Pengamat Ini Beri Tanggapan Terkait Tema Debat Pilgub Sulut

indoBRITA, Manado – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Utara (Sulut) sukses menyelenggarakan Debat Publik Pertama Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut, dengan mengambil tema utama penanganan Covid-19 dan dampak sosial ekonominya.

Debat yang dilaksanakan, Kamis (5/11/2020) bertempat di Makatete Hills, Warembungan Kabupaten ini Minahasa dilaksanakan dialam terbuka dengan menggunakan prorokol kesehatan. Peserta yang memasuki ruangan dibatasi, diukur suhu tubuh, wajib menggunakan masker dan menjaga jarak.

Pengamat Politik Sulut Ferry Liando memberikan apresiasi pemilihan tema dari KPU Sulut ini.

“Saya perlu mengapresiasi kebijakan KPU yang mengangkat tema penanganan Covid pada debat calon gubernur Sulut. Hal ini sejalan dengan sikap Mendagri dan Pjs Gubernur Agus Fatoni yang selama terus mendorong pemerintah dan masyarakat patuh pada protokol kesehatan,” tuturnya, Jumat (6/11/2020).

Baca juga:  Disukai Karena Merakyat, Eris dan Kombi Siapkan Kemenangan 73 Persen untuk R3D

Liando menyampaikan, faktor utama bisa menjadi daya tarik pemilih pada Pilkada 2020 adalah komitmen calon kepala daerah dalam pencegahan dan penanganan Covid-19. Sebab yang menjadi kebutuhan masyarakat saat ini adalah bagimana mereka tetap aman dan terlindungi dari virus corona serta tidak terdampak secara ekonomi akibat terbatasnya aktivitas masyarakat. “Memang selama ini pemerintah daerah cukup gencar melakukan pencegahan dan itu pula yang menjadi semangat Pak Pjs Gubernur Agus Fatoni sejak dipercayakan memimpin daerah ini. Semoga saja apa yang menjadi semangat pak Agus Fatoni akan dilanjutkan oleh siapa calon yang nantinya akan terpilih,” tambahnya.

Baca juga:  Olly: Survei Internal Tembus 52 Persen, Patokan Target Kemenangan RR-RD Bisa Tercapai

Menurut dia, dalam hasil pengamatan terhadap debat pertama, belum semua pasangan calon memanfaatkan argumentasinya bagaimana mengembangkan inovasi dalam pencegahan. Kebanyakan argumentasi dalam debat hanya mengadopsi apa yang sudah dilakukan pemerintah pusat, seperti pendekatan 3M bagi masyarakat dan pendekatan 3T bagi pemerintah. Harusnya ada pendekatan kebijakakn atau program yang sifatnya kearifan lokal. Perlu inovasi dan pendekatan lain agar kebijakan pemerintah pusat dalam pengananan Covid-19 bisa efektif diterapkan di daerah.(sco/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *