Lahan Sudah Digunakan, Ahli Waris Sumeisey Belum Dapat Ganti Rugi dari Balai Sungai

Sendy Sumarouw, perwakilan ahli waris keluarga Sumeisey saat meninjau lahan miliknya yang kini sudah masuk area pembangunan Bendungan Kuwil Kawangkoan di Minahasa Utara. (Foto: Kumparan)

indoBRITA, Minut –Ahli waris Sumeisey menyampaikan kekecewaannya karena belum juga mendapatkan pembayaran atau ganti rugi dari Balai Sungai Wilayah Sulawesi 1. Ganti rugi itu terkait lahan seluas 4 hektar milik mereka yang menjadi lokasi pembangunan Bendungan Kuwil di Minahasa Utara (Minut).

“Sudah sejak tahun 2018 kami meminta kejelasan tentang pembayaran ganti rugi. Tapi tak kunjung direalisasikan dan kami seperti di-pimpong oleh orang-orang ini,” kata Sendy Sumarouw, perwakilan ahli waris keluarga, Rabu (28/9/2022).

Menurut Sendy, tanah yang digunakan pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai Sulawesi I ini merupakan tanah warisan dari keluarga Sumeisey. Sejak tahun 2015 pihaknya telah mengurus sejumlah berkas terkait keabsahan tanah mereka, karena masuk di wilayah penggusuran mega proyek nasional itu.

Baca juga:  Sertijab Camat Kema, Richard Dondokambey Siap Berikan Yang Terbaik

Sendy menjelaskan, tanah tersebut sejak tahun 1914 sudah terdaftar di Desa Kolongan, Kecamatan Kalawat, Minut, dengan nomor register 404 folio 97 atas nama Marie Sumeisey. Kemudian di tahun 2015 semua keabsahan tanah seperti surat-suratnya dibuat di Desa Kolongan.

Selanjutnya pada tahun 2018, ahli waris kemudian mengurus proses ganti rugi lahan karena telah digusur untuk proyek pembangunan bendungan. Namun kata dia, uang ganti rugi yang ditaksir mencapai Rp 6,4 miliar hingga saat ini tak kunjung terbayar.

“Kami merasa aneh mengapa ganti rugi tak kunjung dibayar, padahal tanah kami sudah dibongkar dan sudah terpakai. Inilah yang membuat keluarga kecewa dengan pemerintahan,” katanya kembali.

Sementara itu, Kepala Desa Kolongan, Johanis Wangania membenarkan tentang lahan atas nama keluarga Sumeisey yang terdaftar di Desa Kolongan.

Baca juga:  Pilkades Tertunda Tokoh Masyarakat Ajak Jaga Keamanan Desa Tontalete

Dikatakannya, lahan tersebut terdaftar atas nama keluarga Sumeisey dan tidak memiliki sengketa atau masalah dengan pihak lain, karena jika ada peralihan, maka pihak pemerintah desa akan mengetahui dan melakukan pencatatan pada registrasi desa.

“Kalau dari kita, tanah itu tidak ada sengketa. Kalau ada, berarti ada yang beralih tangan. Terkait dengan pembayaran ganti rugi juga tidak ada atau belum dibayarkan untuk tanah tersebut,” ujar Johanis.

Sayang Kepala Balai Sungai Wilayah Sulawesi I, Bastari belum bisa memberikan keterangan soal kekecewaan keluarga ahli waris Sumeisey ini. Media ini sudah mencoba meminta penjelasan melalui layanan whatsapp (WA), tapi sampai berita ini dipublish belum dibaca, (*/adm)

 

Pos terkait