Menu

James Sumendap Sang Gladiator di Panggung Politik

  Dibaca : 80 kali
James Sumendap Sang Gladiator di Panggung Politik

Oleh Greinny Sambur

KISAH heroik seorang mantan jenderal Romawi melawan kesaliman kaisar muda korup menjadikan Gladiator sebagai film terlaris tahun 2000. Film yang dibintangi Russell Crowe itu meraih box office dengan meraup dan 187,7 juta dolar AS di Amerika Serikat dan memperoleh lebih dari 465,3 juta dolar AS di seluruh dunia.

Film sejarah dan kolosal ini menceritakan kehidupan jenderal Maximus (Russel Crowe) yang kuat dan dicintai rakyat. Sang jenderal yang berdedikasi dan sering memenangkan pertempuran itu juga jadi kebanggaan Kaisar Marcus Aurelius (Richard Harris).

Sebelum kematiannya, Kaisar memilih Maximus untuk menjadi pewaris tahta daripada putranya sendiri, Commodus (Joaquin Phoenix). Pilihan ini ditentang Commodus yang kemudian mengakhiri hidup ayahnya. Ia lalu naik tahta.

Commodus lalu mengumumkan diri pada rakyat bahwa ia adalah kaisar baru. Selanjutnya ia menangkap Maximus dan membunuh semua keluarganya.

Usai bebas dan hidup terlunta-tunta, Maximum dipaksa masuk dalam permainan gladiator. Kematangan dan ketenangannya membuat ia menjadi gladiator tak terkalahkan.

Hingga tibalah waktunya menghadapi  Commudus. Disaksikan puluhan ribu pasang mata, jenderal besar itu mengakhiri hidup kaisar berwatak jahat, dengki dan iri hati tersebut.

Commodus terjungkal di tengah amphiteater. Ia tewas dengan belatinya sendiri. Senjata makan tuan. Belati itu milik Commodus yang semula ditusukkan ke arah dada Maximus. Tapi, Maximus yang sarat pengalaman mampu memuntir belati itu ke dada sang kaisar salim. Rakyat ikut bersukacita.

Kisah heroik Jenderal Maximus substansinya melawan kejahatan dan ketidakadilan.  Di era kekinian, kisah ini dilakoni sejumlah tokoh yang ingin hidupnya bermanfaat bagi banyak orang. Salah satu tokoh itu adalah Bupati Minahasa Tenggara (Mitra), James Sumendap (JS).

Sebelum jadi orang nomor satu di Mitra, JS sudah menunjukkan kegigihannya membela kepentingan banyak orang. Ia di garda terdepan memperjuangkan harga cengkih dan koprah. Ia bertarung melawan mafia atau tengkulak yang seenaknya mempermainkan harga cengkih ketika itu.

Baca juga:  Full Support dari Ketua DPRD Sulut, Panpel Legislative Expo 2019 Bersemangat

Aksinya dari aktivis hingga berlanjut ke gedung DPRD Provinsi  (Deprov) Sulut.  Di gedung cengkih, JS sebagai wakil rakyat tampil beda. Ia lantang menyuarakan ketidakadilan dan kritis terhadap berbagai persoalan yang menyusahkan masyarakat.

Suaranya yang lantang, keberaniannya dan kecerdasannya dalam berdebat membuat JS selalu menjadi perhatian di setiap hearing atau rapat paripurna di Deprov Sulut. Mitra kerjanya kerap dibuat tak berkutik karena pertanyaan atau pernyataannya yang  mengacu pada aturan dan fakta di lapangan.

Kalimatnya menohok pejabat atau siapa saja yang bertindak di luar kewajaran dan aturan.  Jangan membayangkan seorang JS akan kompromi terhadap kebijakan yang merugikan masyarakat. Ia seperti singa yang menerkam lawannya.  Bila tak ingin diterkam singa, jangan coba-coba mempermainkan masyarakat. JS tak akan memberi ampun. Ia garang, garang terhadap ketidakadilan yang dialami masyarakat.

Kegarangannya itu tetap ia perlihatkan setelah menjadi Bupati Mitra. Ia tak sungkan menyemprot bawahannya di depan publik jika melihat ketidakbecusan dalam pelayanan kepada masyarakat.  Beberapa pejabat di lingkup Pemerinitah Kabupaten (Pemkab) Mitra sudah merasakan kegarangan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Saya yang masih terbilang baru sebagai juru warta di lingkup Pemkab Mitra pernah menyaksikan bagaimana JS mencecar bawahannya yang tak becus  dalam menjalankan tugas. Ia menghendaki bawahannya cerdas dan cepat dalam bertindak dengan tetap mengedapankan aturan yang berlaku.

Kegarangan JS berbuah baik. Di era kepemimpinannya, Mitra bertumbuh pesat. Jalan diperlebar dan dipercantik, pasar dihadirkan dan ditata dengan apik.  Pembangunan infrastruktur lainnya dikebut. Warga juga makin mudah mendapatkan akses di berbagai  sektor. Mitra melaju dengan cepat. Pertumbuhan ekonominya sangat baik.

Baca juga:  Waspada!!! Kasus Cabul di Sulut Meningkat

JS bekerja dengan penuh kesungguhan. Kebijakannya memihak dan menguntungkan kalangan petani dan kalangan bawah. Di sisi lain ia membuka pintu lebar masuknya investasi ke Mitra. Tentu ada syaratnya, pengusaha yang mau berinvestasi harus taat pada aturan.

Pengusaha yang mengangkangi aturan pasti dilabraknya. Lihat atau baca pemberitaan sejumlah media pekan lalu yang mengurai ketegasan JS terhadap pengusaha atau pemilik lahan di area pertambangan. JS dengan lantang menyatakan akan memenjarakan pengusaha ilegal, termasuk pemilik lahan di area pertambangan.

JS benar-benar sebagai gladiator yang siap membabat pihak yang mau menyengsarakan masyarakat.  Maka tak salah jika publik menyematkan julukan sang gladiator kepadanya.  JS sang gladiator di arena pelayanan publik dan panggung politik.

Russell Cowe sebagai bintang dalam Film Gladiator mendapat penghargaan aktor terbaik di 73rd Academy Awards. Film yang disutradarai Ridley Scott ini juga boleh saja memperoleh banyak awards. Tapi, bagi saya itu tak berarti dibanding kiprah sang gladiator dari Mitra.

Russell Cowe sebagai gladiator atau ahli pedang hanya di dunia khayalan, meski film ini diangkat dari sejarah Kekaisaran Romawi. Gladiator dalam dunia nyata itu benar dan sungguh diperankan Bupati Mitra dua periode. JS dicintai rakyat Mitra karena tindakan dan kebijakannya dalam memajukan daerah yang diapit Minahasa induk dan Bolmong Timur (Boltim) itu.

Kiprahnya dalam pertarungan (baca, pemerintahan ) dan memainkan pedang (baca, aturan) efisien dan tepat sasaran.  Layak jika JS mendapatkan sejumlah penghargaan atas dedikasinya dalam membangun Mitra. Saya berharap JS terus memainkan pedangnya dengan lincah untuk kepentingan banyak orang. Good job sang gladiator.! (Penulis adalah Pemimpin Redaksi Megamanado-EMMC TV)

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional