Menunggu Aksi, Usai Gumam Sang Guru Besar

Catatan Lapangan :
Emon Kex Mudami

TULISAN ini hanyalah refleksi sepintas lapangan, sejenak bermemori dengan sedikit pengalaman manakala pernah terlibat di kerja kepantaian beberapa tahun silam di Lab Morfologi Pantai dan Hydro Oseanografi, Ilmu Kelautan Unsrat.

Catatan ini lebih pada sebuah berkas-berkas ingatan yang subtansinya diinsyafi bukan sok-sokan menandingi ataupun menanggapi uraian seorang profesor sebagaimana yang terbaca di sebuah news online hari ini.
Salut, sosok guru besar terlihat hati-hati menjabar pandangannya, dengan mengatakan perlu ada kajian langsung di lapangan dan tidak gegabah menyebut secara persis anasir pemicu rontoknya sejumlah sarana di tepian bentang pantai Amurang, siang jelang senja tiba di Rabu kemarin.

Meski tak terelakan ia tetap saja menyodor kemungkinan penyebab apata abrasi, gerusan air sungai, atau juga rekahan dasar pantai yang tiba-tiba terjadi karena gempa.
Untung Gubernur Olly Dondokambey tanggap memberi statemen pasca peristiwa kepada sejumlah wartawan pos liputan Pemprov. Menurutnya dibutuhkan penelitian mengkaji fenomena alam apakah yang terjadi dengan energy air laut yang menghisap sejumlah material seperti sekerat roti yang amblas ke dalam sebuah cangkir itu.

Baca juga:  Wabup Lengkong Siap Jadikan Sektor Pertanian Basis Pembangunan Nasional

Memperhatikan observasi awal guru besar, samar dapat saya temui sedikitnya dua faktor besar yang biasanya saling berkelindan, antara murni peristiwa bencana dan faktor X lain yang dengan segala pertimbangan menjaga segala sesuatu, saya tak menyebut lebih detil. Meski dari kaca mata umum tetap dapat tervisual sebagai kemungkinan bias dari tata kelola kawasan sebagaimana umum terjadi.

Olehnya untuk memutus wara-wiri syak wasangka, ada baiknya pihak berkompeten meneruskan apa yang disebut Gubernur OD, agar selain dapat mengurai sebab musabab peristiwa tersebut, juga sekaligus sebagai langkah preventif dan antisipatif untuk mengamankan zona ini dari kemungkinan terjadinya hisapan lanjutan yang lebih merusak dan massif.
Perlu memperhatikan, ada kesesuaian ketika mengindera lembaran peta yang disodor teman Staf Khusus Bidang Optimalisasi Penanggulangan Bencana Herman Makalew yang beredar pagi ini, tentang visual kerentanan zona likuifaksi teluk Amurang yang diterbitkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi, Pusat Air tanah dan Geologi Tata Lingkungan, terbaca ada warning kesegeraan adanya tindakan afirmasi atas peristiwa ini.

Baca juga:  Ratusan anak sekolah terima suntikan Vaksin Covid-19 di Polres Minsel

Tampilan peta secara garis besar menunjukan tiga zona dengan uraian zona merah (tinggi), kuning (sedang), hijau (rendah), terpetakan pada bentang alam Teluk Amurang, termasuk di spot kitaran lokasi jembatan yang runtuh. Petunjuk awal ini, menjadi pintu masuk untuk melakukan telaah dan kajian yang lebih holistic lagi, atau meminjam terminology dosen senior Ilmu Kelautan Unsrat, butuh data dasar yang bersifat lebih mengunsur lagi.(*)

Pos terkait