Sulut Sukses Gelar HAS 2022; Serukan Selalu Mendengar Suara Anak

indoBRITA, Manado – Sulawesi Utara (Sulut) sukses menggelar Hari Anak Sedunia (HAS) 2022. Ini terlihat dari keceriaan anak-anak yang hadir pada acara puncak yang dilaksanakan di Kawasan Pohon Kasih Megamas, Minggu (20/11/2022).

Di mana, pada puncak Hari Anak Sedunia (HAS) 2022 ditampilkan berbagai atraksi dan pertunjukan tari-tarian dari perwakilan delegasi Forum Anak ASEAN dan Forum Anak Daerah (FAD) se-Indonesia.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga hadir langsung dan menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk selalu bersungguh-sungguh mendengarkan suara anak, pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak.

“Dengarkan suara anak, ini merupakan tanggung jawab bersama. Karena anak adalah generasi penerus bangsa yang perlu diperhatikan tumbuh kembangnya,” ungkap Puspayoga.

Dia juga berpesan kepada seluruh anak-anak di Indonesia untuk terus menyuarakan aspirasi dan menebarkan inspirasi.

“Anak-anakku yang Bunda banggakan, merupakan kebahagiaan bagi Bunda, pada hari ini anak-anak dapat menyampaikan suara kalian dengan lantang di depan pemangku kepentingan. Aspirasi kalian sangat berharga bagi kami,” tukasnya.

“Karena kalian, anak-anak, merupakan advokat terbaik bagi kelompok kalian sendiri. Kalian-lah yang paling mengetahui isu-isu anak terpenting yang harus segera diselesaikan dan solusi-solusi atas berbagai permasalahan anak,” ujar Menteri Puspayoga.

Ia juga menyampaikan rasa bangga, karena
peringatan HAS sebagai momen untuk menghormati hak-hak anak di seluruh dunia.

“Di momen penting ini Bunda berharap delegasi anak FAD juga Forum Anak ASEAN dapat terus berkarya menelurkan ide-ide cemerlang untuk menjadi bekal di masa mendatang karena anak-anak di seluruh Indonesia merupakan generasi emas penerus bangsa,” katanya kembali.

Peringatan HAS 2022, ungkap Puspayoga, penting untuk menggugah kepedulian dan partisipasi sesama anak-anak di seluruh komponen bangsa Indonesia. Terutama dalam menjamin pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak dari segala bentuk kekerasan.

Mengusung tema “Inklusi dan Keberagaman”, HAS 2022 tak hanya sekedar merayakan hak-hak anak semata, tetapi menjadikan keberagaman yang merupakan identitas bangsa Indonesia menjadi kekuatan dalam menciptakan inklusi dan partisipasi anak.

Gubernur Olly Dondokambey mengatakan peringatan HAS sebagai pintu masuk yang sarat inspirasi untuk mengadvokasi dan mempromosikan serta merayakan hak-hak anak, untuk berdialog dan melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat membangun dunia menjadi lebih baik bagi anak-anak.

“Hari Anak Sedunia ini, perlu diperingati dan dimaknai setiap tahunnya, untuk memastikan cara pandang kita tetap berada di jalan yang benar dan tepat, dalam memperlakukan anak, terutama dalam urusan menjamin kesehatan dan meningkatkan kebahagiaan anak,” katanya.

“Pastikan setiap anak dapat berkembang dengan baik tanpa adanya eksploitasi, dan mengarahkan anak untuk menunjukkan keahliannya yang berguna bagi masyarakat kelak,” ujarnya.

Gubernur Olly Dondokambey
Pada setiap peringatan HAS, ungkap Olly diharapkan dapat menjadi kesempatan untuk mencari solusi permasalahan yang dihadapi anak.

Menurut Olly, seperti yang dikatakab Executive Director UNICEF, Henrietta Fore, menyatakan bahwa masih ada beberapa masalah utama yang dihadapi oleh anak-anak saat ini dan di masa depan. Antara lain tentang air bersih, iklim bersih, dan udara yang bersih; tentang kesehatan mental dan kemiskinan; serta tentang kekerasan dan konflik.

Baca juga:  Persiapan Rolling; Pejabat Pemprov Sulut Ikut Assesment, Dinilai Lebih Kompetitif

“Dalam konteks ini, selayaknya peringatan Hari Anak Sedunia dapat dimaknai dan dimanfaatkan untuk memperkokoh tekad dan memperkuat komitmen, meningkatkan jalinan sinergitas,” tukasnya.

Dia juga mendorong agar seluruh pemangku kepentingan bersama-sama melanjutkan upaya perlindungan anak dan partisipasi anak untuk dapat menikmati hak-haknya dan boleh menorehkan karya-karya terbaik.

Sejumlah poin penting yang perlu disikapi kata Olly mencakup keserasian, keseragaman langkah, untuk menatap masa depan, yang di dalamnya diiringi dengan tantangan-tantangan.

“Mari kita pastikan setiap anak tetap mendapatkan hak belajar, bermain dan bergembira, serta kita cegah terjadinya perkawinan usia anak. Di samping itu, kita jamin akses layanan kesehatan, terlebih gizi anak untuk mencegah stunting,” tandasnya.

Tak kalah pentingnya, Olly juga mengajak untuk memberikan dukungan dan perlindungan kesehatan mental anak-anak.

“Ini sangat penting untuk mengakhiri kasus pelecehan, kekerasan dan penelantaran terhadap anak. Sambil melakukan upaya strategis lainnya seperti mendukung dan melindungi anak-anak dan keluarganya yang hidup miskin, hidup di tengah konflik, dan dilanda bencana,” tandasnya.

Menteri PPPA bersama Ketua TP PKK Sulut dan Kepala Dinas PPPA Sulut

Gubernur Olly berharap ada peningkatan peran. Baik peran keluarga dalam pengasuhan, serta menurunkan angka pekerja anak yang berimplikasi terhadap tumbuh kembang anak.

“Kita upayakan agar semua anak mendapatkan hak-haknya, memperoleh perlindungan, sehingga tumbuh dan berkembang, menjadi anak-anak yang cerdas, unggul, dan dapat berperan dalam pembangunan bangsa dan negara,” pungkasnya.

Dalam Peringatan HAS 2022, Menteri PPPA meluncurkan program Rumah Ibadah Ramah Anak (RIRA) yang implementasinya akan dilakukan secara bertahap di seluruh Indonesia.

RIRA adalah rumah ibadah dengan sistem pelayanan yang holistik, menjamin pemenuhan hak anak, termasuk melindungi anak dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi, kerentanan, dan diskriminasi dengan melibatkan berbagai pihak dalam lingkup pelaksanaan program dan kegiatan yang responsif anak.

Peringatan HAS 2022 terasa lebih istimewa dengan keterlibatan delegasi Forum Anak ASEAN yang menyuarakan Suara Anak ASEAN yang dirangkum selama Forum Anak ASEAN ke-7 berlangsung. Dua orang perwakilan delegasi anak dari Singapura, Zhuang JunYou dan Indonesia, Alya Alkautsar menyuarakan Suara Anak ASEAN. Adapun Suara Anak ASEAN Tahun 2022, yakni :

1. Menyerukan kepada semua anak untuk bersuara guna meningkatkan kesadaran akan keamanan digital dan membantu masyarakat yang terpinggirkan untuk memiliki akses terhadap literasi digital.
2. Mendorong para orang tua dan wali untuk berkolaborasi dengan guru dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengedukasi anak terkait literasi digital.
3. Mendorong sekolah untuk aktif menerapkan pembelajaran digital dan meningkatkan kapasitas guru.
4. Mendorong masyarakat untuk membantu penggalangan dana dan mempromosikan kampanye terkait literasi digital.
5. Mendorong pemerintah untuk meningkatkan aksesibilitas internet bagi masyarakat di daerah terpencil.
6. Meminta dukungan dari pemerintah untuk memastikan pendidikan dan transformasi digital yang setara.
7. Meminta pemerintah agar lebih banyak membangun mekanisme yang layak untuk mempromosikan partisipasi dan ketahanan digital bagi semua anak agar memungkinkan mereka memainkan peran aktif dalam menjadikan kawasan ini sebagai Episentrum Pertumbuhan.
8. Mengusulkan sekolah untuk mengatur kegiatan dan membuat platform untuk meningkatkan kolaborasi dengan perusahaan digital dan meminta perusahaan digital untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan digital abad ke-21 bagi siswa dan guru.
Menyadari tanggung jawab orang tua dan wali untuk mendukung, membimbing, dan mengawasi anak-anak mereka ketika anak-anak menggunakan internet dan untuk melindungi mereka dari potensi risiko dan bahaya.
9. Meminta pemerintah untuk menyediakan regulasi tentang kurikulum literasi digital di semua jenjang pendidikan terkait penegakan hukum dan perlindungan anak dari segala bentuk eksploitasi dan penyalahgunaan online. Meminta pemerintah untuk membuat hotline yang aman dan dapat diakses untuk melaporkan eksploitasi dan pelecehan online kepada anak-anak.
10. Mendorong pemerintah untuk memberikan peningkatan kapasitas bagi semua aktor dan pemangku kepentingan terkait keamanan digital, dengan tetap memperhatikan keselamatan dan keamanan digital bagi semua anak.
11. Mengusulkan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat untuk menciptakan kemitraan yang lebih strategis dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mengadvokasi, menyebarluaskan, dan mengkampanyekan keselamatan dan keamanan digital untuk semua anak dan untuk menawarkan dukungan bagi korban penyalahgunaan dan eksploitasi online.
12. Mendesak perusahaan swasta untuk memastikan keamanan digital dengan memperkuat sistem perlindungan anak dan mempekerjakan pakar digital dengan memberikan upah dan remunerasi yang layak.
13. Menekankan pentingnya bagi perusahaan untuk mengedukasi pelanggan dengan memberikan informasi yang ramah pengguna dan detail yang memadai terkait keamanan digital mereka.
14. Mendesak orang tua dan wali untuk berkomitmen dalam pengasuhan yang baik dan memperhatikan kebutuhan belajar dan perkembangan anak-anaknya. Selain itu, mengimbau para orang tua untuk memelihara dan menjaga komunikasi dan interaksi yang sehat dengan anak-anaknya, serta mengikuti program pengasuhan digital terkait keamanan dan keselamatan digital.
Serangkaian peringatan HAS 2022 telah dilangsungkan sejak akhir Oktober 2022 dengan berbagai kegiatan seperti webinar dengan tema Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), pencegahan perkawinan anak, dan kesehatan reproduksi, serta penyusunan rencana aksi melalui program Warung Kopi Nusantara oleh anak-anak FAD se-Indonesia di Danau Linow, Tomohon.

Baca juga:  HUT RI di Tengah Pandemi, Digelar Sederhana Namun Penuh Hikmat

Turut hadir memeriahkan rangkaian peringatan HAS 2022 di Manado, perwakilan delegasi anak ASEAN yang berasal dari 8 (delapan) negara ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Tahun ini, Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah perhelatan forum dua tahunan, ASEAN Children’s Forum (ACF) yang ke-7 dengan tema utama “Membangun Ketahanan Digital untuk Anak-Anak ASEAN”, Wakil Gubernur Steven Kandouw, Ketua TP-PKK Sulut Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan dan Kepala Dinas PPPA Sulut Kartika Devi Kandouw Tanos.(advetorial/diskominfosulut)

Pos terkait