam Kebenaran Politik

  Dibaca : 331 kali
Politik ‘Tipu-tipu’ dan Kiprah Partai Golkar dalam Kebenaran Politik
Albert P Nalang (Foto: dok AN)

Oleh : Albert P Nalang

DALAM suatu bentuk, struktur, sistem, institusi, agensi, aksi, kebijakan politik, dan seterusnya, tidak dengan sendirinya membuat politik, yang terlaksana, menjadi baik dan benar. Politik yang didorong oleh daya kreasi negatif, misalnya, hanya akan menciptakan ruang kebenaran yang hampa. Kita melihat bahwa “ruang” itu ada tapi kita tidak akan bisa melihat “kebenaran” di dalamnya.

Kebenaran politik membedakan politik dengan tipu-tipu. Tapi, sebagaimana setiap bidang kehidupan lainnya, politik tidak memproduksi kebenaran. Ia hanya memainkan perannya dalam arus besar kehidupan untuk menciptakan “ruang” bagi kebenaran yang hanya bisa diproduksi oleh kehidupan. Daya kreasi politik yang bersifat negatif akan mematikan daya hidup, melumpuhkan kemampuan hidup untuk, di antaranya, memproduksi kebenaran.

Secara khas, “ruang” bagi kebenaran politik adalah ruang publik. Dengan begitu, politik hanya bisa dijalankan sebagai bagian dari kehidupan bersama. Daya kreasi politik, dalam konteks ini, pertama harus menangguk energinya dari daya hidup bersama dan, selanjutnya, digunakan untuk menjaga daya hidup bersama itu.

Beberapa pihak akan menganggap model ini sebagai ilusi mengenai politik yang baik dan benar yang, menurut mereka, tidak pernah ada dalam kenyataan. Keliru. Politik, pada kenyataannya, selalu berlaku dalam cara ini. Selalu ada “daya kreasi” yang dibutuhkan untuk menjalani proses politik dan selalu ada penciptaan “ruang kebenaran” dalam keputusan-keputusan politik yang diambil. Persoalan bahwa daya kreasi itu berlaku jauh dari kreativitas dan kebenaran dalam ruang politik itu ternyata palsu, adalah persoalan lain lagi

Hal ini dilatarbelakangi dengan kerinduan bagaimana Partai Golkar di Sulawesi Utara ini kembali merebut Kekuasaan bukan untuk kepentingan diri sendiri atau keluarga tetapi untuk Kepentingan kesejahteraan rakyat Sulut termasuk didalamnya Para Kader Golkar.

Yang dibutuhkan Golkar Sulut saat ini adalah  Perhitungan Politik yang matang, Karena Golkar tidak cukup mengusung Gubernurnya sendiri… Golkar Sulut  harus “sadar diri”… Kesadaran diri itu perlu dengan melakukan Koalisi…

Menurut saya ada tiga opsi bentuk koalisi yang bisa Golkar lakukan, yaitu :

  1. Koalisi dengan Partai NASDEM.

Mengapa ? Karena saat ini Infrastruktur NASDEM sangat baik setelah PDIP. Oleh karena itu Golkar harus sadar betul bahwa Pendekatan Perolehan Kursi dapat menjadi bahan Koalisi dengan Nasdem. Artinya, Golkar mau berada di Posisi Wakil Gubernur. Apapun yang terjadi dalam Pemilu Legislatif, Golkar Sulut harus mengakui Keunggulan Partai Nasdem dengan hanya meraih 7 Kursi.

  1. Koalisi dengan Partai lain (Demokrat, PAN Dan Gerindra) dalam Pemenuhan syarat formil dukungan.
Baca juga:  Olly Hadiri Malam Apresiasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah

Dalam hal ini Golkar harus mencari tambahan kursi, minimal 2 kursi agar dapat mengusung sebagai Calon Gubernur. Kursi yang tersisa, ada pada Demokrat, Gerindra, Pan.

  1. Golkar Mendukung atau Berbaur Dengan PDIP.

Jika Partai Golkar Sulut TAKUT Atau RAGU berhadapan dengan Calon PDIP, lebih baik Golkar bergandengan tangan mengusung Calon PDIP dengan Penawaran misalnya diberikan jatah untuk dapat memimpin Kab atau Kota yang lain, contohnya : Golkar dapat merebut Minsel Kembali atau Kota Tomohon.

Jika Opsi ketiga hal tersebut tidak dilakukan… Maka dapat dipastikan Partai Golkar Sulut hanya akan menjadi Penonton dalam Pilkada nanti… Golkar Sulut harus mencari Keseimbangannya sendiri untuk tetap eksis dan dipercaya Rakyat…

Menurut hemat saya sebagai Pecinta Golkar sebagai berikut :

  1. Bahwa semenjak terlepasnya tampuk kekuasaan Partai Golkar di Pemerintahan khususnya di Sulawesi Utara, Pasca Gubernur Drs. A.J Sondakh maka Golkar cukup lama berada di luar kekuasaan. Semangat untuk merebut kekuasaan demi menciptakan kesejahteraan rakyat itulah yang harus dilakukan oleh Partai Golkar.
  2. Tetapi disisi yang lain, semangat itu seakan harus membutuhkan daya ekstra lagi karena ternyata perolehan kursi yang merupakan salah satu syarat mencalonkan sebagai Gubernur, belum cukup 20 Persen. Posisi Golkar hanya berada di posisi ke-4, yaitu 7 Kursi, dibawah PDIP, Demokrat dan Nasdem. UU dan aturan mewajibkan Partai Golkar harus mendapatkan minimal 9 Kursi agar dapat mencalonkan sendiri Gubernurnya.
  3. Dari kedua keadaan diatas, timbul pertanyaan, bagaimana agar Golkar dapat merebut kekuasaan dengan kondisi syarat formal yang belum cukup ? Ada banyak variabel yang dapat di ukur bahkan dapat menjadi bahan debatebel nanti untuk dijadikan Opsi apabila Golkar tetap mempunyai kerinduan masuk dalam Singasana Kekuasaan untuk Kesejahteraan Rakyat Sulut. Salah satu Opsi menurut saya ditunjau dari perolehan kursi adalah Kerelaaan Golkar untuk berada di Posisi sebagai Wakil Gubernur. Entah siapa yang akan direstui para elite Golkar Pusat (DPP PG), apakah Ketuanya yang cantik dan baik hati, Bupati Minahasa Selatan, Ibu. Christiany Eugenia Paruntu (Selanjutnya disebut CEP) Atau Sang Petarung, Mantan Walikota Manado, Mantan Ketua DPD PG SULUT, Bpk. Jimmy Rimba Rogi (Selanjutnya disebut JIMBARO) Atau Sang Pangeran A.J Sondakh, Mantan Bupati Minahasa 2 Periode, Mantan Ketua DPD PG SULUT, Bpk. Stefanus Vreeke Runtu (Selanjutnya disebut SVR) Atau Mantan Bupati 2 periode kab Gorontalo yg pernah di Usung partai Golkar di Pilgub 2015 yang lalu sang Birokrat Brilian,  Hi Drs David Bobihoe. Dan Putra Bolmong, Mantan Anggota DPR RI, Mantan Walikota Kotamobagu, Bpk. Djelantik Mokodompit (Selanjutnya disebut DjM). Keempat orang inilah yang harus diperhitungkan, CEP, JIMBARO, SVR dan DjM.
  4. Pertanyaan selanjutnya adalah Partai mana yang paling siap infrastrukturnya ? Salah satu yang bisa di lirik adalah NASDEM, karena memiliki platform yang hampir sama dengan GOLKAR. Dengan kata lain apapun keadaannya, buktinya NASDEM mampu unggul dari GOLKAR dalam perolehan kursi. NASDEM sendiri memiliki Calon-calon yang punya semangat, dedikasi dan jiwa petarung, sebut saja ada Bpk. Vicky Lumentut, Walikota Manado (Selanjutnya disebut GSVL), Si Cantik dan penuh semangat dari Minahasa Utara, Bupati Minahasa Utara, Ibu. Vonnie Panambunan (Selanjutnya disebut VAP). Dan terakhir Bupati Talaud, Bpk. Elly Lasut (Selanjutnya disebut E2L). Ketiganya adalah Penguasa saat ini di Kota/Kab dan layak baik GSVL, VAP dan E2L.
  5. Jika ke-8 orang ini menyatu maka dampaknya sangat diperhitungkan oleh Sang Penguasa/Petahana. Oleh karena itu maka Perkawinan NASDEM-GOLKAR (In casu Cagub-Cawagub (Terserah figur siapa) sangat menarik untuk dinantikan.
Baca juga:  "Siap Untuk Selamat" , Komando Tanggap Darurat Diuji

6 Duel ini akan semakin menarik disaksikan jika Perkawinan ini segera dilakukan dan diumumkan.

  1. Persoalan siapa yang menang atau siapa yang kalah, tergantung Rakyat untuk memilih dalam Pilkada, 9 Des 2020. Yang menarik Rakyat diberikan menu yang segar, yang diisi dengan kreatifitas dan semangat bertarung dari Nasdem dan Golkar.***

Penulis Adalah Wartawan Politik.

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional