Warga Pemilik Hewan Peliharaan Anjing Harus Bantu Korban Gigitan

indoBRITA, Amurang – Kasus rabies di Kabupaten Minahasa Selatan sampai akhir Juli 2022 capai 332. Bahkan, tiga diantaranya dilaporkan meninggal dunia. Rabies di Minsel dikategorikan masuk Kasus Luar Biasa (KLB).

Kepala Dinas Kesehatan Minsel dr Erwin Schouten kepada indoBRITA.co diruang kerjanya, Senin (1/8/2022) mengatakan, setiap ada laporan kasus rabies pihaknya mengalami masalah obat. ”Karena memang, pada dasarnya soal obat rabies sangat sulit ditemukan. Bahkan, pemilik hewan peliharaan anjing banyak membiarkan korban. Padahal, penting disini adalah pemilik anjing yang membiayai korban gigitan anjing,” ujar Schouten.

Schouten menjelaskan keinginan masyarakat agar dibentuk atau ditetapkan peraturan daerah (Perda) tentang hewan peliharaan. Asumsi hewan peliharaan bukan hanya anjing, tapi kucing dan monyet masuk didalamnya. Jadi, begitu banyaknya kasus rabies maka diusulkan DPRD Minsel membuat Perda inisiatif agar kasus rabies akan berkurang.

Baca juga:  Dipercayakan Pimpin PUSKUD, Koloay: Optimis akan Bangkit Kembali

”Sulawesi Utara, dari 15 kabupaten/kota baru Minahasa Tenggara (Mitra) yang memiliki Perda. Padahal, sejak lama Minsel dilaporkan banyak kasus rabies. Dengan demikian, DPRD Minsel lebih khusus Komisi II dan Komisi III untuk mengusulkannya,” katanya tegas.

Menurut pejabat yang akrab dengan Pers Minsel, mengingat sekarang kasus rabies di Minsel tinggi. Maka dari itu, usulan warga kiranya diterima para legislatif biar ada perubahan nyata. Dan warga yang memelihara hewan ternak seperti anjing, kucing dan monyet untuk mawas diri jangan sampai ada korban gigitan anjing.

Baca juga:  Bupati Vonnie Panambunan Letakkan Batu Pertama Penanda Pembangunan Embung Dimulai

Lanjut Schouten, masalah penting yaitu obat rabies bisa didapat di apotik. Namun demikian, tidak semua apotik mengaku menjualnya. ”Obat rabies kalau di apotik harganya sampai Rp 1 jutaan. Sedangkan biasanya tersedia di puskesmas. Karena, anjuran pemerintah puskesmas-lah yang menangani kasus rabies. Itu benar, tetapi apabila tidak tersedia obat atau obat rabies habis, maka pemilik hewan yang harus mendapatkannya. Dengan demikian, harapannya usulan dibentuknya Perda tentang hewan peliharaan bisa terealisasi secepat, agar kasus rabies akan berkurang,” ungkapnya. (ape)

Pos terkait