Pimpin Rakor Kesiapan Hadapi Bencana, Wagub Kandouw: Stakeholder Terkait Mantapkan Tupoksi

indoBRITA, Manado – Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Steven Kandouw memimpin langsung Rapat Koordinasi (Rakor) Kesiapan Menghadapi Bencana Alam Hidrometeorologi, Rabu (12/10/2022) di Ruang CJ Rantung Kantor Gubernur Sulut.

Ujar wagub, berbicara bencana seperti kata Srimulat ‘ngeri-ngeri sedap’.

Bacaan Lainnya

“Atas perintah pak gubernur, pertama supaya masyarakat Sulawesi Utara ini aware, waspada. Kita semua pasti sepakat dari segi empiris di Sulut memasuki musim penghujan yang potensi kebencanaannya tinggi,” tutur wagub.

Apalagi, beberapa bulan ke depannya, curah hujan di Sulut mulai mengalami itensitas yang tinggi.

“Di Manado kita pernah banjir besar, tahun 2014 itu tepatnya bulan Januari. 80 persen Manado terdampak,” ungkapnya.

Selain waspada, Wagub Kandouw mengingatkan kepada stakeholder terkait kebencanaan untuk memantapkan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) masing-masing.

Ia mencontohkan untuk ke-PU-an di bidang air, diharapkan menyiapkan kapasitas infrastruktur.

“Tolong diantisipasi dengan baik. Jangan ada yang tersumbat, kalau ada perlu ditambah, (ya) ditambah,” tuturnya.

Baca juga:  Safari Ramadhan di Bolmong Raya, OD-SK Ajak Masyarakat Jaga Kerukunan

Untuk Balai Jalan, ia meminta mengantisipasi jalan yang rawan longsor.

“Kebetulan semua jalan nasional di Sulut rawan,” sambungnya.

Dinas Sosial, kata wagub, harus waspada stok logistik pascabencana. Jangan sampai kurang.

Sementara tugas Dinas Kesehatan harus stand by betul-betul.

“Kita harus iktihar, zero victim agar tak ada korban,” tukasnya.

Usai rapat, Wagub Kandouw kepada wartawan kembali menegaskan tupoksi instansi terkait.

“Seluruh stakholder berkoordiansi untuk mengantisipasi fenomena alam yang tak bisa kita tolak,” akunya.

Ia meminta rapat ini terus dilanjutkan ke tingkat paling bawah.

“Harus dilanjutkan ke tingkat paling bawah kabupaten/kota terutama ke masyarakat bahwa Sulut sesuai laporan BMKG memasuki musim penghujan sampai Februari mendatang. Konsekuensinya curah hujan tinggi, angin kencang dan gelombang tinggi,” tukasnya.

Sebelumnya, dalam penjelasannya dari BMKG,  menginformasikan kepada masyarakat Sulut bahwa musim hujan akan dimulai pada Oktober-November 2022. Menurut BMKG, sesuai data musim hujan akan berlangsung hingga Maret 2023. 

Berikut penjelasan lengkap dari BMKG atau Badan Metereologi, Krimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Sulawesi Utara atau Sulut. 

Pihak BMKG Sulawesi Utara Iryanto Marmin Suwirono menggunakan data rata-rata curah hujan periode tahun 1991-2020 normal terbaru wilayah Sulawesi Utara, terdiri atas 10 ZOM yaitu 3 tipe monsunal, 6 tipe ekuatorial, dan 1 tipe lokal.

Baca juga:  Masalah Ekspor Sulut Dicarikan Solusinya

Musim hujan 2022/2023 di wilayah Sulawesi Utara diprakirakan maju tiga dasarian hingga mundur satu dasarian dibandingkan dengan normalnya.

Prakiraan sifat musim hujannya di wilayah Sulawesi Utara mengalami sebagian besar pada normalnya.

Hanya pada ZOM 497 yang mengalami sifat musim hujan atas normal. Sementara puncak Musim Hujan 2022-2023 di Sulawesi Utara diprediksi akan terjadi pada bulan November 2022 sampai Maret 2023.

Untuk Kota Manado dan sekitarnya puncak musim hujan di prediksi terjadi pada bulan Januari 2023.

Untuk menghadapi kondisi puncak musim hujan perlu di waspadai wilayah yang rentan terhadap bencana yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi antara lain bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat, angin kencang, gelombang tinggi, banjir dan tanah longsor.

Hidrometeorologi adalah cabang ilmu dari meteorologi yang memelajari siklus air, curah hujan, dan berkaitan dengan iklim dan cuaca.

Dengan kata lain, hidrometeorologi mencakup fenomena yang terjadi di atmosfer (meteorologi), air (hidrologi), dan lautan (oseanografi).(sco)

Pos terkait