Bukan Hoax, DAS Ranoyapo ada Buaya dan Berbahaya

  • Whatsapp

indoBRITA, AMURANG – Beberapa hari belakangan ini, masyarakat Amurang dan Minahasa Selatan dihebohkan dengan munculnya seekor hewan mamalia alias buaya di Daerah Aliran Sungai (DAS). Buaya tersebut, berukuran tiga sampai empat meter panjang dan lebar satu meter.

Dari informasi yang dirangkum awak media ini, akibat munculnya buaya tersebut di sungai Ranoyapo membuat warga kaget dan takut. Tak hanya itu, bahkan buaya tersebut terlihat dengan jelas ketika naik diatas air dan berjemur. Warga Buyungon yang melihat langsung mengabadikan dan langsung memposting di media sosial.

”Oh ini bukan hoax lagi. Memang, so sejak lama informasi diatas soal buaya di sungai Ranoyapo. Tapi, ternyata so viral di medsos namun disayangkan tidak ada instansi yang datang melihat atau mencari solusi untuk diamankan hewan berbahaya itu,” ujar Channy Sarajar, salah satu IRT asal Buyungon.

Baca juga:  Ini Arahan Wagub Kandouw buat Nyong Noni Sulut 2019

Menurutnya, DAS Ranoyapo juga menjadi tempat cara nafkah parah penambang pasir atau galian c. Jadi jelas, belakangan ini apabilah air keruh para penambang pasir takut turun ke Kuala.

”Ya, gara-gara so jelas ada buaya di Kuala Ranoyapo. Warga penambang pasir enggan turun ambil pasir. Dari pada jadi korban dimangsa buaya, warga memilih diam dirumah,” katanya.

Senada dikatakan Heisye Keren Mamangkey, IRT asal Buyungon bahwa buaya di Kuala Ranoyapo bukan hoax. ”Tapi, ini nyata dan bahkan dibelakang rumahnya beberapa kali terlihat dengan jelas saat dia naik dan berjemur terik matahari. Ada lagi beberapa lokasi di pinggir DAS Ranoyapo buaya itu naik dan menjadi tontonan warga Buyungon dan sekitarnta,” jelas Heisye.

Baik Sarajar maupun Mamangkey meminta peran pemerintah kelurahan Buyungon bahkan pemkab Minsel untuk tanggap dengan masalah diatas. Jangan diam dengan kasus tersebut, apakah nanti so ada korban baru pemerintah Action.

Baca juga:  Olly Dondokambey Kunjungi Kapal Pembangkit Listrik di Minsel

”Jujur, soal buaya di Kuala Ranoyapo harus segera ditangkap dan dibawah ke tempat penangkar buaya. Biar, tidak ada korban. Memang selama ini, belum ada korban. Olehnya, cari solusi dan tangkap buaya tersebut,”ucap Sarajar dan Mamangkey.

Sementara itu, Kendy Ulaan mengakui kalau dirinya adalah korban dimakan buaya. Pengakuannya, itu terjadi tahun 1990-an di Kuala Ranoyapo. ”Dengan demikian, saya minta pemerintah jangan diam dengan kasus buaya di Kuala Ranoyapo. Ini bukan hoax, ini nyata dan belakangan ini sering muncul dan ditonton ratusan orang di Jembatan Ranoyapo serta di Buyungon dan Rumoong Bawah,” ungkap Ulaan. (andries)

Pos terkait