KPK RI Sambangi Kantor DPRD Sulut

indoBRITA.co, MANADO – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara kembali mendapat kunjungan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bidang Koordinasi dan Supervisi Wilayah IV, Jumat (15/7/2022).

Kunjungan KPK tersebut disambut baik Pimpinan dan Anggota DPRD Sulut.

Bacaan Lainnya

Bertempat di ruang rapat paripurna, ada beberapa pembahasan yang dibahas terkait program pemberantasan korupsi terintegrasi.

Direktur Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ely Kusumastuti meminta anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara untuk membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan antikorupsi.

“Kebijakan dari hulu ke hilir itu harus dibuat dengan transparan, akuntabel, dan tidak memiliki benturan kepentingan dengan pihak manapun. Agar tercipta praktik dan tata kelola pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi,” kata Ely.

Ely menyampaikan bahwa, upaya pemberantasan korupsi tidak bisa dilakukan secara sporadis. Atas dasar itu, KPK melihat peran anggota dewan sangat besar dan perlu dimanfaatkan demi kebaikan masyarakat luas.

“Periode saat ini, anggota dewan akan disibukkan dengan penyusunan anggaran untuk APBD 2023 mendatang. Mulai dari penyusunan, persetujuan, hingga pengesahan, merupakan titik kunci kesejahteraan masyarakat dan harus dilakukan dengan benar,” ujarnya.

Baca juga:  Kegiatan Forum Komunikasi Bapemperda DPRD se-Kabupaten/Kota Sukses Digelar

Dia mengingatkan, pada proses rancangan anggaran perlu memperhatikan kehati-hatian. Sebabnya, jika proses ini salah langkah akan menimbulkan celah tindak pidana korupsi yang bisa dimanfaatkan oleh para oknum.

Tidak hanya itu, demi menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih, KPK membuka diri jika DPRD Sulut ingin meminta bantuan atau pendampingan. Apalagi program koordinasi supervisi KPK fokus dengan pencegahan celah korupsi dalam penganggaran, pengadaan barang dan jasa, perizinan, manajemen ASN, manajemen aset daerah, Optimalisasi Pajak Daerah (OPD), APIP, dan tata kelola dana desa.

“KPK tidak berniat mencari-cari kesalahan. Ketika kami berkoordinasi untuk pencegahan kami tidak ada niat menangkap. Kami justru ingin bersama-sama mengemban amanah membangun Sulut bebas dari korupsi,” pesan Ely.

Sementara itu, Kepala Satuan Tugas Direktorat Koordinasi dan Supervisi Wilayah IV KPK Wahyudi meminta anggota dewan untuk melakukan fungsi pengawasan lebih ketat di wilayah Sulawesi Utara.

Sebabnya, banyak permasalahan tentang aset pemerintah yang kegunaannya tidak bermanfaat bagi masyarakat.

Misalnya, di Kabupaten Minahasa Utara dan Kabupaten Bolaang Mongondow terdapat rumah dinas bupati dan wakil bupati yang sejak dibangun hingga saat ini tidak pernah digunakan.

Hal ini harus menjadi perhatian karena bangunan tersebut dibangun menggunakan uang rakyat yang jumlahnya tidak sedikit.

DPRD, menurut Wahyudi harus melakukan kajian dan meminta keterangan dari berbagai pihak untuk mempertanggungjawabkan tentang aset pemerintah ini. Jangan sampai di kemudian hari penataan aset pemerintah terhambat karena ada gugatan hukum dari pihak yang mengklaim atas keberadaan tanah dan bangunan tersebut.

Baca juga:  Cabuli Anak Dibawah Umur, Lelaki ini Diamankan di Polres Minut

“Ada juga Balai Diklat yang sampai hari ini tidak digunakan. Ini tidak ada manfaat bagi rakyat dan merugikan karena biaya pembangunannya miliaran rupiah,” kata Wahyudi.

KPK juga menyoroti tentang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sulut yang belum optimal. Ia meminta anggota legislatif mendorong target PAD berdasarkan potensi bukan realisasi dari tahun sebelumnya.

“Ada sembilan penerbangan langsung namun ternyata tidak ada peningkatan wisatawan asing secara signifikan. Kami berharap melalui dewan bisa dipastikan target PAD berapa? Harus dibedah PAD dari apa saja? Pajak, berapa hotel, berapa resto, berapa tempat hiburan, dan potensinya berapa,” ujarnya.

Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Utara Fransiscus Andi Silangen menyampaikan terima kasih kepada KPK karena telah memberikan arahan kepada anggota dewan.

Hal ini perlu dijadikan renungan bersama bagi seluruh pihak agar ke depan bisa meakukan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi lebih baik.

“Pesan moral ini harus dikhayati. Hal ini demi terciptanya cita-cita Sulawesi Utara bebas dari korupsi,” tutupnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Wakil Ketua DPRD Victor Mailangkay, James Arthur Kojongian, dan Billy Lombok. Turut hadir pula seluruh Ketua DPRD dan anggota DPRD Kabupaten/Kota se-Sulawesi Utara baik secara luring maupun daring. (Ein/***)

Pos terkait