Berangkat dengan Modal Rp50 Ribu, Kini Nur Afni Jadi Miliarder dan Pengusaha Sukses di Dubai

Nur Afni di Dubai (Foto: dtc/istimewa)

indoBRITA, Jakarta-Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Soppeng, Sulawesi Selatan ini menjadi contoh bagaimana membangun usaha dan karier di luar negeri.  Berangkat ke Dubai dengan uang Rp50 ribu di dompet, kini wanita bernama Nur Afni Ramang itu punya perusahaan cukup megah di negeri terkaya dunia tersebut. Ia sudah menjadi milyarder.

Bagaimana kisahnya sampai ia bisa mencapai tangga kesuksesan?  “Saya juga tak pernah membayangkan. Saya hanya ingat ketika dulu meninggalkan Soppeng  dengan membawa kantong plastik merah yang isinya dua pasang baju dan uang Rp50 ribu,” ujar wanita yang akrab disapa Nhoora ini seperti dilansir dari detik.

Bacaan Lainnya

Ia meninggalkan Soppeng karena terjerat hutang. Selain itu rumah tangganya yang dibina selama beberapa tahun kandas. Nhoora menikah pada 2002, tetapi kemudian bercerai pada 2008.

“Saya cerai karena (eks suami) suka mabuk, sering begadang, kalau pulang sering marah-marah dan berlaku kasar,” kata ibu dua anak ini.

Nhoora ingin mengubah nasibnya. Dengan tekad yang kuat, ia bertolak ke Jakarta. “Kebetulan di Jakarta ada agen tenaga kerja wanita (TKW). Saya masuk di situ dan dibuatkan paspor,” ujarnya.

Ia bersyukur karena saat itu tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Nhoora berangkat melalui jalur resmi ke Dubai, Uni Emirat Arab.

“Nanti di Dubai ada juga yang jemput, kita langsung diarahkan ke kantor agen TKW dan langsung dibawa ke rumah majikan,” ucapnya.

Baca juga:  Apel Gelar Pasukan, Kapolri dan Panglima Tegaskan TNI-Polri Bersinergi dan Solid Amankan KTT ASEAN

Awalnya ia bekerja sebagai asisten rumah tangga.  Namun tak setelah itu, ia  diterima menjadi sekretaris di perusahaan konsultan penyalur tenaga kerja. Dari sinilah nasib baik Nhoora dimulai.

Setelah tahu soal gambaran perushaan penyalur tenaga kerja, Nhoora pun mendirikan perusahaan sendiri dengan dukungan relasinya, orang Arab di Dubai. “Saya dirikan perusahaan milik sendiri, dan pakai nama orang Arab untuk mengurus izin perusahaan. Memang tidak sembarang orang bisa buat kantor di Dubai,” katanya.

Ia menyebut persyaratan membuat usaha di Dubai sangat ketat. Setiap perusahaan, harus diisi oleh warga negara pribumi, Uni Emirat Arab. Karena itulah ia memperkenalkan namanya kearab-araban, Nur Ani menjadi Nhoora. “Surat izinnya, harus ada orang Arab, yang menjadi atas nama. Sebagai owner, saya yang mengelola sendiri kantor tersebut,” ucapnya.

Akhirnya perusahaannya berdiri kokoh di Dubai dengan nama Alichani Human Resource Consultancy, setelah mendapat izin resmi dari pemerintah Uni Emirat Arab. Perusahaannya bergerak di bidang konsultan. Bisa mengatur sopir, asisten rumah tangga, hingga mengurus panti jompo.

Ia juga mendirikan kantor konsultan khusus mengurus tenaga kerja wanita. “Ya, lebih menantang dengan mendirikan kantor konsultan untuk mengurus tenaga kerja wanita,” ujar Nhoora seperti dilansir dari menitindonesia.

Kini Nhoora mengelola banyak TKW. Tak hanya dari Indonesia, sebagian besar dari Filipina, Sri Lanka, Afrika ,Ethiopia, Pakistan, dan India. Semuanya diatur ke Arab Saudi, Qatar, Oman, hingga Malaysia.

Baca juga:  Gubernur Olly: Mari Sukseskan Konferensi Gereja dan Masyarakat PGI di Sulut

Dengan kemampuan membina jejaring, Nhoora mendapat kepercayaan dari sejumlah pengusaha Arab untuk mengelola  TKW. Tak heran bila perusahaan yang dirintisnya terus berkembang dan maju di Dubai.

“Modalnya percaya diri. Awalnya saya cuman bawa orang Indonesia lima orang. Sedikit sekali. Sekarang, tiap bulan TKW yang diterbangkan 50 orang dari Indonesia,” ucapnya.

Para TKW yang diberangkatkan ke berbagai negara itu dibekali uang. Nomial uang yang diberikan bergantung dengan kesiapan berkas administrasi TKW yang hendak berangkat.

“Kalau administrasinya sudah lengkap seperti KTP, paspor, visa, dibekali uang Rp 15 juta. Kalau yang sama sekali tidak ada administrasinya, dibekali uang Rp5 juta,” bebernya.

Tak hanya itu. Perusahaan Nhoora juga menjaga profesionalisme TKW, terutama memperhatikan kondisi para TKW. Termasuk jika ada komplain terkait waktu dan gaji dari majikannya.

“Kalau ada masalah, saya telepon langsung majikannya. Makanya TKW lebih banyak ke saya. Ini anak-anak yang sudah terbang ke kantor saya cerita ke teman-temannya, bahwa saya mau masuk ke ibu Nhoora sebagai TKW. Nhoora ini nama saya di Dubai, karena mereka susah memanggil Nur atau Ani,” jelas Nhoora.

Sekarang nasib Nhoora menikmati kerja kerasnya. Ia juga sudah mempunya usaha lain yang bergerak di bidang pengiriman ke kayu ke Dubai.Semua hutangnya sudah lunas. Hidupnya sudah bergelimang cuan. Meski begitu, ia tak mau jumawa. Ia tetap rendah hati dan tetap menunjukkan kecintaannya terhadap Soppeng dan Indonesia. (*/suara migran/alex m)

 

Pos terkait