Dukung Asesmen Nasional, Ini yang Dibuat Dinas Pendidikan Sulut

  • Whatsapp

indoBRITA, Manado – Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Sulawesi Utara (Sulut) mendukung kebijakan pemerintah terkait dengan Asesmen Nasional. Instansi yang dinakhodai Grace Punuh ini langsung melakukan Pelatihan Teknis Proktor Teknisi jenjang Sekolah Dasar (SD) di 15 kabupaten/kota se Sulut tahun 2021.

Pelatihan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat itu dilaksanakan di Hotel Yama Kabupaten Minahasa, Jumat (3/9/2021).

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Pendidikan Daerah Sulut Grace Punuh saat membuka kegiatan tersebut mengatakan Pelatihan Teknis Proktor Teknisi jenjang SD bagian dari evaluasi dalam rangka pengendalian mutu pendidkan secara nasional.

Punuh membeberkan evaluasi hingga kini telah beberapa kali diubah dan disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan pada masanya.

“Perubahan bentuk evaluasi Pendidikan bukan baru kali ini berubah,” tuturnya.

Secara singkat, sejarah perubahan format evaluasi nasional dari masa ke masa. Mulai dari:

• Ujian Penghabisan (1950 – 1964)

• Ujian Negara (1965 – 1971)

• Ujian Sekolah (1972 – 1979)

• Ebtanas dan Ebta (1980 – 2002)

• Ujian Akhir Nasional (2003 – 2004)

• Ujian Nasional (2005 – 2019)

• 2020 UN tidak dilaksanakan

dikarenakan situasi pandemi

• 2021 saat ini diubah menjadi Asesmen Nasional (AN). Moda pelaksanaanya pun berubah mengikuti perkembangan jaman.

Kalau sebelum tahun 2015 pelaksanaan dengan moda Kertas Pensil; mulai tahun 2015 mulai diujicobakan dengan moda Komputer.

Lebih jauh Punuh membeberkan perbedaan antara Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional. Perbedaan pertamanya ada di metode asesmen. Kalau UN diujikan menggunakan fixed test atau satu set soal untuk semua peserta.

“Di AKM, soal yang diujikan disesuaikan dengan kemampuan siswa. Bentuk ujiannya pun berbeda, di AKM, soal yang diujikan tidak hanya pilihan ganda melainkan juga pilihan ganda kompleks (jawaban benar lebih dari satu), isian singkat, sampai dengan soal berbentuk esai,” ungkapnya.

Sementara itu, perbedaannya bisa dilihat dari hal yang diukur.

“Kalau di UN, yang diukur dalam ujian adalah capaian pada kompetensi kurikulum berdasarkan penguasaan materi dalam mata pelajaran. Sedangkan, di Asesmen Nasional, yang diukur adalah kompetensi siswa pada literasi dan numerasi, karakter siswa, dan gambaran lingkungan belajar,” jelas Punuh.

Adapun perbedaannya, sambung Punuh, bisa dilihat dari peserta tes.

“Nah ini yang menarik. Di ujian-ujian akhir sebelumnya, peserta ujian akhir adalah siswa kelas 12 SMA dan 9 SMP. Hal berbeda terjadi di Asesmen Nasional 2021 di mana pesertanya diambil secara acak dari kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA. Jadi, tidak semua siswa akan menjadi peserta nantinya. Kebijakan ini dibuat dengan tujuan supaya siswa yang menjadi peserta Asesmen Nasional 2021 dapat merasakan perbaikan pembelajaran setelah adanya asesmen. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan untuk memberikan gambaran dampak dari proses pembelajaran yang dilakukan di setiap satuan pendidikan,” ungkapnya.

Sementara untuk pelaporan hasil, perbedaan antara UN dengan Asesmen Nasional selanjutnya ada pada pelaporan hasil tes.

“Jika di UN yang menjadi pelaporan hasil tes adalah nilai tiap siswa, nilai agregat tiap sekolah, dan nilai agregat per wilayah, berbeda dengan Asesmen Nasional. Di Asesmen Nasional, yang menjadi pelaporan hasil tes adalah nilai agregat tiap sekolah dan nilai agregat per wilayah,” terang Punuh.

Perbedaan selanjutnya ada pada tujuan tes. Kalau UN, tujuan tesnya adalah pemetaan dan perbaikan pembelajaran. Sedangkan untuk Asesmen Nasional, tujuan tesnya adalah perbaikan pembelajaran serta peningkatan lingkungan belajar yang kondusif.

“Jadi, awalnya kita mengenal evaluasi hasil Pendidikan hanya dengan menguji atau menilai siswa. Di tahun 2021 ini, oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan mengambil kebijakan untuk mengevaluasi hasil Pendidikan bukan hanya pada peserta didik saja, melainkan juga mengikutsertakan tenaga pendidik guru dan kepala sekolah untuk dievaluasi,” tuturnya.

“Dengan perubahan subjek evaluasi maka kebutuhan pelaksanaan evaluasi tidak lagi sekadar menilai kompetensi akademik peserta didik namun lebih difokuskan pada evaluasi secara holistic/menyeluruh untuk mendapatkan peta kondisi Pendidikan pada setiap satuan Pendidikan dan setiap daerah. Dan hasil dari evaluasi ini menjadi database untuk peningkatan mutu Pendidikan ke arah yang lebih baik dan utuh,” pungkasnya.

Punuh pun menambahkan Asesmen Nasional yang kini menjadi program pemerintah dalam rangka peningkatan mutu Pendidikan, dibagi dalam 3 bagian yaitu:

1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). AKM ini dirancang untuk mengukur hasil belajar kognitif (literasi dan numerasi) peserta didik. Ap aitu Literasi dan numerasi? Kemampuan literasi di sini erat kaitannya sama kemampuan kita dalam memahami suatu informasi dari bacaan. Sedangkan untuk numerasi sendiri berkaitan dengan kemampuan mencerna informasi dalam bentuk angka atau kuantitatif.

2. Survei Karakter. Kalau AKM digunakan untuk menguji kemampuan kognitif siswa dalam bidang literasi dan numerasi, survei karakter ini dirancang untuk mengukur capaian belajar siswa dalam bidang sosial emosional berupa pilar karakter dengan tujuan untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila.

Apa saja profil pelajar Pancasila itu?

Ada 6 Profil Pelajar Pancasila.

1. Beriman bertakwa kepada Tuhan YME,

dan berakhlak mulia, 2. Berkebinekaan

Global, 3. Gotong Royong, 4. Mandiri, 5.

  Bernalar Kritis, 6. Kreatif.

3. Survei Lingkungan Belajar

Bagian ketiga atau terakhir adalah survei lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

Jika sebelumnya ujian akhir digunakan untuk menguji hasil belajar siswa sebagai syarat kelulusan, Asesmen Nasional boleh dibilang melakukan pengujian secara lebih luas. Hal ini dilakukan dengan tujuan melakukan pemetaan dasar dari kualitas pendidikan yang nyata ada di lapangan.

Tidak sebatas pemetaan saja. Kemendikbud juga akan membantu sekolah dan dinas pendidikan daerah dengan cara menyediakan laporan hasil asesmen yang berisi penjelasan profil kekuatan dan area perbaikan tiap sekolah dan daerah.

Masih dalam sambutannya, Punuh mengatakan dalam rangka peningkatan mutu melalui Asesmen ini, mengikut perkembangan zaman, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi merancang moda Asesmen berbasis komputer yang kita kenal saat ini dengan ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer). Merupakan suatu hal yang baru khususnya untuk jenjang Pendidikan dasar, tentu saja perlu persiapan yang baik agar program pemerintah ini bisa berjalan dengan baik. Maka Pelatihan Teknis Proktor ini dibuat.

“Selanjutnya dalam melalui Pelatihan Teknis Proktor diharapkan peran aktif semua peserta dalam melatih dan mengembangkan kemampuan teknologi khususnya yang berkaitan dengan Asesmen Nasional Berbasis Komputer ini, agar saat kembali ke sekolah bapak/ibu sekalian dapat menjalankan tugas sebagai tenaga terlatih dan bisa menyukseskan program pemerintah serta memajukan dunia pendidikan di Provinsi Sulawesi Utara,” tukas Punuh.(sco/*)

Baca juga:  Vaksinasi Covid-19 Sudah Dimulai, Gubernur Olly Harapkan Dukungan Masyarakat Sulut

Pos terkait