Menu

Lapor Grace Sarendatu ke Polda, Ternyata Oknum Polisi Diduga Pakai Surat Abal-abal

  Dibaca : 22 kali
Lapor Grace Sarendatu ke Polda, Ternyata Oknum Polisi Diduga Pakai Surat Abal-abal

IndoBRITA, Manado–Laporan Polisi yang dilayangkan oleh oknum perwira Polisi di Kepolisian Daerah (Polda) Sulut berpangkat AKBP RK, kepada saudari Grace Sarendatu nampaknya akan berbuntut panjang.

Pasalnya RK sebagai pelapor telah melaporkan Grace dalam kasus tentang penggelapan hak, membuat surat palsu, dan pemalsuan surat akan mental dengan sendirinya ketika diketahui bahwa RK diduga hanya memegang surat kuasa yang tidak bisa dibuktikan legalitasnya.

Dimana RK dikuasakan oleh pemilik PT Borneo Jaya Emas, yang merupakan Warga Negara Asing (WNA), dengan memegang surat kuasa yang di buat di Amerika Serikat tanpa ada pengesahan atau tidak tercatat di Kementrian Luar Negeri, dan Kementrian Hukum dan Ham.

Maka dengan tidak adanya legalitas dari surat kuasa tersebut maka Pengacara dari Grace Stevi Dacosta SH MH, bakal melaporkan balik pelapor RK.

“Banyak kejanggalan dari bukti laporan, yang dilaporkan oleh pelapor. Dimana surat kuasa dari PT Borneo Jaya Emas, tidak tercatat di Kemenlu dan Kemenkumham, sedangkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 3038 K/Pdt/1981 tanggal 18 September 1986 menyatakan bahwa keabsahan surat kuasa yang dibuat di luar negeri selain harus memenuhi persyaratan formil juga harus dilegalisir lebih dahulu oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (“KBRI”) setempat,” terang Dacosta.

Baca juga:  Pansus Retribusi DPRD Manado Menilai Kabag Hukum Pemkot Tidak Koperatif

Lanjut dikatakan Dacosta bahwa kliennya telah menduduki lahan yang disengketakan RK dengan memegang Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB), sejak tahun 2014.

“Klien kami telah memegang PPJB, dari pembelian tanah sejak tahun 2014. Dan itu merupakan bukti kuat, bahwa tanah yang dibeli oleh klien kami berkekuatan hukum,” tegas Dacosta.

Diketahui bahwa pada tahun 2014 Grace sebagai terlapor, membeli tanah seluas kurang lebih 11 hektar di Desa Ratatotok di pegunungan Alason, pada saudara Boy Taroreh dengan legalitas
Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB).

Ternyata tanpa diketahui oleh terlapor tanah tersebut dijual kembali oleh Boy Taroreh ke PT Borneo Jaya Emas dengan membuat Akte Jual Beli (AJB), yang menurut pelapor dibuat dihadapan Camat setempat. Akan tetapi sampai kasus ini dilaporkan oleh pelapor, belum diketahui siapa yang menandatangani AJB tersebut.

Baca juga:  Danrem 131/Santiago Berikan Surprise Hari Bhayangkara ke-75 di Halaman Mapolda Sulut

Nah, pada tahun 2018 sesudah AJB antara Boy Taroreh dan PT Borneo Jaya Emas terbit, terlapor sempat melakukan pengukuran tanah yang dibeli terlapor dari Boy Taroreh, bersama aparat Pemerintah di Desa Ratatotok tanpa ada masalah.

Namun pada tahun 2020 terlapor kaget, ketika RK sebagai pelapor memberitahukan bahwa, sudah ada tiga AJB antara Boy Taroreh dan PT Borneo Jaya Emas. Dengan pemberitahuan tersebut maka pada tanggal 17 Januari tahun 2021, terlapor mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Tondano, untuk membatalkan tiga AJB dan saat ini masih dalam proses banding.

Merasa keberatan dengan gugatan perdata yang dilayangkan oleh terlapor maka pelapor pun melaporkan terlapor ke Polda Sulut  pada tanggal 26 Agustus 2021 dengan nomor laporan STTLP/B/403/VIII/2021/SPKT/POLDA SULUT.(hng)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional