Amurang Bakal Diseminarkan, Matheos: Biar Amurang Disejajarkan Dengan Kota Lain di Indonesia

indoBRITA, Jakarta – Sejarah Kota Amurang sesuai rencana akan diseminarkan. Adalah Ikatan Persaudaraan Keluarga Amurang (IPKA) Jakarta dan Forum Kawanua Minahasa Selatan (ForMinsel) sebagai penggagas seminar. Selain itu, ada juga sponsor lainnya yaitu Yayasan Pengembangan Kebudayaan Minahasa (YPKM) dan DPRD Provinsi Sulawesi Utara.

Ketua Umum IPKA Jakarta Tedy Matheos ketika menghubungi indoBRITA.co belum lama menjelaskan, hingga saat ini Amurang yang juga ibukota Kabupaten Minahasa Selatan tidak memiliki tanggal lahir. ”Oleh sebab itu, IPKA bersama ForMinsel, YPKM dan DPRD Provinsi Sulut menyatakan siap meng-seminar-kan. Jadi, IPKA, ForMinsel dan YPKM seiring berada di Jakarta melakukan pertemuan dalam rangka menetapkan seminar tentang lahirnya Amurang,” ujar Matheos.

Matheos mengatakan, rencana seminar di Amurang sekaligus menentukan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Amurang. Menurutnya, sudah dibuat Draft Term of Reference. Setelah itu, banyak sejarawan dan budayawan ingin berpartisipasi dalam seminar nanti. Hanya saja, belum ada intelektual asal Amurang yang terlibat .

”Amurang, lanjut Matheos adalah kota tua dan unik. Itu memang, bahkan kalau dilihat sejarah Minahasa (Tempo Doeloe), Amurang sudah ada. Dengan demikian, tepat kalau kita seminarkan lagi. Agar jadi diri Amurang akan lebih dikenal luas,” ungkap putra Letter B (Ranoiapo, red).

Dikatakan Matheos lagi, keberadaan Amurang bisa kita lihat dengan hadirnya Benteng Portugis (1512). Benteng Portugis hingga saat ini masih berdiri, walau diakuinya peninggalan benda-benda didalam tidak diketahui siapa yang mengambilnya. Selain itu, Benteng Portugis telah direnovasi. Tetapi, ternyata bentuknya sudah banyak berubah.

Baca juga:  409 Siswa Ikuti Diklat Integrasi Dikmaba TNI AD dan Diktukba Polri T.A. 2021 di Secaba Rindam XIII/Merdeka

”Ya, Benteng Portugis sampai saat ini tidak terawat sebagaimana suatu ‘Heritage’ yang ada di daerah lain. Padahal, Benteng Portugis ini dapat dijadikan suatu ikon Kota Amurang untuk dipasarkan ke mancanegara. Ya, lebih khusus di Portugis dan negara latin dengan bahasa Porto,” jelasnya.

Disebutnya, kalau dilihat di era pasca kemerdekaan. Pelabuhan Amurang menjadi sentra ekspor kopra keluar negeri. Mengingat nama Pusat Koperasi Kopra Daerah Minahasa (PKKDM) menjadikan Amurang sebagai sentra penampungan. Saat itu, kita dapat melihat sampai 30-an kapal asing berlabuh di Tekuk Amurang. Menariknya, crew kapal Greek (Yunani) sudah mengetahui bahwa di Amurang memiliki lapangan sepak bola. Bahkan, banyak club yang datang untuk mengasah kaki mereka.

”Sehingga, didampingi menunggu giliran sekoci-sekoci mengangkut kopra ke Palka yang memakan waktu hingga 1 bulan. Para pe sepak bolaan ikut meninggalkan kostum-kostum yang dibawah langsung dari Eropa.

Sejarah singkat Amurang dan silsilah orang Amurang khususnya dibangun Letter A & B era tahun 1950 – 1970-an. Jadi, orang Amurang juga tidak asing bergaul dengan bule-bule dengan bahasa Greek, Holland dan Inggris. Sudah pasti, perputaran ekonomi di Amurang cukup tumbuh baik sebelum disentralisasi pelabuhan oleh pemerintah Orde Baru ke Jakarta dan Surabaya.

Baca juga:  OD-SK Ikutsertakan Tujuh Inovasi pada KIPP 2022

”Belum lagi, pekerjaan misionaris diawal Portugis masuk ke Amurang sampai terusir ke pedalaman. Karena imbasan dari pertikaian Protestan & Katolik di Eropa. Sehingga muncul Desa Keroit di Motoling juga tak lupa kerja para Zending Protestan. Kemudian persinggungan dengan KNIL serta Filipina dan masih banyak lagi yang bisa diungkap,” tegas Matheos.

Dengan demikian, rencana seminar Kota Amurang yang juga Ibukota Kabupaten Minsel akan lebih dikenal. Ingat, tak hanya Hari Jadi Minsel saja yang kita rayakan, tetapi Amurang yang dikenal sejak 1512 itu.

”Tunggu saja dan kita undang sejarawan Sulawesi Utara untuk dibahas Kota Amurang. Semoga dalam waktu dekat seminar Amurang terlaksana. Tapi, khusus warga Amurang mari dukung rencana seminar ini. Selanjutnya, seminar Amurang bekerja sama dengan ForMinSel – Forum Kawanua Minahasa Selatan dengan Ketua Umum Dr. Rudy Sumampouw dan YPKM – Yayasan Pengembangan Kebudayaan Minahasa dengan Ketua Umum Drs. Berny Tamara serta kerjasama dengan DPRD Provinsi Sulut,” ucap sekretaris jenderal (Sekjen) DPP GPPMP 14 Februari 1946. (ape)

Pos terkait