Sudah Ada Beberapa Perusahaan yang Masuk, OD-SK Pacu Investasi di KEK Bitung

indoBRITA, Manado – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung mulai bergeliat. Pasalnya, di area tersebut sudah ada beberapa perusahaan yang masuk menanamkan modalnya.

“Sudah ada delapan tenant. Ada dari dalam negeri dan ada juga dari luar negeri,” ungkap Komisaris PT Membangun Sulut Hebat (MSH), Edison Humiang usai memberi materi pada Rapat Asistensi dalam rangka Peningkatan Daya Saing Wilayah Berbasis Kawasan dan Strategis Nasional, Selasa (23/8/2022) di Hote Quality Manado.

Bacaan Lainnya

Kepada awak media, Humiang menuturkan progres KEK Bitung sudah semakin baik dengan hadirnya delapan tenant.

“Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa KEK Bitung sampai saat ini progresnya sudah baik. Karena ada delapan tenant yang masuk dalam KEK,” ungkapnya.

Perusahaan yang masuk ke KEK Bitung itu, di antaranya PT Futai Sulut, perusahaan ini bergerak di bidang usaha daur ulang plastik dan kertas. Nilai investasinya perusahaan dari China itu diperkirakan sebesar US$100 juta.

Perusahaan yang terbilang masih sedikit itu masuk ke KEK Bitung, kata Humiang, karena dampak dari pandemi Covid-19.

“Sekarang ini yang jadi persoalan adalah ketika selesai pandemi kurang lebih dua tahun, maka kita kehilangan banyak waktu dalam rangka kita memacu KEK menjadi suatu kawasan yang benar sangat diharapkan untuk peningkatan kawasan ekonomi di daerah ini. Karena itu kita lebih membuka peluang lagi agar supaya investor-investor datang menanamkan modalnya di daerah ini,” imbuhnya.

Baca juga:  Usai Pilkada Serentak, Kepala Daerah Diingatkan Tidak Lakukan Mutasi

Lanjut dia, KEK Bitung, harus memperhatikan kesejahteraan rakyat di Sulut. Itu menjadi perhatian dari Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw (OD-SK).

“Kegiatan di KEK hendaknya dititikberatkan bagaimana kita meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terkait dengan itu, KEK harus berjalan paralel dengan international hubport Bitung,” tuturnya.

Kesejahteraan, ujarnya, akan berjalan seiring investasi di KEK Bitung mulai berjalan.

“Ketika pabrik-pabrik sudah dibangun maka kesempatan bagi rakyat untuk menyiapkan bahan baku. Contoh, sudah ada tenant yang membangun industri farmasi. Berarti itu memberikan peluang bagi para petani untuk menyiapkan bahan-bahan bakunya. Sederhana, misalnya lingkuas, kemangi, goraka dan lain-lain. Ini materinya. Nah itu berarti berdampak kepada kehidupan masyarakat,” terangnya.

Kegiatan yang diprakasi Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah ini dibuka oleh Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulut Praseno Hadi.

Praseno Hadi dalam sambutannya pertemuan ini patut diapresiasi. Ini bagian dari visi-misi OD-SK menjadikan Sulut sebagai pintu gerbang Asia Pasifik.

“Strategis meningkatkan daya saing. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi penyokong bagi kita,” ujarnya.

Baca juga:  Dinilai KPK, Pemprov Sulut Terbaik Kedua Nasional

Ia menyebut, letak geografis Provinsi Sulut betul-betul menguntungkan. “Konsekuensinya, konektivitas kita di Sulut harus semakin bagus,” ujarnya.

Sekdaprov Sulut berharap di tahun 2030  mendatang, Kota Bitung sudah menjadi international hub. “Semua ekspor-impor lewat di sini. Menjadi suatu keunggulan strategis bagi kita,” kata dia.

Hadi juga menyentil soal Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung. “Diharapkan KEK Bitung bisa berkembang lebih cepat. Menyusul ada beberapa negara yang berencana mendirikan pabrik di Bitung turunan produk kelapa,” sebutnya.

Dia menambahkan, sudah menjadi tugas bersama semua pemangku kepentingan untuk mengatasi ini. Karena berdampak langsung pada cita-cita menjadikan Sulut ini sebagai pintu gerbang Indonesia untuk Asia-Pasifik.

“Kalau betul-betul bisa efisien lewat perdagangan, lalu lintas orang untuk mendukung pariwisata bisa dibedah menjadi strategi apa yang begitu dibuka, kita sudah siap. Sesuai tema kemerdekaan kita “Pulih Lebih Cepar dan Bangkit Lebih Kuat,” tandasnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Direktur Kawasan Perkotaan dan Batas Negara Dirjen BAK Kemendagri, Komisaris MSH Edison Humiang, Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setdaprov Sulut Weldy Poli, para pejabaf di lingkup Pemprov Sulut dan Akademisi Kewilayahan Unika De La Salle Steven Paila sebagai narasumber.(sco)

Pos terkait